Mitra Perjuangan

0
59 views

Seringkali banyak orang yang beranggapan bahwa isteri hanyalah sekadar wanita pendamping hidup bagi suami dan yang melayaninya, tapi bagi Rasulullah saw, isteri adalah mitra perjuangan yang harus dilibatkan dalam perjuangan dan dimintai pendapatnya tentang berbagai persoalan. Karena itu, dalam perjalanan dakwah atau berperang, Rasulullah saw mengajak isteri-isterinya secara bergiliran.

Ketika Rasulullah saw bersama para sahabatnya hendak menunaikan ibadah haji dan umrah tahun ke 7 Hijrah, Ummu Salamah yang mendampingi Rasulullah saw. Para sahabat, apalagi yang berasal dari Makkah amat gembira bisa menunaikan ibadah ini, karena dengan demikian merekapun juga bisa melepaskan kerinduan pada kampung halaman yang sudah cukup lama ditinggal hijrah ke Madinah.

Namun ketika sampai di wilayah Hudaibiyah, kira-kira 10 km menjelang Makkah, kaum muslimin dicegat oleh orang-orang kafir dan tidak diperkenankan memasuki wilayah Makkah meskipun untuk beribadah, bukan untuk berperang. Maka dilakukanlah perundingan yang menghasilkan perjanjian yang dikenal dengan sebutan perjanjian Hudaibiyah.

Salah satu isi perjanjian itu adalah kaum muslimin baru boleh melaksanakan ibadah haji dan umrah pada tahun depan atau 8 Hijrah sehingga sekarang harus kembali lagi ke Madinah. Mendengar penjelasan keputusan perjanjian seperti itu, maka para sahabat menjadi amat kecewa, karena tidak jadi menunaikan ibadah haji dan umrah.

Rasulullah saw kemudian memerintahkan kepada para sahabat untuk menyembelih kambing dan mencukur rambut. Namun ternyata tidak ada satupun sahabat yang mau melaksanakan perintah itu dan ini membuat Nabi menjadi kecewa. Rasulullah saw kemudian masuk ke kemah, beliau sampaikan keluhan masalah ini kepada isterinya yang bernama Ummu Salamah sekaligus meminta pendapatnya, maka Ummu Salamah berpendapat: “Bila engkau menghendaki hal itu, mengapa tidak engkau sembelih seekor kambing terlebih dahulu lalu mencukur rambutmu. Keluarlah dari kemah ini dan jangan berbicara kepada kaum muslimin sampai engkau telah menyembelih dan mencukur rambut”.

Setelah saran yang baik itu dilontarkan oleh sang isteri tercinta, maka Rasulullah saw mengambil sebilah golok dan keluar dari kemah untuk mengambil seekor kambing dan beliaupun menyembelihnya. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya yang kecewa karena tidak jadi menunaikan ibadah haji dan umrah bukan hanya para sahabat, tapi beliau juga merasakannya. Namun perjanjian tetap harus dihormati meskipun hal itu tidak menyenangkan.

Melihat hal itu para sahabat melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw, bahkan mereka sampai berebutan untuk melakukan penyembelihan hingga mengakibatkan hampir terjadi keributan dikalangan para sahabat.

 

Pelajaran yang bisa kita dapat dari kisah di atas adalah:

 

1.      Dalam kehidupan rumah tangga, isteri merupakan mitra perjuangan yang harus dilibatkan. Bila masalah perjuangan saja isteri diajak musyawarah, tentu dalam masalah keluarga lebih besar lagi keterlibatan isteri dalam musyawarah keluarga.

2.      Setiap keputusan yang harus dilaksanakan, maka suami sebagai kepala rumah tangga atau pemimpin harus melaksanakan terlebih dahulu agar orang lain mau melaksanakan juga.