Monoteisme Plus

0
38 views

Tonggak monoteisme masyhur ditegakkan oleh Nabi Ibrahim as yang kemudian dilanjutkan oleh nabi-nabi setelahnya, seperti oleh Nabi Musa as dan Nabi Isa as. Namun monoteisme memang senantiasa menemui tantangan. Kecenderungan manusia kepada hal-hal selain Allah membuat monoteisme murni sering tergugat oleh tangan-tangan kotor manusia, baik lewat sistem keyakinan yang ditata sistematis maupun lewat tingkah laku manusia yang disadari atau tidak telah melenceng dari rambu-rambu keesaan Allah.

Berkaca pada sejarah, sejak Nabi Adam as, monoteisme telah ada. Perjalanan sejarah lah yang membuat monoteisme timbul dan tenggelam dalam arus peradaban manusia. Karena itu, monoteisme yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sebenarnya bukanlah barang baru dan manusia yang ada pada zaman Nabi Muhammad saw bukan tidak mengenal monoteisme. Bahkan kaum kafir Makkah juga mengenal Allah versi mereka sendiri.

Sejarah juga mencatat bahkan pada masa mula-mula Nabi Muhammad saw mendapatkan wahyu, kemudian beliau terkejut oleh fenomena pewahyuan, orang-orang penganut monoteisme waktu itulah yang menjadi penasihat dan penghibur Nabi Muhammad saw. Mereka adalah orang-orang seperti Khadijah binti Khuwailid dan pamannya, Waraqah bin Naufal.

Meski memiliki kemiripan, monoteisme pra Nabi Muhammad saw, khususnya monoteisme Makkah, sebenarnya lebih merupakan monoteisme vertikal semata. Di sinilah kekhasan monoteisme Nabi Muhammad saw. Monoteisme yang dibawa Nabi Muhammad saw adalah monoteisme yang menyatakan bahwa kemanusiaan dan ketuhanan sebagai sisi mata uang yang saling melengkapi. Ketiadaan salah satunya berarti kemusnahan bagi yang lain. Bahkan monoteisme yang dibawa Rasulullah saw adalah monoteisme plus kemanusiaan dan plus keagungan akhlak.

Hal ini nampak sangat jelas dalam beberapa ayat-ayat awal yang turun di Makkah seperti Surat Al-Mâ’ûn. Allah swt berfirman: Tahukah kamu orang yang mendusatkan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin. Maka celakalah bagi orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang yang berbuat riya. Dan enggan menolong dengan barang yang berguna (QS. Al-Mâ’ûn [107]: 1-7).

Kenyataan ini sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa kaum kafir Makkah begitu sulit menerima Islam? Bukankah konsep monoteisme bukan barang asing bagi mereka? Ternyata, bukan konsep monoteisme yang asing yang membuat mereka sulit menerima Islam, tetapi konsekuensi kemanusiaannya dan keagungan akhlak yang membuat mereka enggan. Jika itu masalahnya, maka umat Muslim sekarang tidak jauh beda. Betapa marak ritual ibadah ditegakkan dan didengungkan, tetapi tidak seiring sejalan dengan praktik kemanusiaan. Jumlah jamaah haji semakin membludak, tetapi korupsi semakin marak. Syiar Islam lewat ibadah shalat dan dzikir akbar terus berkembang, tetapi kekerasan semakin meraja, jurang kemiskinan semakin menganga, dan kriminalitas semakin menakutkan. Kemuliaan akhlak semakin terkubur. Semoga Allah swt mengampuni.[]

Abdul Muid Nawawi