Mi’raj Ruhani

0
41 views

Peristiwa Isra Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri nabi Muhammad Saw dan pada saat itulah Nabi Saw menerima perintah shalat lima waktu untuk disampaikan kepada umatnya sebagai sebuah kewajiban. Ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah shalat ini dalam agama Islam. Sampai-sampai cara penyampaiannya secara langsung memanggil Nabi Saw menghadap Allah.  Berbeda dengan perintah-perintah yang lain yang disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril dan cukup Nabi berada di bumi.

Diantara urgensi shalat dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi, ashshalaatu mi’rajul mukminiin (shalat itu mi’rajnya orang yang beriman). Pandangan ini tentu merujuk pada konsep bermi`raj secara ruhani/spiritual. Shalat itu adalah alat naik (tangga) bagi orang–orang mukmin (untuk meningkatkan kualitas ruhaninya).

Betapa tidak, sejak seorang mukmin berwudhu,  maka ia sudah mensucikan dirinya dari segala kotor yang melekat padanya, baik yang lahir ataupun batin. Perbuatan juga akan dijaga. Bagaimana mungkin tangan yang suci karena wudlu mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bagaimana mungkin kaki yang suci karena wudlu mau melangkah ke tempat-tempat maksiat. Wajah, muka, yang bersih terbasuh air wudhu mau melihat yang terlarang di mata Allah. Demikian juga hati, dia akan tunduk selalu dengan apa yang Allah ridlai.

Shalat merupakan sarana menjalin hubungan dengan Allah sebagai pencipta. Shalat yang khusyu` dimungkinkan dapat mengantarkan orang mukmin berjumpa, ber muwajahah, bermuhawarah dan bermunajat, berkomunikasi secara intens dengan Allah Swt. Bagaimana caranya?

Imam Gazali dalam Ihya `Ulumuddin menyebut enam makna batin yang dapat menyempurnakan makna sholat, yaitu: (1) Kehadiran hati; bersihnya hati dari hal-hal yang tidak semestinya terlintas di dalam sholat, sinkron antara apa yang diucapkan dengan apa yang difikirkan. (2) Kefahaman; faham terhadap makna dari apa yang diucapkan. Kefahaman akan makna yang dibaca akan dapat membantu menghadirkan hati. (3) Ta`zim, mengagungkan Allah; sikap hormat kepada Allah. Ta`zim merupakan buah dari dua pengetahuan, yaitu pengetahuan penghayatan atas kebesaran Allah dan kesadaran akan kehinaan dan keterbatasan dirinya sebagai makhluk. (4) Segan, haibah; perasaan takut kepada Allah yang bersumber dari kesadaran bahwa kekuasaan Allah itu amat besar dan efektif serta menyadari bahwa hukum Allah atau sunnatullah itu pasti berlaku. Oleh karena itu ia sangat takut melanggar hukun-hukumnya, karena akibatnya merupakan satu kepastian. (5) Berharap, raja; selalu berfikir positif bahwa Allah Maha lembut dan luas kasih sayangNya. Di dalam sholat, perasaan harap dan cemas silih berganti, cemas takut melanggar, dan berharap memperoleh rahmatNya. (6) Malu, haya; ini bersumber dari kesadaran akan banyaknya kekurangan pada dirinya dalam menjalankan ibadah.

Jika ke enam hal itu berkumpul pada orang sholat, maka hatinya akan menjadi khusyu` karena seluruh cita rasanya, seluruh kesadarannya, tertuju hanya kepada Yang Satu, Yang Maha Agung, Yang dihormati, ditakuti, tapi menjadi tumpuan harapannya.

Khusyu akan mudah dicapai oleh orang yang lurus pandangan hidupnya, karena kekeliruan pandangan hidup akan menyulitkan pemusatan perhatian dalam beribadah. Kelezatan bermunajat hanya dimiliki oleh orang yang sudah tidak lagi mencintai harta benda duniawi, karena orang yang masih bergembira dengan harta benda, apalagi yang masih mencampur adukkan kebaikan dengan keburukan, ia tidak dapat bergembira dalam bermunajat kepada Allah. Cinta harta dan cinta kepada akhirat tidak bisa menyatu dalam satu wadah.

Ketika ruhani manusia dalam kondisi puncak -(seperti Rasulullah SAW), maka manusia itu seperti malaikat yang berjalan diatas bumi. Atau bahkan lebih unggul dibandingkan malaikat.
Pada saat ini seorang mukmin akan merasakan nimatnya khusyu munajat dalam shalat, indahnya rihlah ruhiyyah, mi’raj ruhani. Dengan shalat, ruhani manusia senantiasa terasah sehingga hati menjadi peka dan akhirnya muncul sifat akhlakul karimah.

Semoga peringatan Isra Mi’raj menjadi momentum perbaikan diri terutama menjadikan ibadah shalat kita lebih berkualitas bukan hanya sebagai penggugur kewajiban semata sehingga menjadi bekal terbaik yang memudahkan diterimanya amalan kita yang lain di yaumul hisab kelak. Aamiin… Wallahu A’lam.