Niat dan Pahala

0
8 views

Untuk memahami tingkah laku manusia tidaklah mudah tanpa mengetahui kira-kira apa yang mendorongnya melakukan perbuatan tersebut. Sementara itu, manusia adalah makhluk dinamis, bukan robot yang digerakkan dari luar dirinya, melainkan oleh kekuatan dari dalam dirinya sehingga muncul suatu perbuatan tertentu. Faktor-faktor yang menggerakkan tingkah laku manusia itulah yang disebut niat dalam istilah agama Islam, atau motivasi dalam ilmu jiwa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Niat adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup. Niat melahirkan perilaku dan mengantarkan makhluk hidup pada suatu tujuan atau tujuan-tujuan tertentu. Niat merupakan penyebab yang diduga mendorong suatu tindakan. Niat adalah dorongan dan hasrat untuk bertingkahlaku dalam mencapai tujuan tertentu.

Niat adalah ketetapan hati, keputusan hati untuk memilih suatu rencana tindakan. Niat merupakan suatu keputusan bertindak yang tertanam dalam hati manusia. Ketika niat sudah tertanam kuat maka kegagalan ibarat hanya tindakan yang tertunda. Keputusan hati inilah yang akan membuat manusia bertindak. Sabda Rasulullah Saw. : “Iman adalah apa yang terhujam dalam hati, dinyatakan oleh lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan”.

Bicara masalah niat, kita tentu ingat sebuah hadis Umar: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap masalah hati dan niat, mengapa demikian? Karena hati adalah kunci utama amalan kita, dan niat adalah ruh penggerak jasad kita. Kita hanya akan mendapat pahala ketika kita niatkan amalan itu karena Allah, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Seorang mukmin bisa mendapat pahala dari segala sesuatu (dengan niat yg baik), hingga suapan yang ia masukkan ke mulut istrinya (HR. Ahmad).

Dengan niat yang baik, amalan yang sederhana bisa menghasilkan pahala yang agung. Sebaliknya karena niat yang salah, amalan yang besar sekalipun, bisa jadi hanya seperti debu yang beterbangan. sebagaimana firman Allah swt dalam salah satu ayat-Nya: “(Ingatlah pada hari kiamat nanti) akan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.

Ketika hati memutuskan untuk memilih suatu kebaikan (niat baik), sebenarnya manusia sudah berhasil memenangkan suatu ‘pertarungan’ dalam hatinya. Pantaslah kalau Allah Swt. sudah memberi ‘piala’ dalam bentuk sebuah pahala untuk suatu niat baik walau belum terwujud dalam bentuk tindakan, seperti sabda Rasulullah Saw.: “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Jika hamba-Ku berniat hendak mengerjakan suatu kebaikan, maka Aku menulisnya satu pahala kebaikan baginya walau ia belum mengerjakannya, dan jika ia mengerjakannya maka Aku menulisnya dengan sepuluh pahala kebaikan yang serupa dengannya” (HR Muslim).

Ketika hati memutuskan untuk memilih suatu keburukan (niat buruk) sungguh Allah Swt. Maha Pemaaf sepanjang perbuatan itu belum terwujud, seperti sabda Rasulullah Saw.: “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘ . . . Dan jika hamba-Ku berniat hendak berbuat satu keburukan maka Aku mengampuninya selagi itu belum terjadi, dan jika dikerjakannya maka Aku menulisnya satu dosa yang serupa dengannya. Dan, jika ia tidak jadi mewujudkan niat buruknya, maka aku menulisnya satu pahala kebaikan baginya sepanjang ia meninggalkannya karena Aku” (HR Muslim). Ini berarti, jika niat buruk tersebut tidak jadi diwujudkan, berarti hati telah berhasil memenangkan kembali ‘pertarungan’ antara nafsu dan akal. Karenanya kemudian Allah Swt  menghadiahkan sebuah ‘piala kemenangan’ dalam bentuk pahala, sepanjang kita membatalkannya karena Allah. Namun tidak termasuk dalam kategori ini bila batalnya perwujudan niat buruk tersebut karena alasan selain Allah. Orang yang batal berzina karena mobilnya mogok di jalan berarti telah mengantongi sebuah dosa, sedang orang yang membatalkan zina karena tersadar lalu takut pada Allah justru diberi sebuah pahala.
Inilah salah satu bukti keadilan Allah Swt dalam mengarahkan manusia menuju kebaikan. Hanya kita yang sering kurang memiliki kemauan dan ketelitian untuk merenunginya.

Hati yang benar akan membawa kita memikirkan hal-hal yang benar. Oleh karena itu kita perlu berusaha memiliki hati yang benar. Dan berdoa diberi ketetapan hati pada Sang Penguasa Hati. Hati yang benar mendorong kita memikirkan hal-hal yang benar dan dorongan ini perlu diusahakan oleh kita sendiri melalui usaha nyata. Pikiran bekerja seperti komputer, di mana apa saja yang tersimpan di memori akan tetap ada sebelum digantikan data atau masukan informasi yang baru. Setiap aktivitas yang dilakukan manusia akan meninggalkan bekas pada sel-sel otak. Bekas tersebut akan tetap terekam dalam sel-sel otak dalam bentuk yang hakikatnya tidak dapat diketahui oleh pengetahuan. Bekas-bekas tersebut merupakan fondasi yang mendasari semua proses pemikiran tingkat tinggi manusia seperti belajar, mengingat, berkhayal, dan berfikir.

Bila kita berniat melakukan sesuatu maka otak kita sudah menggambarkannya secara detail dan menyimpannya, sehingga suatu saat akan memicu mentalitas kita untuk mewujudkan kebaikan itu. Oleh karena itu, dalam Islam jika kita berniat melakukan kebaikan meskipun niat itu belum dilaksanakan, kita sudah mendapat pahala. Namun sebaliknya, bila kita berniat melakukan keburukan, niat itu juga digambarkan dengan detail dan tersimpan dengan baik dalam ingatan kita. Dan tentu saja niat akan keburukan sangat rentan untuk terwujud menjadi kenyataan bila mendapatkan stimulus atau rangsangan yang tepat.

Kalau kita ingat beberapa acara televise yang mengekspos peristiwa kejahatan dan kriminal yang sedang ngetren di pertelevisian nasional kita saat ini. Kebanyakan dari penjahat yang tertangkap dan kemudian diintrogasi, akan menjawab tidak berniat melakukan kejahatan itu. Ini menarik, karena mungkin saja mereka tidak berniat melakukan kejahatan pada awalnya tetapi mereka pasti pernah memikirkan atau membayangkan untuk melakukan kejahatan itu sebelumnya.

Oleh karena itu, marilah kita meluruskan niat, menjaga hati dan pikiran kita dari hal-hal yang negatif. Karena, meski belum dinilai dosa, jika sudah terakumulasi suatu saat akan menggunung dan menjadi dorongan kuat untuk merealisasikan niat buruk tersebut. Semoga Allah menetapkan hati kita semua agar selalu berjalan sesuai fitrahnya. Amin. Wallaahu A’lam.