Miskin

0
60 views
Di tahun-tahun yang telah lewat kita pernah mendapatkan hiburan gratis di stasiun-stasiun televisi swasta lewat adegan seorang miskin yang diberi uang segepok dan harus dihabiskannya dalam waktu 30 menit untuk membeli barang-barang. Dan jika uang itu tidak habis, maka sisanya harus dikembalikan ke bandar. Penonton-yang juga tidak semuanya kaya-lalu terpingkal-pingkal melihat tangan si miskin yang gemetaran, entah karena baru pertama kali melihat dan memegang uang segepok, entah karena waktu yang sangat mepet untuk menghabiskan uang itu, padahal kebiasaannya adalah uang puluhan ribu dihemat selama berhari-hari bersama seluruh anggota keluarganya demi menyambung hidup.

Di beberapa bulan terakhir ini, publik negeri itu kembali disuguhi adegan-adegan serupa. Kita terharu menyaksikan satu keluarga yang diajak menginap di hotel (untuk pertama kalinya) selama beberapa hari dan ketika kembali ke rumah, mereka “kaget” luar biasa melihat rumah mereka yang ketika mereka tinggalkan adalah rumah reyot dan morat-marit telah menjadi rumah bagus berperabotan lengkap. Seketika itu pula posisi sosial mereka naik mengambang di dekat garis kemiskinan setelah sekian lama berada jauh di bawah garis itu. Dan seketika itu pula mereka jatuh bersujud di hadapan presenter (mungkin mereka mengira presenter itu sang dermawannya).

Program-program semacam Minta Tolong, Bedah Rumah, Tukar Nasib, Jika Aku Menjadi, dan sebagainya kembali membanjiri jagat pertelevisian Tanah Air. Orang-orang miskin kembali menjadi komoditas penting dan bisa menghasilkan uang yang banyak, mungkin jauh lebih banyak dari yang didapat oleh orang miskin yang menjadi pemerannya.

Memang sudah sedemikian aneh zaman ini. Bisa-bisanya kemiskinan yang sejatinya menyedihkan tetapi malah menjadi tontonan yang mengasyikkan dan mengundang tawa. Lalu mengapa pula penonton tertawa? Apakah penonton merasa sedemikian jauhnya mereka dari realitas kemiskinan itu? Atau karena justeru penonton sedang menyaksikan potret diri mereka sendiri dan dalam hati mereka terselip doa mudah-mudahan pada seri berikutnya merekalah si miskin yang beruntung yang ada di TV itu.

Kemudian kemiskinan menjadi fenomena yang banal dan karena itu tidak penting dan nomor dua. Yang lebih penting dari kemiskinan itu adalah tontonan itu sendiri, padahal tontonan hanyalah parodi bagi kenyataan. Alam citra lebih penting daripada alam nyata. Citra santun seorang calon pejabat tinggi lebih penting daripada kesantunan itu sendiri.[]