Mukallaf

0
43 views

fanatikzone.blogspot.comMukallaf secara bahasa adalah ism al-maf’ûl (obyek) dari fi’il al-mâdli kallafa–yukallifu–taklîfan yang bermakna membebankan. Maka, kata mukallaf berarti orang yang dibebani.

Secara istilah, mukallaf adalah:

 

 الإِنْسَانُ الَّذِيْ تَعَلَّقَ بِفِعْلِهِ خِطَابُ الشَّارِع أَوْ حُكْمه

“Seorang manusia yang mana perlakuannya itu bergantungan dengan ketentuan al-Syâri’ atau hukumnya”.

Dari sini, dapat dipahami bahwa mukallaf adalah orang yang telah dianggap mampu bertindak hukum, baik yang berhubungan dengan perintah Allah swt maupun larangan-Nya. Semua tindakan hukum yang dilakukan mukallaf akan diminta pertanggung-jawabannya, baik di dunia maupun di akhirat. Pahala akan didapatkan kalau ia melakukan perintah Allah swt, dan dosa akan dipikulnya kalau ia meninggalkan perintah Allah swt.

Sebagian besar ulama Usul Fiqh mengatakan bahwa dasar adanya taklîf (pembebanan hukum) terhadap seorang mukallaf adalah pertama, akal (العقل) dan pemahaman (الفهم). Seorang mukallaf dapat dibebani hukum apabila ia telah berakal dan dapat memahami taklîf secara baik yang ditujukan kepadanya. Oleh karena itu, orang yang tidak atau belum berakal tidak dikenai taklîf karena mereka dianggap tidak dapat memahami taklîf dari al-Syâri’. Termasuk dalam kategori ini adalah orang yang sedang tidur, anak kecil, gila, mabuk, khilaf dan lupa. Pendapat ini berdasarkan pada hadis Nabi Muhammad saw:

 

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاثٍ: عَنْ النَّائِم حَتَّي يَسْتَيْقِظ وَ عَنْ الصَّبِيّ حَتَّى يَحْتلمَ وَعَنْ المَجْنُوْن حَتَّى يَفِيْق )رواه البخاري وأبو داوود والترمذي والنسائ وابن ماجة والدارقطني)

 

“Diangkat pembebanan hukum dari tiga (orang); orang tidur sampai bangun, anak kecil sampai baligh, dan orang gila sampai sembuh”

 

رُفِعَ عَنْ أُمَّتِيْ الخَطَأ وَالنِّسْيَان وَمَا اسْتُكْرِه لَه (رواه ابن ماجة والطبراني(”

 

“Beban hukum diangkat dari umatku apabila mereka khilaf, lupa dan terpaksa”.

Kedua, orang tersebut telah cakap untuk bertindak menurut hukum atau cakap untuk melaksanakan apa-apa yang dibebankan syariat kepadanya, yang dalam istilah usul fikih disebut ahliyyah (kecakapan bertindak). Ahliyyah itu sendiri para ahli usul fikih dibagi dalam dua macam, yaitu ahliyyah al wujub dan ahliyyah al-ada’.Ahliyyah al wujub adalah kecakapan seseorang untuk menerima hak-hak yang diberikan orang lain kepadanya dan ia juga wajib menunaikan kewajiban terhadap orang lain. Kecakapan ini merupakan suatu kekhususan bagi manusia semenjak dalam rahim ibunya dan merupakan fitrah manusia.

Para ulama usul membedakan ahliyyah al wujub dalam dua macam. Pertama,
ahliyyah al wujub yang naqis (kurang), yakni keahlian yang baru cakap untuk memiliki hak tanpa ada beban atau kewajiban atau kebalikannya, ada kewajiban tanpa hak. Kedua, ahliyyah al wujub yang tammah (sempurna), yaitu ahliyyah al wujub yang di dalamnya terdapat penerimaan hak dan sekaligus juga beban kewajiban. ahliyyah al ada’ adalah kecakapan seseorang untuk bertindak hukum sehingga  segala perkataan dan perbuatanya
harus dipertanggungjawabkan sendiri. Kecakapan ini juga terbagi atas ahliyyah al ada’ yang tammah dan ahliyyah al ada’ yang naqis.

Ahliyyah al ada’ yang tammah ialah ahliyyah al ada’ yang dilakukan oleh mukallaf sedangkan ahliyyah al ada’ yang naqis adalah bagi orang-orang yang masih belum dalam keadaan mumayiz (mampu membedakan), yang perbuatan atau tindakannya belum dapat dimintai tanggung jawab penuh secara hukum.
Dengan demikian, mukallaf yang dapat dibebani hukum dan dimintai pertanggug jawaban perbuatan dan perkataan adalah orang-orang yang telah mempunyai akal serta telah memiliki ahliyyah al ada’ kamilah (telah cakap bertindak hukum secara sempurna).

 

Referensi:

1.    Wahbah al-Zuhaylî, Ushul al-Fiqh al-Islamî Juz 1,Damaskus: Dâr al-Fikr, 2001.

al-Amidî, al-Ihkâm fî Usûl al-Ahkâm Juz 1, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005.