Mereka Tak Merdeka

0
174 views
sorakaro.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Merdeka atau terjajah kadang seperti permainan. Mereka yang sedang menginginkan sesuatu, kepentingan apapun itu, sering memekikkan derita keterjajahan. Dan mereka yang sedang mempertahankan sesuatu, kepentingan apapun itu, biasanya memproklamirkan kemerdekaan. Dan kita hampir tidak ada waktu untuk menilai mana di antara mereka yang berdusta.

Terkadang ada sekelompok mayoritas yang tidak jarang mengaduh pilu sedang terluka seraya memproklamirkan bahwa mereka terjajah. Persentase jumlah mereka mereka pelototi dalam-dalam tanpa jeda. Setiap gerak menurun dalam presentase adalah alasan untuk meneriakkan derita keterjajahan dan mungkin pula alasan untuk berontak.

Di sisi lain pemangku kebijakan dengan pasti mengkutbahkan bahwa tidak ada masalah yang serius dan kita baik-baik saja. Lalu bagaimana dengan presentase? Mana ada persentase yang statis? Dinamika adalah sesuatu yang niscaya. Sekali lagi, tidak cukup waktu untuk menilai mana di antara mereka yang gombal.

Namun kita patut curiga, jangan-jangan tidak pernah penting bagi mereka merdeka itu apa dan tidak penting apakah kita sungguh merdeka atau sedang terjajah. Mereka yang mengaduhkan derita keterjajahan lebih mementingkan agenda di balik ilusi keterjajahan yang mereka kobarkan. Demikian pula dengan mereka yang berkuasa berkepentingan untuk berkata bahwa kita sudah merdeka dan kita tidak kurang suatu apa.

Mereka barangkali tidak memahami bahwa ada satu kata yang selalu hidup bersama dengan kemerdekaan, yaitu pengorbanan. Tanpa pengorbanan, tidak akan pernah ada kemerdekaan. Pun, untuk mempertahankan kemerdekaan, pengorbanan harus selalu hadir. Dan di antara pengorbanan yang paling berat adalah mengorbankan kepentingan pribadi serta kelompok agar anyaman kemerdekaan tetap utuh, tak terkoyak.

Namun mereka memang aneh. Atas nama kepentingan diri dan kelompok, mereka meneriakkan rasa keterjajahan sekaligus merasa memperjuangkan kemerdekaan padahal kepentingan merekalah yang sesungguhnya ada pada ego mereka. Namun ada pula yang tidak pula kalah anenhya. Yang mereka teriakkan adakah kemerdekaan seraya diam-diam menjajah.

Selain mereka sama-sama aneh, satu hal yang membuat mereka sama adalah sama-sama tidak bersedia berkorban demi kebersamaan dalam perbedaan kepentingan. Yang mereka tahu hanyalah pengorbanan untuk kepentingan masing-masing. Mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan tidak lebih dari cara yang malah membawa kepada jurang penjajahan. Mereka tidak sadar bahwa merekalah yang sesungguhnya tidak merdeka. Mereka terjajah oleh kepentingan mereka.

Siapakah mereka? Mereka adalah kita.

Selamat merdeka dan selamat berkorban![]

BAGI
Artikel SebelumnyaWukuf
Artikel BerikutnyaTahallul