Misi dan Maulid Nabi

0
34 views

politikana.comTradisi memperingati maulid Nabi Muhammad saw pada masyarakat kita biasanya berlangsung selama dua bulan, Rabiul Awal dan Rabiul akhir. Momentum yang penting ini tentu saja harus kita jadikan sebagai upaya untuk menyegarkan kembali pemahaman dan ingatan kita akan misi khusus yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya. Dengan demikian, sayang sekali kalau peringatan maulid itu hanya sekadar rutinitas belaka, tanpa makna yang dalam dan pengaruh baik yang besar.

Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menyebutkan tentang Rasul dengan berbagai aspeknya. Salah satu aspek yang disebutkan adalah tentang misi yang diemban oleh para Rasul. Pemahaman tentang misi ini menjadi sesuatu yang sangat penting agar kita menyadari bahwa diutusnya Rasul saw di muka bumi ini memang menjadi kebutuhan manusia. Tugas manusia di muka bumi ini pada hakikatnya hanya untuk beribadah kepada Allah swt dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk bisa melaksanakan tugas ini, diperlukan seorang Rasul yang menyampaikan ajaran dari Allah swt itu.

MISI RASUL

Paling tidak, ada enam misi yang diemban oleh Rasul saw yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Bila kita pahami keenam misi itu menjadi jelas bagi kita bahwa mengimani dan mengikuti Rasul menjadi sesuatu yang sangat penting.

1. Meperkenalkan dan Menyembah Allah swt.

Manusia yang lemah sangat membutuhkan penyembahan kepada yang Maha Kuat, karena itu kepada manusia sangat penting diperkenalkan tentang Tuhan yang maha Kuasa itu sehingga manusia menyembah kepada Tuhan yang benar. Bila tidak, maka manusia akan mencari sendiri Tuhan itu dan sangat banyak manusia yang akhirnya tidak menemukan Tuhan yang benar.

Dalam sejarah manusia hingga masa kini terjadi penuhanan kepada benda-benda yang dianggap atau dikhayalkan sebagai kramat, sehingga terjadi kepercayaan manusia yang menyatakan adanya penguasa laut, gunung, hutan dan sebagainya lalu manusia menuhankan semua itu sehingga melakukan pengabdian yang berdasarkan khayalan.

Karena itu Allah swt mengutus para Rasul dari Adam as sampai Muhammad saw guna memperkenalkan kepada manusia bahwa sesungguhnya yang berkuasa di dunia ini dan di akhirat nanti adalah Allah swt, karenanya setiap orang harus menghambakan diri kepada-Nya, Allah swt berfirman:

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “bahwasannya tidak ada tuhan (yang benar) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku (alAnbiya/21:25).

2.    Menegakkan dan Menjaga Agama

Agama merupakan salah satu kebutuhan manusia dalam hidup ini, tanpa berpedoman pada agama yang benar, kehidupan manusia akan kacau balau, kenyataan ini telah berlangsung dari generasi ke generasi, dari abad ke abad sehingga bila suatu masyarakat mengabaikan tuntunan agama yang benar, maka kekacauan akan terus terjadi.

Dengan demikian, kedudukan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar menjadi sangat urgen, karena itu Rasul juga diutus untuk menegakkan agama Islam yang benar meskipun tantangannya begitu besar, Allah swt berfirman:

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci (ashShaff/61:9).

3.    Membawa Berita Gembira dan Peringatan

Biasanya manusia suka dengan hal-hal yang menyenangkan dan takut dengan hal-hal yang menyengsarakan. Untuk mendapat hal-hal yang menyenangkan biasanya manusia berusaha sekuat tenaga guna memperolehnya, sedangkan untuk hal-hal menyengsarakan, manusia akan tinggalkan sebisa mungkin.

Karena itu Allah swt mengutus para rasul yang salah satu tugasnya adalah membawa berita gembira dengan menjanjikan surga bagi manusia yang mau berbuat kebaikan dan peringatan dengan memberikan ancaman siksa neraka yang begitu pedih bagi orang yang tidak mau berlaku baik. Dengan berita gembira dan ancaman yang disampaikan oleh para rasul diharapkan manusia akan mengikuti segala ketentuan Islam yang dibawa para rasul, dan di akhirat nanti tak ada alasan lagi bagi manusia untuk menolak hukuman dari Allah swt berupa neraka Jahannam, dan membantah Allah swt akan ajaran yang diturunkan-Nya, Allah swt berfirman:

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana (anNisa/4:165).

4.    Memberikan Keteladanan Yang Positif

Manusia tentu  menghendaki kehidupan baik di dunia yang berakibat pada kehidupan yang baik di akhirat. Untuk bisa menjalani kehidupan yang baik itu diperluan keteladanan yang baik apalagi meniru orang lain merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan pada manusia.

Dalam kaitan ini diperlukan figur-figur teladan dalam membentuk kepribadian manusia, Allah swt menjadikan Rasulullah sebagai teladan yang harus ditiru oleh umat manusia, Allah swt berfirman:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (alAhzab/33:21).

5.    Mengatasi Perselisihan

Di dunia ini banyak sekali persoalan atau permasalahan, tidak semua masalah itu bisa dipecahkan dan diatasi, akibatnya sering terjadi perselisihan antar yang satu dengan yang lainnya, bahkan tak sedikit dari perselisihan itu hubungan baik sesama manusia jadi terputus. Agar persoalan dan permasalahan bisa teratasi dan terpecahkan, maka Allah mengutus rasul dengan maksud itu, Allah berfirman:

Dan Kami tidak menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman (anNahl/16:64).

6.    Menyelamatkan Manusia

Dari zaman ke zaman, terdapat manusia yang sesat dari jalan hidup yang benar, kesesatan itu terjadi karena manusia itu tidak mau menggunakan petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah swt. Kesesatan manusia tidak hanya mengakibatkan kerugian dan penderitaan terhadap sesama manusia, tapi yang lebih penting lagi adalah menurunnya martabat manusia menjadi rendah bahkan banyak yang lebih rendah dari derajat binatang.

Dengan kesesatan itu jiwa manusia menjadi kotor, dengan kekotoran jiwa, manusia sulit menerima nasihat-nasihat yang bisa mengarahkan jalan hidupnya pada jalan yang benar. Karena itu Allah swt mengutus rasul guna membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan jiwa mereka lalu menanamkan ke dalam hati mereka petunjuk yang berasal dari kitab dan sunnah, setelah itu manusia kembali ke jalan yang benar, Allah swt berfirman:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengerjakan kepada mereka kitab dan hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (alJumu’ah/62:2).

Kini Rasulullah saw telah wafat, Allah sendiri tidak akan mengutus lagi seorang rasul, sementara prilaku manusia menunjukkan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah pada masa lalu, bahkan mungkin lebih jelek dan sesat dari itu. Karenanya salah satu konsekuensi logis sesudah kita memperingati Maulid Nabi Muhammad saw tahun ini adalah melanjutkan misi yang diemban oleh rasul, namun kita menyadari bahwa tugas yang berat itu tidak mungkin dikerjakan oleh seorang diri atau secara perorangan saja, Nabi Muhammad saja memerlukan para sahabat dan membentuk jamaah dakwah guna melaksanakan misi yang berat itu, maka sudah menjadi keharusan mutlak kalau kita juga harus beramal jama’i (bekerjasama) dalam mengemban tugas dakwah lalu mengorganisirnya dalam jamaah dakwah yang mantap sehingga perjuangan yang kita laksanakan itu bagaikan pasukan perang yang berbaris kokoh dan Allah sangat senang dengan hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (ashShaff/61:4).

Akhirnya menjadi semakin kita sadari bahwa perjuangan Rasul memang harus kita lanjutkan dan siapa lagi yang harus melanjutkan kalau bukan kita yang beriman kepadanya.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaKebugaran jiwa-9
Artikel BerikutnyaIttiba’