Muslim Amerika dan Integrasi

0
39 views

Sebuah pertemuan bersejarah pada tahun 2006 di Wina, oleh para pemimpin agama Islam Eropa, para Imam, mendesak masyarakat Muslim Eropa untuk lebih mengintegrasikan dan berpartisipasi secara efektif dalam semua aspek masyarakat Eropa.

Mereka juga mendesak pemerintah Eropa untuk memberikan kesempatan umat Islam untuk menjadi peserta penuh masyarakatnya masing-masing. “Integrasi bukanlah jalan satu arah, tetapi harus dilihat sebagai suatu proses bersama,” kata deklarasi akhir Konferensi Para Imam Eropa yang kedua.

allied-media.comPeserta konferensi juga mengeluarkan kutukan tegas terhadap terorisme dalam segala bentuknya, mendesak para penduduk Muslim untuk belajar bahasa nasional mereka dan mempromosikan pembangunan bersama antar keterampilan. Banyak dari para peserta yang meyakini bahwa konferensi itu merupakan puncak dalam hubungan antara Eropa dan minoritas Muslim.

Selama lebih dari seribu tahun, wacana di Eropa memandang umat Islam sebagai orang luar dan Islam sebagai yang “lain.” Islam dan umat Islam di Eropa dan Amerika tetap tenggelam di dalam asumsi stereotipikal dan orang-orang Eropa serta Amerika sangat buta tentang kepercayaan, sikap dan kebiasaan orang-orang Muslim. Tetapi Islam dan umat Islam tidak lagi dapat dilihat sebagai “orang luar.” Hari ini, Islam adalah bagian integral Barat sebagaimana Judaisme dan agama Kristian.

Komunitas Muslim Amerika telah melihat pertumbuhan luar biasa-satu dari jemaah di pertengahan tahun 1920 menjadi lebih dari 2.000 lembaga organisasi dari segala jenis pada akhir abad ke-20. Semua indikasi tersebut memperlihatkan momentum yang berkembang di kalangan umat Islam dalam hal integrasi ke dalam kehidupan sipil dan politik Amerika.

Mainstream Islam menganggap nilai-nilai inti Amerika harus konsisten dengan normatif Islam. Di antara norma-norma ini yang utama adalah kerja keras, kewirausahaan dan kebebasan; kontrol sipil terhadap militer; institusionalisasi kekuasaan politik yang jelas; proses pengambilan keputusan publik yang tersebar; dan fungsi masyarakat sipil yang memberikan suara untuk kepentingan persaingan.

Masyarakat Muslim Amerika unik dalam keberagamannya. Studi-studi menunjukkan bahwa 36 persen dari muslim Amerika lahir di Amerika Serikat, sedangkan 64 persen dilahirkan di 80 negara yang berbeda di seluruh dunia. Tidak ada negara lain yang seperti ini kekayaan dan keragaman umat Islamnya. Sehingga Muslim Amerika adalah masyarakat dalam bentuk mikro dunia Muslim.

Polling Muslim Amerika oleh MAPS Project menunjukkan bahwa komunitas Muslim Amerika adalah masyarakat yang lebih muda, lebih berpendidikan dan lebih baik secara finansial daripada rata-rata orang Amerika. Lebih dari tiga perempat responden Muslim melaporkan bahwa mereka terlibat dengan organisasi-organisasi untuk membantu masyarakat miskin, orang sakit, tunawisma, atau lanjut usia. Tujuh puluh satu persen terlibat dengan sebuah organisasi keagamaan atau masjid, dan lebih dari dua pertiga terlibat dengan program-program sekolah dan pemuda. Sedikit dari orang-orang yang disurvei juga menyatakan bahwa mereka yang disebut atau ditulis ke media atau ke politikus pada suatu masalah atau telah menandatangani petisi.

Mayoritas Muslim Amerika (58 persen) percaya bahwa organisasi individu, perusahaan atau keagamaan dalam masyarakat mereka mengalami diskriminasi sejak September 11. Mayoritas yang besar (93 persen) menyukai partisipasi dalam proses politik Amerika.

Di samping sikap integratif, bangkit pula sentimen anti-Muslim di Amerika dan menciptakan ketegangan yang cepat menghalangi integrasi Islam. Sebuah jajak pendapat Washington Post menunjukkan 46 persen dari penduduk Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Islam dan umat Islam.

Kaum Muslim telah berada di Amerika selama lebih dari satu abad. Namun mereka tetap kadang mengalami ketidakhadiran dalam banyak wilayah kehidupan masyarakat Amerika. Meskipun telah ada sekitar 2 persen dari populasi keseluruhan, perwakilan Muslim dalam pembuatan kebijakan diabaikan meskipun kebijakan seperti itu secara langsung mempengaruhi umat Islam di Amerika atau di luar negeri. Umat Islam Amerika sebahagian besar absen dari perwakilan utama dalam pembuatan kebijakan lingkungan dari tiga cabang nasional pemerintah Amerika Serikat.

Muslim di Amerika, seperti kawan-kawan mereka di luar negeri, terlibat dengan isu-isu yang berkenaan dengan demokratisasi, kesetaraan gender, hak-hak minoritas, toleransi agama, kebebasan pikiran, dan keadilan sosial.

Normatif Islam memberikan prinsip-prinsip dasar yang dapat merangkul setiap ide dalam cara positif. Bahwa masyarakat Muslim di masa lalu telah menderita karena rasa tidak enak dari dogma yg membabi buta kini telah berubah sebagai bukti dalam penyelidikan kembali yang kritis, yang sering diperbaharui ke pemahaman Islam yang pernah kecocokan dengan ide-pergeseran dari “modernitas.”

Sarjana Eropa Muslim, Tariq Ramadan dalam bukunya Western Muslim: Isolasi atau Integrasi? mencatat bahwa Muslim Barat cenderung untuk memainkan peran dalam menentukan perkembangan Islam di seluruh dunia. Dengan mencerminkan iman mereka, prinsip-prinsip mereka dan identitas mereka dalam industri, masyarakat tersekularisasi, Muslim Barat dapat memimpin umat Islam di seluruh dunia Islam dengan merekonsiliasi hubungan mereka dengan dunia modern.

Oleh: Parvez Ahmed

Sumber: http://islam.about.com/od/currentissues/a/usa_integrate.htm