Muhammad dan Mawlid

0
30 views

Muhammad, ya Muhammad. Itu adalah nama yang unik. Muhammad bukanlah nama yang populer bagi orang Arab ketika Aminah memberikan nama itu kepada putra satu-satunya. Hal ini diakui oleh Ibn Hisyam dalam bukunya al-Sîrah al-Nabawiyyah dan juga oleh Muhammad Husayn Haykal dalam The Life of Muhammad.  Entah siapa yang memberinya nama Muhammad.

Sebuah sumber mengatakan bahwa Abdul Mutthalib yang memberikan saat dengan gembira dia membawa bayi yang baru lahir itu ke Ka’bah sebagai tanda syukur. Sumber lain mengatakah bahwa Aminah yang memberikan setelah sebelumnya mendapatkan inspirasi dari sebuah mimpi ketika masih mengandung Muhammad. Dalam mimpi itu pula, Aminah “diberitahu” bahwa dia sedang mengandung “pemimpin umat ini” (sayyid hâdzihî al-ummah); mimpi itu juga mengatakan bahwa ketika bayinya itu lahir, ia harus mengucapkan kalimat: “Aku meletakkan dirinya dalam lindungan Yang Maha Esa (al-Wahîd) dari segala kejahatan para pendengki.” Doa ini mengingatkan pada doa istri Imran ketika melahirkan Maryam: “Sesungguhnya saya memberinya nama Maryam; dan sesungguhnya saya memohon kepada-Mu perlindungan baginya dan keturunannya dari syaitan yang terkutuk.”

Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Ibn Hisyam, sebagaimana disampaikan ulang oleh Tariq Ramadan dalam bukunya, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad. Aminah sendiri saat itu diliputi kebimbangan antara kesedihan ditinggal oleh suaminya, Abdullah, dan kegembiraan menyambut kelahiran anaknya.

Nama Muhammad tidak lama menyandang sebagai nama yang unik. Belakangan, telah banyak orang bernama Muhammad bahkan ketika Rasulullah masih hidup. Apalagi konon dalam salah satu sabdanya, Rasulullah menganjurkan umatnya agar anak-anak mereka diberi nama Muhammad, tentu saja jika laki-laki.

Tidak banyak yang bisa digali dari kehidupan Nabi Muhammad di awal-awal hidupnya, terutama kelahirannya. Umumnya buku-buku biografi hanya menyediakan—paling banyak—lima halaman untuk kelahirannya tersebut. Berbeda dengan buku-buku yang ditulis dalam rangka mawlid,yang konon awalnya ditulis oleh seorang penulis Andalusia, Ibnu Dihya pada tahun 1207, di mana kelahiran Nabi Muhammad dituliskan dengan berbunga-bunga, penuh suka cita, dan juga lelehan air mata haru. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Annemarie Schimmel dalam bukunya, Dan Muhammad Adalah Utusan Allah.

Tradisi mawlud kemudian dipopulerkan oleh orang-orang Turki dengan nama mevlut. Dan karya mevlut yang paling awal ditulis oleh Suleyman Chelebi dari Bursa pada sekitar tahun 1400. Seperti sekarang, di Turki pada waktu itu, ada juga yang menganggapnya bid’ah sesat, yaitu oleh seorang teolog Turki abad ke-15, Molla Fenari. Meski demikian, tradisi mevlut tetap digemari, bukan hanya pada hari kelahiran Nabi, tapi pada hari-hari lain seperti pada hari keempat puluh kematian seseorang. Orang-orang Muslim India, khususnya wanita, biasa mengadakan acara-acara mavlut pada setiap peristiwa besar keluarga. Diyakini ada berkah besar jika acara mavlut tersebut dilaksanakan.

Ternyata, bukan Muslim Turki saja yang melaksanakannya, tetapi juga Muslim Afrika Timur. Mereka meyakini—sebagaimana disebut dalam sajak Turki: Andaikata ingin selamat dari api neraka; Datanglah ke mevlut untuk Rasulullah! Di Afrika, mawlid merujuk kepada karya dari abad ke-18 dari seorang bernama al-Barzanji, seorang qadhi mazhab Maliki Madinah. Di banyak wilayah Islam, mawlid dilaksanakan dengan penuh suka cita. Pesertanya memakai pakaian bagus-bagus dan berwewangian.

Di Indonesia, mungkin tradisi dari Afrika Timur inilah yang sampai. Terbukti, karya al-Barzanji yang paling sering dibaca dan mencakup bukan hanya acara mawlid tetapi sampai pada acara pernikahan, kelahiran bayi, naik rumah baru, turun ke laut, awal menebar benih, dan sebagainya.

Terlepas kontroversi tentangnya, bagi seorang Annemarie Schimmel, tradisi mawlid adalah peringatan atas kelahiran Nabi yang berarti kemenangan monoteisme mutlak atas politeisme, termasuk trinitas versi Kristen. Di negeri-negeri yang sangat lama dikuasai oleh orang-orang beragama Kristen, seperti India dan Indonesia, tradisi mawlid mempunyai arti khusus dan dalam. Beraneka lagu-lagu lembut dan berwarna tentang keajaiban kelahiran Muhammad menanamkan kecintaan kepada Nabi di dalam hati anak-anak dan menjadi bagian integral dari kehidupan religius mereka.

Ya, karena itu, detik ini, Muhammad bukan lagi nama asing dan unik. Sudah menjadi nama yang paling populer di seluruh dunia. Hal itu tidak mengherankan karena namanya disebut berdampingan dengan nama suci Allah. Konon kini ada kegentaran di hati terdalam orang-orang Eropa karena saat ini nama Muhammad juga masuk ke dalam daftar nama-nama yang paling populer diberikan kepada bayi-bayi yang lahir di sana. Bahkan pada tahun 2009, di Brussels, Belgia, ada satu nama yang menduduki tempat teratas nama yang paling sering diberikan kepada seluruh bayi di seluruh rumah sakit setempat, yaitu Muhammad.

Anta syams anta badr; Anta nûr fawqa nûr (Mawlid al-Barzanjî).[]

Daftar Bacaan

Adrian Michaels, “Muslim Europe: the Demographic Time Bomb Transforming Our Continent,” dalam http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/5994047/Muslim-Europe-the-demographic-time-bomb-transforming-our-continent.html, diakses pada 11 Maret 2011.

Annemarie Schimmel, Dan Muhammad adalah Utusan Allah, Bandung: Mizan, 1998

Tariq Ramadan, In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, Oxford: Oxford University Press, 2007

BAGI
Artikel SebelumnyaWahyu
Artikel BerikutnyaSplit Personality