Mirip Nasionalisme

0
28 views

Sebuah survei dilakukan oleh sebuah lembaga survei yang sangat masyhur di Indonesia—terutama ketika Pemilu—dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa rasa nasionalisme rakyat Indonesia sangat tinggi. Hasil survei ini diungkapkan oleh sebuah stasiun televisi swasta di bulan Desember 2010, bertepatan dengan berhasilnya tim sepak bola Indonesia mencapai babak final Piala AFF 2010.

Terasa ada yang kebetulan bertepatan dengan survei dengan sepak bola karena olah raga satu ini memang cukup menyedot rasa nasionalisme rakyat Indonesia, paling tidak itu yang tampak dari sambutan media massa.

Rasa nasionalisme rakyat Indonesa tampak membumbung tinggi hingga langit ketujuh, namun seperti kembali ke bumi ketika pada leg pertama, Indonesia harus takluk 0-3 dari tuan rumah Malaysia. Rasa nasionalisme sedikit terkoyak dan hanya bisa dirajut kembali jika di Gelora Bung Karno, Indonesia bisa membalasnya dengan skor 4-0. Namun benarkah itu adalah rasa nasionalisme?

Jika melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, maka itu adalah nasionalisme karena di sana diartikan nasionalisme adalah semangat kebangsaan; kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa.

Namun ada juga yang agak pesimis karena dua hal: pertama, masyarakat Indonesia sering latah dengan trend yang sedang berlangsung. Apapun yang sedang digemari lalu digemari bersama-sama tanpa peduli dalam hal itu ada hubungan emosional atau kepentingan mendasar pada sosok yang digemari. Kita masih ingat ketika negara ini disibukkan oleh kasus besar hilangnya uang negara yang kabarnya mencapai 6,7 triliun dari sebuah bank swasta. Lalu semua orang—dari restoran mewah hingga warteg, dari tempat ibadah hingga tempat paling nista—membicarakannya. Kini, siapa lagi mau bersusah payah berbicara tentang itu?

Kedua, masyarakat Indonesia sedang dan masih akan terjangkiti penyakit “mirip”. Belum lama ini seorang yang disebut “mirip” dengan terdakwa sebuah kasus pajak dengan bebas meninggalkan hotel prodeonya dan menginap di hotel beneran sambil membuat acara nonton pertandingan olah raga. Simpang siur “siapa yang mirip siapa” pun berlangsung sangat lama hingga membuat masyarakat Indonesia gregetan karena tampaknya para penegak hukum sangat berhati-hati dalam kasus khusus ini.

Kini, penyakit “mirip” itu menjangkiti sebuah kasus video asusila yang menjadi fenomena nasional dan segala umur. Hingga tulisan ini diturunkan di www.nuansaislam.com, belum dengan tegas disebutkan “siapa yang mirip siapa”.

Jangan-jangan fenomena nasionalisme rakyat Indonesia dalam banyak kasus hanyalah “mirip nasionalisme”, bukan nasionalisme yang sebenarnya. Ketika keberhasilan sementara sebuah tim olah raga diperebutkan oleh banyak pihak untuk menunjukkan perannya, lalu ramai-ramai memakai simbol-simbol untuk menunjukkan rasaa nasionalisme, maka memang nasionalisme ini patut dipertanyakan. Itu pun jika asumsi dasar nasionalisme berdasar pada definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia itu tadi, yang berujung kepada mempertahankan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Jika ada asumsi lain, maka mungkin kesimpulannya juga berbeda.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi