Musibah

0
50 views

Musibah dalam bahasa arab berasal dari kata shaba yashubu yang artinya turun, kemudian berkembang dari kata shaba menjadi kata ashaba yushibu yang artinya menimpa atau mengenai, sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan “bencana”, “kemalangan”, dan “cobaan”. Musibah pada mulanya berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Sebenarnya sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Hujan bisa menimpa kita dan itu dapat merupakan sesuatu yang baik. Memang, kata musibah konotasinya selalu buruk, tetapi karena boleh jadi apa yang kita anggap buruk itu, sebenarnya baik, maka Alquran menggunakan kata ini untuk sesuatu yang baik dan buruk, sebagaimana firman allah swt,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah[2]: 216)

Al-Quran mengisyaratkan bahwa tidak disentuh seseorang oleh musibah kecuali karena ulahnya sendiri, tetapi disisi lain, ketika al-Quran berbicara tentang bala, dikatakannya musibah itu datang dari Allah swt. Tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah swt ketika kita berbicara tentang bala (yang diartikan juga bencana). Sebenarnya bala pada mulanya berarti “menguji” bisa juga berarti “menampakkan”. Seseorang yang diuji itu dinampakkan kemampuannya.

Itu sebabnya Allah swt. menyatakan:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Allah sw yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk[67]: 2).

Kita lihat ujian/bala datangnya dari Tuhan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Kami pasti akan menguji kamu sampai Kami tahu siapa orang-orang yang berjihad di jalan Allah swt dan bersabar di antara kamu; dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad[47]: 31)

Allah swt menurunkan bala dalam berbagai hal.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Kami pasti menurunkan sedikit rasa takut, sedikit rasa lapar… Berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 155)

Hidup ini ujian. Ujian ini bisa berupa sesuatu yang disenangi, bisa juga berbentuk sesuatu yang tidak disenangi. Siapa yang mengira bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Tuhan maka dia telah keliru. Siapa yang menduga bahwa suatu hal yang terasa negatif adalah tanda benci Tuhan, itupun dia telah keliru. Allah swt mengecam kepada orang-orang yang apabila diberi nikmat oleh Allah swt, lantas berkata, “Saya disenangi Allah swt,” dan kalau Allah swt menguji dia sehingga mempersempit hidupnya, dia lantas berkata, “Allah swt membenci saya, Tuhan menghina saya.” Sebagaimana firman Allah swt,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakannya dan diberinya kesenangan, maka dia berkata: “ Tuhanku telah memuliakanku, adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”

(QS. al-Fajr [89]: 15-16)

Jangan menduga, saudara-saudara kita yang meninggal dan ditimpa musibah itu dibenci Allah swt. Jangan menduga yang menderita itu dimurkai Allah swt. Jangan menduga yang berfoya-berfoya disenangi Allah swt. Kallâ! Tidak! Di sini Allah swt menggunakan kata bala yang artinya menguji, karena itu jangan cepat-cepat berkata bahwa bencana itu murka Allah swt.

Dulu zaman Nabi, banyak sahabat gugur di medan perang, terluka sekian banyak sahabat Nabi, bahkan Nabi pun terluka. Allah swt. pasti tidak benci pada Nabi, sehingga beliau terluka. Allah swt pasti merestui sahabat yang gugur itu, walaupun mereka menderita. Ketika itu turun ayat:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Jangan merasa rendah hati, jangan merasa terhina, jangan larut dalam kesedihan. Kamu adalah orang-orang yang mendapat kedudukan yang tinggi selama kamu beriman.”

(QS. Ali Imran 3:139)

Kita bisa berkata bahwa yang gugur mendapatkan bencana ini, disiapkan oleh Allah swt tempat yang tinggi, karena mereka adalah orang-orang mukmin. Dan tujuan Allah swt turunkan bencana ini adalah supaya Allah swt mengetahui siapa orang yang benar-benar beriman dan yang tidak. Karena itu jangan menggerutu, karena Allah swt memberikan tempat yang sebaik-baiknya. Allah swt. berfirman bahwa Dia juga akan membersihkan hati kamu dan menghapus dosa-dosa kamu. Agama mengingatkan kita semua bahwa Allah swt punya tujuan.

Dalam hidup ini, Allah swt menciptakan manusia untuk tujuan tertentu. Dalam sebuah hadis, Allah swt menciptakan makhluk yang ditugaskannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya yang lain. Ada orang kaya yang diberi kekayaan, yang sebenarnya dipilih Allah swt agar orang itu memberi bantuan kepada orang yang butuh. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dipilih Allah swt itu. Ada lagi orang yang diciptakan Allah swt untuk menjadi “alat” Tuhan untuk mengingatkan orang lain. Para syuhada ini adalah alat-alat yang dipilih Allah swt. Itu sebabnya kita baca di dalam al-Quran ada istilah ‘ibâdullâh mukhlashîn atau hamba-hamba Allah swt yang dipilih.

Sekarang ini banyak orang yang lengah dan lupa kepada Allah swt. Memang rutinitas sering menjadikan kita lupa kepada Allah swt. Karena itu kita perlu diingatkan. Ada orang-orang yang tidak menyadari adanya Allah swt karena melihat segala sesuatu berjalan harmonis. Allah swt ingin mengingatkan orang-orang tersebut, bahwa jangan menduga Allah swt telah lepas tangan. Diingatkannya manusia melalui bencana. Kalau dulu sekian banyak orang yang lupa Allah swt, sekarang Dia mengingatkan kita melalui rahmat-Nya.

Itu sebabnya di dalam al-Quran, disebutkan:

أَوَلا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لا يَتُوبُونَ وَلا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pengajaran?”

(QS. At-Taubah[9]: 126).

Jadi sekali lagi, saya tidak melihat ini sebagai murka Allah swt. Ini rahmat-Nya kepada kita yang hidup, supaya kita ingat kepada Allah swt, supaya lebih dalam lagi solidaritas kita, supaya kita lebih dekat lagi kita kepada Allah swt, supaya lebih terasa lagi kehadiran Allah swt. Dan yang gugur, yang luka, yang menderita itu dijadikan oleh Allah swt sebagai alat-alat-Nya untuk mengingatkan kita, itulah mereka yang dinamai dengan ‘ibâdullâh mukhlashîn atau hamba-hamba Allah swt yang terpilih.

Dia pilih orang-orang yang gugur, Dia pilih anak-anak, Dia pilih orang-orang tua, untuk Dia jadikan syuhada; Dia jadikan saksi-saksi, Dia jadikan alat-alat-Nya. Untuk siapa? Untuk kita yang hidup. Allah swt tidak menyia-nyiakan mereka. Di dalam hadis, Allah swt katakan,

 “Seandainya bukan karena anak-anak yang masih menyusu, seandainya bukan karena orang tua yang sedang bungkuk, seandainya bukan karena binatang-binatang, niscaya Allah akan menjatuhkan siksa kepada kamu, siksaan yang luar biasa.”

Tapi mengapa yang diambil oleh-Nya disana anak-anak, orang tua, binatang? Itu yang menjadikan kita bersangka baik kepada Allah dan menyatakan bahwa ini bukan murka, ini hanya peringatan. Kita terima itu. Peringatan untuk kita yang hidup. Kita tidak perlu larut dalam kesedihan, tetapi kita perlu mengambil pelajaran.

Salah satu pelajaran adalah kita lihat di televisi, kita lihat badan-badan mereka, rupanya begitulah juga badan kita. Jangan terlalu memberi perhatian kepada badan dengan melupakan ruh. Itu pelajaran yang dapat kita angkat. Jangan menilai orang dari penampilannya. Lihatlah itu semua, dan ingat dalam al-Qur’an; Allah swt berulang-ulang dalam firman-Nya,

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ{97} أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ {98} أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ {99}

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur?Apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah swt(yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah swt kecuali orang-orang yang merugi. (QS. al-A’râf [7]: 98).

Ini yang kita lihat. Sebenarnya tujuannya adalah untuk kita. Allah swt merahmati kita dengan memberi peringatan.

Ketika Ali bin Abi Thalib ditikam, beliau berteriak: “Demi Tuhan Kabah, saya telah memperoleh keberuntungan.” Beruntung karena mati. Allah swt mengangkat derajat beliau. Allah swt mendudukkan pada kedudukan yang demikian tinggi karena mati syahid. Nah, kalau kita membaca ayat di surah Âli ‘Imrân:

…..وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ 140 وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ  141

… supaya Dia mengangkat diantara kamu syuhadâ` (orang-orang yang menjadi saksi) dan Allah swt tidak menyukai orang-orang yang zalim(140) dan agar Allah swt membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir.

(QS. Ali Imran [3]:140-141)

Untuk orang-orang yang meninggal, kita antar dengan rasa sedih tetapi dalam saat yang sama beruntunglah mereka. Dan yang tinggal, kita harapkan mendapatkan pelajaran dari ujian ini, dari bencana ini. Mudah-mudahan kita dapat menyusul mereka dalam kematian yang diridai Allah swt.