Monoteisme Politeistik

0
254 views
http://canacopegdl.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Memandang remeh politeisme sebagai gagasan yang berkadar akal rendah dan penuh kontradiksi logis barangkali tidak tepat. Mengagungkannya sebagai satu-satunya kebenaran juga sama tidak tepatnya. Bahkan pandangan bahwa politeisme adalah lawan bagi monoteisme juga sering keliru. Terkadang di titik-titik tertentu, politeisme dan monoteisme berjumpa dan saling bertegur ramah.

Memang politeisme mengakui ada banyak kekuatan yang berpengaruh di alam raya, namun itu tidak berarti bahwa politeisme menolak adanya kekuatan atau hukum tunggal yang menentukan seluruh perjalanan alam semesta. Politeisme klasik Yunani membuktikan itu. Memang ada Zeus, Hera, Apollo, dan rekan-rekan mereka yang punya kuasa jauh melampaui kuasa manusia, tetapi merekapun takluk kepada kekuatan mahakuasa yang menundukkan semua. Kekuatan tersebut kadang dinamai Moira atau Ananke yang berarti Takdir. Semua bersimpuh di kaki Sang Takdir sebagai kekuatan tertinggi. Demikian pula banyak gagasan politeisme lainnya. Pada tahap ini, politeisme dan monoteisme berada di titik yang sama.

Yang membedakan politeisme dengan monoteisme adalah dalam politeisme, kekuatan tertinggi yang disebut Sang Takdir itu mengatur dunia dengan cara yang bebas dari kepentingan dan bias hingga tidak peduli hasrat, benci, derita, senang, dan kekhawatiran manusia. Karena itu, tidak ada guna doa kepada Sang Takdir itu karena tidak dibedakan olehnya manusia yang berdoa dan tidak berdoa, berdosa dan tidak berdosa. Karena itu, tidak ada persembahan dan doa kepada kekuatan tertinggi atau Sang Takdir tersebut.

Lalu ke siapa persembahan dan doa-doa dipanjatkan? Ya, kepada dewa-dewa yang banyak tadi, seperti Zeus, Hera, Apollo, dan rekan-rekannya. Mereka memang lebih rendah kuasanya dibanding Sang Takdir, tetapi mereka lah yang perasa, bias, dan mempunyai kepentingan serta membedakan manusia yang berdoa dan yang tidak berdoa. Mereka lah yang dianggap berkenan senang karena persembahan dan berkenan murka tidak ada persembahan. Mereka lah penghukum para manusia pembangkang dan pemberi nikmat kepada manusia kaum taat.

Bagaimana bisa ada kemiripan antara dewa rendah politeisme dengan dewa tertinggi monoteisme? Bagaimana bisa mereka sama-sama perasa dan penghukum serta mempunyai kepentingan kepada ketaatan manusia? Yuval Noah Harari menduga itu terjadi karena dulunya, dewa tertinggi monoteisme adalah dewa rendahan yang diangkat menjadi dewa tertinggi. Karena itulah tabiat dewa tertinggi monoteisme dan dewa rendah politeisme memiliki kemiripan. Dan karena itu pula, dewa tertinggi monoteisme mempunyai banyak nama berbeda dan penganutnya saling menafikan. Perbedaan nama dewa monoteisme dianggap sebagai perbedaan sosok dewa. Hal ini berbeda dengan politeisme. Umumnya politeisme menamakan kekuatan tertingginya dengan “Sang Takdir”, meski dengan perbedaan penyebutan akibat perbedaan bahasa.

Karena itulah, di dalam politeisme ada unsur-unsur monoteisme dan di dalam monoteisme ada unsur-unsur politeisme.

Tanpa bermaksud menyamakan dengan sengkarut politeisme-monoteisme di atas, mari kita simak monteisme versi agama yang dianggap paling monoteis saat ini di muka bumi, sebagaimana terkesan di dalam salah satu bab kitab sucinya. Di sana terpaparkan ada konsep ketuhanan yang menggelayut antara kekuatan tertinggi yang penuh kepentingan dengan kekuatan tertinggi yang tidak bias; antara penekanan pentingnya sebuah nama terhadap kekuatan tertinggi itu dengan penekanan lebih pada hal-hal substansial yang ada padanya.

Mencermati bahwa nama bab yang membahas konsep ketuhanan itu adalah kata yang justru tidak disebut di dalam bab itu sendiri memberikan kesan adanya kecenderungan untuk tidak memberi nama kepada sesuatu yang tidak berbatas nama. Dan kalaupun ada nama, maka itu sebatas keterpaksaan penyebutan.

Dan memang akhirnya sebuah nama pun disebutkan, tetapi sekilat itu juga dilanjutkan bahwa yang penting adalah kekuatan tertinggi itu satu dan padanya segala sesuatu menggantungkan dirinya, rela atau tidak rela, suka atau tidak suka. Kekuatan tertinggi itu tidak mempunyai kepentingan apa pun karena dia tidak mempunyai atasan yang harus ditaati dan tidak pula mempunyai bawahan yang barangkali rasa sayangnya bisa memengaruhi setiap keputusannya menjadi aturan yang bengkok. Dan kesemuanya itu membawa kepada kesimpulan bahwa tak sesuatu pun menyetarainya.

Tampaknya konsep ketuhanan versi agama itu memiliki ciri politeisme karena menganggap kekuatan tertingginya adalah kekuatan yang tanpa bias dan tidak mempunyai kepentingan apapun dan sepertinya itu jauh lebih penting dari nama dari kekuatan tertinggi itu. Namun tampak pula nama kekuatan tertinggi itu disebut, namun sepertinya itu lebih karena manusia memang makhluk penyebut.[]

Bahan Bacaan

Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Jakarta: KPG, 2018.

BAGI
Artikel SebelumnyaMenjaga Lisan