Miqat

0
88 views

Miqat  dalam bahasa Arab berasal dari kata waqota yaqitu yang mengandung makna garis batasan atau waktu, kata miqat berkaitan erat dengan ibadah haji dan umroh, karena miqat dalam ibadah haji dan umroh adalah garis batas atau waktu memulai niat dengan memakai kain ihrom untuk ibadah haji dan umroh. Miqat terbagi 2 yaitu batas waktu disebut miqat zamani dan batas tempat yang disebut miqat makani, Allah swt berfirman dalam al-Qur’an,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji, (QS. Al-Baqarah [2]: 189)

Para ulama sepakat bahwa bulan yang dimaksud pada ayat diatas adalah bulan Syawwal, Zulkaidah dan Zulhijjah, yaitu mulai dari tanggal 1 Syawwal s/d 10 Zulhijjah.

Kata mawaqit dalam ayat diatas adalah jamak dari kata tunggal miqat yang menunjukkan Untuk waktu ibadah haji, dengan mengambil kesepakatan ulama, maka miqat zamani mulai pada bulan Syawwal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijjah, sedangkan untuk ibadah umroh, maka miqat zamani sepanjang tahun pada waktu umroh mau dilaksanakan.

Adapun miqat makani adalah batas yang telah ditentukan oleh Rasulullah saw berdasarkan tempat, sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis bukhari, muslim, Rasulullah saw bersabda dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas ra, ia berkata,

إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَقَّتَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ ، وَلأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ ، هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ ، مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ ، وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ

“Nabi saw menetapkan miqat untuk penduduk Madinah di Dzul Hulaifah, penduduk Syam di Juhfah, penduduk Najd di Qarnul Manazil dan penduduk Yaman di Yalamlam.” Nabi saw bersabda, “Miqat-miqat tersebut sudah ditentukan bagi penduduk masing-masing kota tersebut dan juga bagi orang lain yang hendak melewati kota-kota tadi padahal dia bukan penduduknya namun ia ingin menunaikan ibadah haji atau umrah. Barangsiapa yang kondisinya dalam daerah miqat tersebut, maka miqatnya dari mana pun dia memulainya. Sehingga penduduk Makkah, miqatnya juga dari Makkah.” (HR. Bukhari no. 1524 dan Muslim no. 1181).

Dalam riwayat lain disebutkan, dari ‘Aisyah ra, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَّتَ لأَهْلِ الْعِرَاقِ ذَاتَ عِرْقٍ

“Rasulullah saw menetapkan untuk penduduk Irak Dzatu ‘Irqin.” (HR. Abu Daud no. 1739, An Nasai no. 2654.).

Berdasarkan hadis-hadis diatas maka miqat makani bisa disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, Miqat Yalamlam. Bagi jamaah yang datang dari sebelah timur seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan kebanyakan negara Asia lain, tempatnya adalah di Yalamlam (As Sa’diyah) atau Jeddah. Khusus miqat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah lihat pembahasan artikel tersendiri.

Kedua, Miqat Al Juhfah. Bagi jamaah yang datang dari barat seperti Syam, Magribu dan Mesir serta yang melewatinya, miqatnya di Juhfah atau Juhafah. Berada di dekat kota Rabig. Berjarak 183 km dari Makkah al Makarommah.

Ketiga, Miqat Qarnul Manazil. Bagi jamaah yang datang dari selatan seperti, Najed tempat untuk berihram adalah Qarnul Manazil. Sekarang dinamakan Sail al-Kabir. Berjarak 75 km dari Makkah al Makarommah..

Keempat, Miqat Dzulhulaifah atau Bir Ali. Bagi jamaah yang datang dari Madinah atau yang melewatinya, tempatnya di Dzulhulaifah Bir Ali (Abyar ‘Ali). Sekarang dinamakan Bir Ali. Berjarak 450km dari Makkah al Makarommah.

Kelima, Miqat Dzatu “Irqin. Bagi jamaah yang datang dari bahagian Iraq adalah di Dzatu ‘Irqin (Adh Dhoribah). Berjarak 94km dari Makkah al Makarommah.

Keenam, Miqat Ji’ronah, Tan’im, dan Hudaibiyah. Bagi jamaah umroh dan haji yang tinggal di Makkah , tempat untuk ihrom haji adalah Makkah itu sendiri (rumah atau hotel sendiri). Untuk umrah ialah keluar dari tanah haram Makkah yaitu sebaiknya di Ji’ranah, Tan’im atau Hudaibiyah. Adapun penduduk yang tinggal di dalam area miqat, seperti penduduk Jeddah, Mustaurah, Badar, Bahrah, Umu Sulem, Syaro’i, dan lain-lain, mereka itu berihram dari tempat tinggalnya. Tempat tinggal mereka itu merupakan miqat bagi mereka semua.

Bagaimana apabila melewati Miqat Tanpa Berihram?

Syaikh As Sa’di, berkata “Siapa saja yang melewati daerah miqat tanpa berihram, maka ia harus kembali ke miqat tersebut. Ia harus kembali berihram dari miqat yang teranggap tersebut. Jika tidak kembali, maka ia punya kewajiban membayar dam.”

Contoh penduduk Indonesia yang ingin langsung berhaji atau umroh menuju Makkah, ada yang tidak berniat ihram padahal sudah melewati miqat Yalamlam. Ini merupakan kekeliruan dan ia terkena dam seperti kata Syaikh As Sa’di di atas jika tidak mau kembali ke miqat.
Apakah itu Berlaku Bagi yang Mau Berhaji dan Umroh Saja?

Menurut pendapat yang lebih kuat dan pendapat ini dianut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah karena berpegang pada tekstual hadis, yang mesti berihram ketika masuk daerah miqat adalah yang punya niatan haji dan umroh saja. Adapun jika niatannya untuk berdagang dan lainnya, maka tidak diwajibkan dalam keadaan berihram. Namun para ulama katakan bahwa siapa saja yang memasuki kota Makkah sebaiknya dalam keadaan berihram.
Bagaimana bagi yang berada di dalam daerah miqat dan berada di Makkah?

Bagi penduduk Jeddah misalnya, atau penduduk Makkah, mereka semuanya berada dalam daerah miqat, jika mereka ingin berhaji atau berumroh, maka hendaklah berihram dari tempat mereka mulai safar, bisa dari rumah mereka.

Syaikh As Sa’di mengatakan, “Penduduk Makkah bisa berihram untuk haji dari Makkah. Namun untuk umroh, hendaklah keluar menuju tanah halal untuk berniat ihram dari situ.”

Jika ada yang berkata, “Kenapa haji dan umrah bisa dibedakan seperti itu? Ini dikarenakan seluruh akitivitas umrah berada di tanah haram (tidak keluar ke tanah halal), maka diperintahkan ia keluar untuk berihram dari tanah halal. Adapun haji, tidak diharuskan berihram dari tanah halal. Karena aktivitas haji tidak semuanya di tanah haram, bahkan ada yang dilakukan di luar tanah haram, yaitu ketika wukuf di Arafah.”

Kegiatan Jamaah Umroh Haji selama di Miqat

Kegiatan jamaah umroh dan haji di miqat umroh dan haji adalah mempersiapkan diri untuk memulai ibadah umroh dan haji. Meliputi:

  1. Bila belum mandi besar atau mandi junub maka diwajibkan mandi junub dan mengambil wudlu.
  2. Memakai pakaian ihrom sesuai ketentuan. Untuk perempuan adalah menutup seluruh tubuh dari ujung kaki hingga ujung rambut kecuali telapak tangan dan muka. Meski boleh menggunakan baju warna apapaun namun yang afdol adalah warna putih. Yang perlu diperhatikan adalah lengan baju, harap ditambahkan penutup ujung tangan yang ketat sehingga waktu melakukan isti’lam atau mengangkat tangan kepada Ka’bah maka aurat tidak tersingkap.
  3. Bagi laki-laki menggunakan dua helai kain ihrom tanpa berjahit, tidak memakai topi atau peci atau surban atau penutup kepala apapun. Tidak boleh menggunakan sepatu yang menutup mata kaki. Namun diperbolehkan menggunakan sabuk tanpa berjahit juga peniti. Sabuk ini umumnya sudah bisa langsung dibeli di toko perlengkapan umroh haji atau biasanya sudah diberikan oleh pihak travel dalam satu paket perlengkapan. Kain ihrom yang afdol digunakan adalah berwarna putih.
  4. Melakukan shalat sunah ihrom dua rakaat. Ketentuan shalat sunah ini masih kilafiyah. Bagi yang meyakini dipersilakan dan bagi yang tidak meyakini juga dipersilakan.
  5. Setelah semuanya siap, maka jamaah umroh melafazkan doa dan niat umroh haji dengan cara disuarakan secara sendiri-sendiri. Maksudnya suaranya agak dikeraskan sehingga telinga kita mendengar doa tersebut.
  6. Selanjutnya berlakulah semua larangan ihrom yang wajib dihindari oleh jamaah umroh dan haji.
  7. Sepanjang perjalanan dari miqot menuju Masjidil Haram jamaah umroh agar membaca sebanyak-banyak talbiyah secara sendiri-sendiri.

Referensi:

  1. As Sa’di, Syarh ‘Umdatil Ahkam
  2. Imam Bukhari, Shahih Bukhari
  3. Imam Abu Daud, Sunan Abu Daud
  4. Imam An-Nasai, Sunan An-Nasai
  5. Shafiyyurahmân Mubarakfurî, Tarikh Makkah al-Mukarramah
  6. Muhyidîn Nawawî, al-Majmû Syarh al-Muhaddzab
  7. Sayyid Sâbiq, Fiqh as-Sunnah
  8. Wahbah Zuhaylî, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu
  9. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî
  10. Abdul Rahman Juzayrî, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah
BAGI
Artikel SebelumnyaParadoks Ka’bah
Artikel BerikutnyaWukuf