Nafs: antara ruhani dan jasadi

0
42 views

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (QS 3:14)

 

Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim”. (QS 2:35).

 

Sejarah kecenderungan hawa nafsu dan godaan syetan pada diri manusia dimulai sejak Adam sebagai ”mbah-nya” semua manusia melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon di surga, wa laa taqrabaa haadzihi syajarah. Hal itu terjadi setelah Hawa diciptakan untuk menemani kesendirian Adam. Sebelum peristiwa ini, istilah Setan belum disebut dalam al-Qur’an, yang ada hanya Iblis. Setelah Iblis menguasai manusia secara ruhani, barulah ada penamaan Setan yang pada dasarnya adalah Iblis. Iblis, semula tidak tahu bagaimana ia dapat menggoda Adam. Namun setelah Hawa diciptakan, Iblis kemudian berspekulasi dengan menggunakan muslihat dengan memanfaatkan minat Adam pada Hawa; pada kecantikan dan kebendaannya.

 

Sebuah pintu terbuka. Itulah pintu nafs yang muncul setelah ruuhullah yang suci ditiupkan ke dalam jasad biologis Adam.

Karena esensi Iblis & Jin dari api, maka ia hanya bisa menyusup ke esensi manusia yang halus yakni nafs yang banyak berurusan dengan badan, kepemilikan, kebodohan, cinta/kebencian, dll. Targetnya menguasai akal manusia (sesuatu yang tidak dimilikinya) dengan menguatkan daya khayal dan angan-angan (ilusi dan delusi) pada materi dan menguatkan rasa takut pada keterbatasan fisik manusia (unsur dasar materinya) seperti kemiskinan, takut tidak mendapat jabatan, dan lain-lain.

 

Dengan membisikkan dan memanfaatkan angan-angan Adam untuk tetap dan kekal menikmati semua fasilitas surga yang sifatnya keduniawian dan materialistik dan melanggar perintah dan larangan Allah yang menyiratkan peribadahan manusia.

Akal dan pikiran adalah potensi strategis manusia yang dinisbahkan oleh Allah swt untuk membedakannya dengan makhluk lainnya. Manusia adalah citra kesempurnaan-Nya, maka dengan akal dan pikirannya, manusia semestinya (bahkan menjadi fitrahnya) untuk mampu mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya. Iblis baru tahu hal ini kemudian manakala Adam menguasai asmaa-kullahaa (QS 2:31-33).

 

Jadi ia harus menguasai akal dan pikiran manusia melalui nafs yang paling rentan, yaitu melalui daya khayal dan angan-angan yang secara inheren sebenarnya ada di dalam setiap manusia. Dengan menguasai potensi khayal dan angan-angan ia berharap lebih jauh lagi untuk berusaha menunggangi pengetahuan manusia. Maka, setiap manusia yang dikuasai nafs ammarah, esensi keapiannya, dilamarnya dengan maskawin kesombongan & ketakaburan (kebodohan) dan iri & dengki (kebencian).

Banyak sekali tipu daya yang dilakukan Iblis yang sudah menanamkan benih-benih setan ke dalam akal pikiran manusia: konsepsi tentang pengetahuan alam semesta disusupi; para penyair ditipu daya dengan olah kata; para pecinta pun disesatkannya, nampaknya daya upayanya tidak pernah berhenti. Bahkan sejatinya tidak akan berhenti sampai akhir zaman seperti sumpahnya dulu. Maka ia pun kemudian menyusup kepada “kemanusiaan”, suatu konsep yang sejatinya ingin mengembalikan manusia ke jalan yang lurus. Namun, karena iblis sudah menguasai akal pikiran, konsep pengetahuan, olah kata dan bahasa, cinta dan birahi, maka ia dengan mudah menggunakan bala tentaranya itu untuk membelokkan konsepsi “kemanusiaan” menjadi konsepsi “ego” dirinya.

Dengan tertawa puas nampaknya ia sudah bisa membelokkan jalan manusia menuju Tuhan. Ia sudah mampu membuat rambu-rambu yang menyesatkan. Tapi, kenapa masih saja ada manusia yang beribadah dan menyembah-Nya. Apa yang salah? Ya, pasti ada yang salah pada sepak terjangnya yang menjerumuskan anak-anak Adam dan Hawa.

 

Itulah qalbu yang ternyata tidak sepenuhnya ia kuasai. Di sana ia tidak mampu menembus sesuatu yang sudah inheren ada pada manusia yakni hati nurani. Tempat  temannya dulu, si malaikat bersemayam disana membisik-bisiki manusia tentang dosa, tentang yang baik dan jahat, tentang kisah Iblis yang durhaka, dan tentang Tuhan yang menghukumnya.

Qolbu adalah jalan masuknya, tetapi ternyata juga benteng terakhir manusia untuk menghanguskannya, melumpuhkannya. Qolbu dengan senjata ampunan dan tobat, ketaqwaan, keimanan, istiqamah, ikhlas, ridha, cinta, tauhid dan yang lainnya ternyata susah sekali ditaklukkan dengan penuh. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Aku-lah (menjaganya).Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (QS 15:41-42)


Namun, untuk bisa menguasai senjata andalan manusia ini, ia harus menguasai konsep pengetahuan manusia. Ia harus menyesatkannya, sesesat-sesatnya, tetapi tidak terlalu mencolok. Maka melalui beberapa keturunannya, Iblis memerintahkan raja-raja, filosof, ilmuwan, seniman, dan anak cucu lainnya yang ateis untuk membuat konsep tentang pengetahuan. Lahirlah kemudian pandangan yang sepintas terlihat benar yaitu konsepsi manusia tentang alam semesta yang dikatakanya : alam semesta adalah kontinuum ruang-waktu, alam semesta adalah materi belaka.

BAGI
Artikel SebelumnyaKebugaran jiwa-8
Artikel BerikutnyaMembumikan Syariat Islam