Moderasi

0
218 views

Abd. Muid N.

Sebuah obrolan sederhana yang dihadiri oleh beberapa orang berfikiran sederhana dipimpin oleh M. Quraish Shihab berlangsung di sebuah tempat yang sederhana, Pesantren Bayt Al-Quran Pondok Cabe. Obrolan itu disebut sederhana karena membahas isu yang sederhana yaitu, moderasi Islam. Moderasi Islam disebut sederhana karena Islam yang dikehendaki oleh moderasi Islam adalah Islam yang tidak terlalu formalistik dan juga tidak terlalu anti-formalisme. Isu ini diapungkan sebagai respon terhadap maraknya kekarasan verbal maupun non verbal atas nama Islam. Tentu saja ini dalam konteks keindonesiaan.

Namun kesederhanaan moderasi Islam ternyata berdampak rumit bahkan untuk sekadar mendefinisikan moderasi itu sendiri. Upaya pendefinisian moderasi Islam pasti mengkhawatirkan akan jatuh ke dalam formalisme. Definisi yang jâmi’ (konfrehensif) dan mâni’ (distingtif) terhadap moderasi Islam akan mengungkung moderasi Islam di dalam formalisme yang dikritiknya. Sebaliknya, membiarkan moderasi Islam tanpa definisi akan membuat moderasi Islam sulit diterjemahkan dalam bentuk konkret.

Kerumitan seperti di atas adalah kekurangan sekaligus kelebihan moderasi Islam. Disebut kekurangan karena moderasi Islam adalah konsep yang rumit. Namun disebut kelebihan karena dengan demikian, dengan kesulitan pendefisian itu, maka sesungguhnya moderasi Islam adalah konsep yang elastis, fleksibel, reliabel, dan karenanya, moderasi Islam bisa menjadikan dirinya konsep yang shâlih li kulli zamân wa makân.

M. Quraish Shihab menyebutkan tiga syarat bagi moderasi Islam: pertama, pengetahuan yang luas dan dalam. Karena moderasi mengandaikan diri berada di tengah, maka moderasi harus mencakupi dan memahami dengan baik sisi kiri, sisi kanannya, belakang, dan depannya.

Kedua, prasangka baik. Untuk memahami, dibutuhkan prasangka baik terhadap seluruh konsep Islam yang ada karena tidak mungkin membangun kebersamaan dan kesalingpahaman jika yang dikedepankan adalah prasangka buruk. Upaya ini penting untuk menghindari tuduhan sebagai non-Islam terhadap konsep yang berbeda.

Ketiga, kesabaran. M. Quraish Shihab dalam hal ini bukan menekankan kesabaran dalam menghadapi kekerasan verbal dan fisik, tetapi lebih kepada kesabaran untuk terus-menerus memperjuangkan kesamaan visi dan memaklumi perbedaan; merajut kebersamaan dan menahan diri untuk bersikap kasar kepada yang berbeda pendapat; namun tegas untuk memegang teguh kesepakatan kebangsaan yang sudah ditetapkan. Kesabaran di sini juga dimaksudkan sebagai kesadaran bahwa ini bukan kerja sesaat tetapi sepanjang hayat.

Menurut M. Quraish Shihab, selalu mudah untuk berada di pojok ekstrim kiri dan kanan. Itu tidak membutuhkan pengetahuan yang luas. Cukup mengetahui diri sendiri tanpa perlu mengatahui apalagi memahami pemikiran lain. Dan karena itu pula, tidak dibutuhkan prasangka baik terhadap perbedaan pendapat. Cukup mempertajam buruk sangka untuk semakin memperpedas kritik. Dan karena itu pula, tidak dibutuhkan kesabaran dalam bertindak, kehati-hatian dalam memutuskan, dan ketelitian dalam merajut konsep-konsep yang bertebaran dan berbeda-beda.

Moderasi Islam sepertinya memang sederhana, tetapi tidak pernah gampang.[]