Mu’jizat

0
25 views

Secara etimologi kata mu’jizat diambil dari bahasa Arab a’jaza-yu’jizu yang berarti melemahkan, mengalahkan atau menjadikan tidak mampu. Pelakunya (yang melemahkan) dinamakan mu’jiz dan pihak yang mampu melemahkan pihak lain sehingga mampu membungkamkan lawan, dinamakan mu’jizat.

 

Secara terminology mu’jizat didefenisikan sebagai suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada orang-orang yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu. Dengan redaksi yang berbeda, mu’jizat didefinisikan pula sebagai sesuatu yang luar biasa, diperlihatkan Allah swt melalui para nabi dan Rasul-Nya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulan-Nya. Definisi mu’jizat menurut para ulama:

 

Mannâ’ al-Qaththân mendefinisikannya sebagai berikut :“suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan ditandingi.”

 

Imam al-Suyûthî dalam kitab al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’an adalah kejadian yang melampaui batas kebiasaan, didahului tantangan, tanpa ada tandingan.

 

Menurut Ibnu Khaldun, adalah perbuatan-perbuatan yang tidak mampu ditiru manusia. Maka ia dinamakan mu’jizat karena tidak masuk kategori yang mampu dilakukan hamba, dan berada di luar standar kemampuan mereka.

 

Macam-Macam Mu’jizat.

 

Secara garis besar, mu’jizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mu’jizat yang bersifat  material, indrawi yang tidak kekal dan mu’jizat immaterial, logis, dan dapat dibuktikan sepanjang masa. Mu’jizat nabi-nabi terdahulu merupakan jenis pertama. Mu’jizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung lewat indra oleh masyarakat tempat mereka menyampaikan risalahnya.

 

Perahu nabi Nuh as yang dibuat atas petunjuk Allah swt sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat, tidak terbakarnya Nabi Ibrahim as dalam kobaran api yang sangat besar, berubah wujudnya tongkat nabi Musa as menjadi ular, penyembuhan yang dilakukan oleh nabi Isa as atas izin Allah swt, dan lain-lain, kesemuanya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat mereka berada, dan berakhir dengan wafatnya mereka. Ini berbeda dengan mu’jizat Nabi Muhammad saw. Yang bersifat bukan indrawi atau material tetapi dapat dipahami akal. Karena sifatnya yang demikian, ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu yaitu mu’jizat al-Qur’an dimana dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun.

 

Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang bersifat abadi, berbeda dengan mu’jizat rasul-rasul sebelumnya. Al-Qur’an adalah mu’jizat ilmiah yang mengajak untuk membahas dan meneliti ayat-ayat dalam rangka menemukan hakekat ilmiah yang ditetapkan oleh ilmu kontemporer. Maka tidaklah mengherankan apabila al-Qur’an menegaskan pembenaran dan kecocokan terhadap apa yang dihasilkan oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan kontemporer setelah ratusan tahun para pakar baru menemukannya dengan kajian, pembahasan dan penalaran. Mereka menemukan fenomena-fenomena sosial, politik, hukum, fisika, dan lainnya. Al-Qur’an telah membawanya sebelum semua terlintas dalam pengetahuan manusia pada waktu diturunkannya. Kemudian muncul secara jelas bukti-buktinya pada era modern ini.

 

Pada zaman sekarang ini kita suka mendapatkan informasi baik melalui media cetak atau televisi yang memberitakan tentang sebuah kejadian baik itu musibah seperti jatuhnya pesawat, terbakarnya kapal dan sebagainya kemudian bersamaan dengan kejadian itu terdapat suatu kejadian diluar jangkauan akal manusia sehingga orang-orang dengan mudahnya menamakan itu sebagai mu’jizat, padahal itu bukan mu’jizat karena mu’jizat hanya Allah swt perlihatkan kepada para nabi dan rasul-Nya, sedangkan dalam hal kejadian di atas atau pada masa sekarang, itu masuk dalam kategori karomah.