Mintalah “Kebugaran”

0
17 views

Oleh Saat Mubarok, Lc.

Allah subhanahu wa ta’ala mengambarkan Diri-Nya sangat dekat kepada hamba-Nya. “Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Diri-Ku, maka sesungguhnya Aku dekat, Aku kan menjawab permohonan dikala ia memohon kepada-KU….” (QS. Al-Baqarah : 186). Dia begitu dekat, Dia siap menjawab dan mengabulkan segala permohonan dan permintaan. Pada ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala menggunakan khithab dalam bentuk perintah agar kita berdoa, memohon kepada-Nya

“Dan Tuhanmu berfirman: \”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari ibadah (memohon) kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina\”. (Al-Mu’min : 60)

Ternyata Allah subhanahu wa ta’alatidak hanya menyuruh kita berdoa. Dia juga mengkategorikan sombong bagi orang yang enggan memohon, bahkan mengancamnya dengan jahannam. Adapun tentang apa yang kita pinta, ada begitu banyak contoh permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’alayang ada dalam firman-Nya, Al-Quran Al-Karim. Ternyata Allah subhanahu wa ta’alatidak hanya meyuruh kita meminta kepada-Nya, namun Dia juga menunjukkan sekian banyak obyek permintaan dan permohonan dalam kitab-Nya.

Selain do’a dalam Al-Quran, kita juga mendapati banyak contoh permohonan yang diajarkan Sang Tauladan terbaik, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dari sekian banyak permohonan yang perlu kita pinta kepada Allah subhanahu wa ta’alaternyata adalah masalah “KEBUGARAN”, demikian jawaban beliau dikala seorang sahabat -yang juga paman beliau- ketika minta diajarkan tentang apa yang mesti ia pinta kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

عن أبي الفضل العباس بن عبد المطلب، رضي الله عنه، قال: قلت يا رسول الله: علمني شيئاً أسأله الله تعالى، قال: سلوا الله العافية فمكثت أياماً، ثم جئت فقلت: يا رسول الله: علمني شيئاً أسأله الله تعالى، قال لي: يا عباس يا عم رسول الله، سلوا الله العافية في الدنيا والآخرة. رواه الترمذي وقال: حديثٌ حسنٌ صحيحٌ.

 

Dari Abul Fadhl al-‘Abbâs bin ‘Abdil Muththalib radhiyallâhu ‘anhu , (paman Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam), ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allâh Azza wa Jalla!”. Beliau menjawab, ‘Mintalah afiat’. Selang beberapa hari kemudian, aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sesuatu yang aku minta kepada Allâh Azza wa Jalla!”. Beliau bersabda kepadaku, “Wahai ‘Abbas, paman Rasûlullâh, mintalah kepada Allâh afiat di dunia dan akhirat”. (HR. At-Tirmidzi, beliau berkata hadits ini hasan shohih)

Dalam bahasa keseharian kita, kata ‘afiat sering dipadukan dengan kata sehat sehingga terbentuklah frase ‘sehat wal afiat’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , kata afiat merupakan sinonim dari kata ‘sehat’, sehingga pengertian frase tersebut menjadi (dalam kondisi) ‘sehat dan sehat’.

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam mempergunakan kata itu dalam doa diatas.  Pengertian ‘afiat  cakupannya luas dan berdimensi dunia dan akhirat. Sehingga jika kita meminta ‘afiat kepada Allah subhanahu wa ta’alasejatinya kita sedang meminta agar kita diberi kebugaran fisik dan ruhani, dijaga diri kita dari segala hal yang berdampak buruk kepada diri kita, baik jasmani maupun ruhani. Maka termasuk didalamnya segala penyakit yang mengancam kebugaran fisik, membuatnya menjadi lemah serta segala keburukan yang mengancam kesehatan jiwa. Dan ini kita kaitkan dengan kondisi kita baik di sini -di dunia ini- atau kelak di akherat.

Oleh karenanya selagi kita masih di sini, di muka bumi ini, mintalah kepada Allah swt, untuk diberi ‘afiat atau kebugaran ‘plus’, kebugaran yang membuat kita bisa melakukan banyak aktifitas yang memang secara formal bernilai ibadah juga melakukan segala aktifitas yang banyak dinilai sebagai aktifitas dunia saja, namun sejatinya bisa bernilai akherat. Maka berlindunglah kita kepada Allah subhanahu wa ta’aladari kebugaran yang hanya bisa kita pakai untuk urusan biasa, namun berat untuk dipergunakan dalam masalah ketaatan dan ibadah. Karena banyak yang kuat berlama-lama membaca novel yang digemari, namun susah untuk sejenak membaca firman-Nya, banyak yang kuat untuk begadang menikmati satu tontonan, namum sangat berat untuk terjaga demi melakukan ibadah di jam yang sama, walau ia tahu hal itu akan membuatnya diberi kedudukan yang mulia, maqaamam mahmuuda.

Yaa Allah…. Bugarkanlah jasmani kami, penglihatan, pendengaran kami…

Karena inilah modal kami tuk bisa banyak berkarya, mudahkan kami mensyukurinya karena kelak Engkau kan menanyakan amanah ini dan gabungkan kami bersama orang-orang yang Engkau sebut sebagai kelompok yang sedikit, yaitu Qalillam maa Tasykuruun…  

Wallahu a’lam.