Nasaruddin Sang Legenda

0
184 views

by Abd. Muid N.

Nasaruddin. Bukan nama yang aneh, kan? Kalau bukan Anda yang bernama Nasaruddin, kemungkinan besar ada teman Anda yang bernama itu. Atau temannya teman Anda. Atau temannya teman dari teman Anda. Atau mungkin juga nama itu berubah variasi sedikit sehingga berbunyi “Nasarudin” (tanpa dobel d), “Nazaruddin” (dengan huruf z), “Nazarudin” (tanpa dobel d), “Nashruddin” (dengan sh), dan sebagainya.

Tapi mengapa nama itu begitu penting? Selain karena nama itu sendiri memang penting, pemilik nama itu (atau nama yang mirip dengan nama itu) sedang trend di pertengahan 2011 ini karena sepak terjangnya yang bahkan sampai memusingkan kepala dan hati seorang presiden republik.

Namun sehebat apapun Nashruddin yang satu ini, dia belum menjadi legenda. Berbeda dengan Nashruddin yang satunya lagi. Dia seorang Mullah (guru, guru sufi) dan dia adalah legenda. Rusia pernah membuat film tentang Nashruddin dengan judul The Adventures of Nasrudin. Orang-orang Yunani, yang menerima beberapa hal dari orang Turki, menganggap Nashruddin sebagai bagian dari kebudayaannya. Adapun pemerintah Turki, melalui departemen penerangannya, pernah menerbitkan sebuah kumpulan lelucon metafisis yang dinisbatkan kepada Nashruddin.

Uniknya, meski nama Nashruddin ini melegenda, kata Idries Shah penulis buku The Sufis (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mahkota Sufi), tak ada seorang pun tahu siapa sebenarnya Nashruddin itu, kapan dan di mana ia hidup. Namun menurut Idries Shah, ada yang lebih penting dari sebuah nama dan sosok yaitu sesuatu yang melampaui ruang dan waktu. Adalah pesan dan bukan sosoknya yang penting. Dan memang kisah, cerita, lelucon, anekdot, dan sebagainya tentang Nashruddin ini sangat banyak, hampir menyerupai legenda Abu Nuwas.

Salah satu kisah itu ada yang sangat masyhur yaitu kisah ketika pada suatu kesempatan seorang tetangga Mulla Nashruddin menemukannya tengah berlutut mencari sesuatu.

“Apa yang hilang, Mullah?”
“Kunciku,” jawab Nashruddin.
Setelah beberapa menit mencari, tetangga itu bertanya, “Di mana Anda menjatuhkannya?”
“Di rumah.”
“Demi Allah, lantas mengapa Anda mencarinya di luar?”
“Sebab di sini lebih banyak cahaya.”

Anekdot ini sebuah kritik terhadap orang-orang yang mencari kebenaran, tetapi lebih memperturutkan keinginannya sendiri daripada tujuannya mencari kebenaran tersebut.

Bagaimana dengan “Nashruddin” teman kita? Sama dengan Mullah Nashruddin, sosoknya tidak penting. Buktinya, status tersangka tidak cukup untuk mencegah sosoknya ke luar negeri atau memaksanya pulang ke dalam negeri.[]