Nikah Siri Yes Atau No?

0
62 views

Ternyata nikah itu dua macam, ya? Ada nikah siri dan ada nikah resmi. Yang kini sedang menjadi kotroversi adalah nikah siri. Istilah nikah siri sendiri belum menjadi frasa resmi bahasa Indonesia. Istilah yang sering dipakai adalah nikah di bawah tangan yang berarti nikah tidak secara resmi atau tidak umum.

Sedangkan istilah siri dalam bahasa Indonesia lebih berarti sistem nilai sosiokultural kepribadian yg merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat dalam masyarakat Bugis. Singkatnya, siri itu berarti malu dalam bahasa Bugis. Kalau dihubungkan secara serampangan kata nikah dengan siri maka bisa saja itu berarti “nikah malu-malu”. Atau jika seandainya siri itu ternyata berasal dari kata bahasa Arab sirri, maka nikah siri adalah “nikah rahasia” karena sirr dalam bahasa Arab berarti rahasia.

“Nikah malu-malu” ataupun “nikah rahasia” sama-sama mengindikasikan adanya sesuatu yang terlindung dari tatapan publik atau paling tidak, publik yang mengetahuinya adalah publik yang sangat terbatas. Di sisi yang berbeda, Rasulullah pernah menekankan pernikahan itu harus diketahui oleh publik. Persoalannya, publik di sini maksudnya publik yang mana?

Secara umum dipahami oleh masyarakat adalah nikah siri itu berarti nikah secara agama (Islam) dan nikah resmi adalah nikah secara negara. Di sini lalu persoalan menggelinding menjadi kontroversi ketika ada niatan negara untuk mengatur pernikahan dan salah satu bentuknya adalah melarang nikah siri.

Mereka yang memahami nikah siri sama dengan nikah secara agama (Islam) tentu akan bereaksi cepat karena itu dianggap sama saja dengan mengharamkan apa yang oleh Allah sendiri dihalalkan. Di sini kemudian mencuat lagi ke permukaan betapa peliknya persoalan keagamaan yang menyentuh wilayah-wilayah privat itu.

Mereka yang merancang RUU itu beranjak dari asumsi adanya penindasan terselubung terhadap perempuan dalam praktik nikah siri yang selama ini sering terjadi dan karena itu, dianggap perlu aturan tentang nikah siri itu. Uniknya—sebagaimana ditayangkan oleh beberapa media, entah benar entah tidak—tampak bahwa mereka yang menolak RUU tersebut justeru mayoritas adalah golongan perempuan.

Berkaca dari penelitian Dale F. Eickelman dan James Piscatori tentang kontroversi pemakaian cadar di Perancis, nikah siri itu sebenarnya bukan tindakan politis. Ia tidak lebih dari persoalan pribadi, tetapi menjadi sedemikan politis ketika ditransformasikan ke dalam sebuah simbol publik. Hubungan dialektik antara individu dan pemerintah memastikan terjadinya hal itu. Nikah siri yang dilakukan dengan berbagai alasan berbeda dengan kemauan “pemerintah” yang bermaksud mengaturnya. Dan ketika pemerintah turun tangan dalam persoalan nikah siri, maka itu semakin memastikan bahwa nikah siri bukan lagi sekadar persoalan pribadi atau sesuatu yang berdiri sendiri.

Ketika itulah sebuah simbol tercipta dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan aspirasi baik kelompok orang-orang yang berpendirian teguh maupun pemerintah yang menentukan sendiri maksud-maksudnya. Kemudian dua pihak bertemu dan berseteru, walau terkesan keduanya tidak sedang mencari jalan keluar pada aras pijakan berfikir yang sama.

Padahal nikah siri itu sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang telah didefenisikan secara doktrinal dalam Islam. Ia lebih merupakan tindakan yang berhubungan dengan gagasan-gagasan yang praktik-praktik tradisional yang dianut secara luas. Yang jelas secara doktrinal itu nikah semata, bukan nikah siri.

Lalu para santri muda itu berteriak: “Prostitusi No, Nikah Siri Yes!” Mereka benar.[]

Bahan Bacaan:

Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Politik Muslim: Wacana Kekuasaan dan Hegemoni dalam Masyarakat Muslim, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1998