Merealisasikan Target Terpenting dalam Beribadah

0
36 views

Ma`asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Iman yang diharapkan bersemayam dalam dada kita sebagai hamba Allah swt adalah iman yang mampu menggerakkan diri kita untuk melakukan aktifitas-aktifitas kebaikan dan menjauhkan diri kita dari setiap perbuatan yang mungkar.

Bukan iman yang hanya berupa ungkapan penghias lisan, tidak juga angan-angan kosong yang mengisi benak kita, namun ia adalah cahaya yang menerangi, ruh yang menggerakkan dan amal yang membuktikan.


Dengan ibadah yang dilakukannya seorang mukmin akan terjaga dari melakukan hal-hal yang diharamkan, dan ini sebagai bukti kebenaran imannya serta tercapainya target ibadah yang dikerjakannya.

 

Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ…

“Jagalah dirimu dari hal-hal yang haram, niscaya kamu akan menjadi manusia yang paling menghamba (kepada Allah)”. (HR. Imam Turmidzi)

 

Hadits ini menekankan kepada setiap muslim agar menjaga dirinya dari apa-apa yang diharamkan, apabila ia berharap menjadi manusia yang paling menghamba kepada Allah, menjadi ahli ibadah yang paling hebat. Karena memang salah satu target terpenting dari ibadah adalah merealisasikan ketaatan mutlak kepada Allah swt dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya.

Kenapa orang yang menjaga dirinya dari perkara haram menjadi pribadi yang paling hebat tingkat penyembahannya kepada Allah swt ?

hal ini karena memang salah satu ibadah yang terbaik adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang haram, dan mencegah diri dari perkara haram adalah target utama setiap ibadah yang Allah perintahkan, sholat misalnya,

 

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut : 45)

Disamping itu, ibadah juga memiliki fungsi penghapusan dosa jika ibadah itu dilakukan bersamaan dengan upaya menjauhkan diri dari melakukan perbuatan yang dilarang. Dan ketika seorang mukmin menjauhkan dirinya dari perkara yang dilarang, kedhaliman misalnya, maka ia akan menjaga keutuhan pahalanya, karena bagi mereka yang berbuat dhalim, di akherat kelak, terancam akan terkurangi pahalanya dan diberikan kepada mereka yang dizhaliminya.

Demikianlah bagi mereka yang beriman dan menjaga dirinya dari perkara yang diharamkan akan menjadi manusia yang paling menghamba dan paling tinggi tingkat ibadahnya kepadaAllah swt.

Hadirin yang dirahmati Allah…

Bagaimanakah cara kita menjauhkan diri dari perkara yang haram?

Ada beberapa sarana  yang bisa digunakan seorang muslim untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang diharamkan, agar ia menjadi manusia yang paling menghamba;

Pertama, Pengetahuan Tentang Perkara Yang diharamkan

Tanpa pengetahuan yang jelas tentang hakekat halal dan haram orang akan mudah terjerumus pada perkara yang haram. Mereka yang tidak memahami rambu-rambu akan mudah melanggar lalulintas. Oleh karenanya kuwajiban mencari dan menuntut ilmu menjadi satu kuwajiban sepanjang masa.

Kedua, Upaya Tazkiyatun Nafs

Seringkali pengetahuan saja tidak cukup untuk menjadikan seseoang menjahui perkara yang dilarang. Terbukti kebanyakan pencuri tahu bahwa perbuatannya adalah sesuatu yang dilarang baik oleh agamanya ataupun negara, namun tetap saja ia melakukanya. Yang menjadi pendorong terkuat bagi merka yang melakukan tindakan dosa adalah ketundukan dirinya pada nafsu dan syahwatnya serta kelemahan dirinya menghadapi rayuan syetan.

Oleh karena itu upaya tazkiyatun nafs, melakukan pensucian jiwa dari hal-hal yang mengotori jiwa seperti membersihkan diri dari sifat tamak, dengki, iri kebencian, kikir, tidak Qana`ah dan penyakit hati lainnya, akan membuat seseorang terjauhkan dirinya dari malakukan perkara haram.

Dengan jalan ini, seorang muslim akan mampu menepis rayuan setan dan menguasai senta mengendalikan dorongan syahwatnya untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama.

Ketiga, Penegakan Hukum

Salah satu yang membuat seseorang mudah menjauhi perkara yang dilarang adalah ketika hukum itu ditegakkan. seorang penjahat akan mudah melakukan tindakannya bahkan terus mengulanginya jika tidak ada penegakan hukum yang benar atas kejahatan yang dilakukannya. Atau mungkin ditegakkan namun sekedar penegakan basa-basi yang masih sangat mungkin bagi para penjahat untuk mengakali hukum tersebut.

 

Demikian terkait masalah penegakan hukum dan pengaruhnya pada kehidupan,  Allah swt berfirman;

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

(QS. Al-Baqarah/2 : 179)

Keempat, Amar Ma`ruf Nahi Mungkar

Kadang, walau hukum telah ditegakkan, hukuman berat mengancan setiap mereka yang melakukan tindak kejahatan namum masih juga tidak memberikan efek jera kepada sebagian orang khususnya bagi mereka yang bisa berkelit dari jangkauan hukum.

Maka kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan, adanya upaya amar ma`ruf nahi mungkar, saling nasehat-menasehati akan membuat satu sama lain terjaga dari melakukan tindak kesalahan. Demikianlah betapa sangat dibutuhkan peran para da`i dalam masyarakat. Oleh karenanya Allah swt mengarisbawahi perlunya adanya sekelompok orang yang terus mengajak kepada kebaikan dan mencegah orang lain melakukan kemungkaran.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran/3 : 104)

 

Kelima, Berdo`a kepada Allah swt

Diantara sarana yang penting untuk menjauhkan seseorang dari melakukan perkara yang diharamkan adalah “DOA”, memohon kepada Allah yang menguasai kondisi hati setiap hamba-Nya, untuk meneguhkan hatinya pada jalan kebenaran, menjauhkan diri dari kemungkaran. Ini semua karena sifat hati yang mudah berbolak-balik dan kecenderungan iman yang naik turun.

Demikianlah Rasulullah mengajarkan kepada kita agar senantiasa berdo`a;

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلبي دِيْنِكَ

”Yaa..Muqallibal quluub ..tsabbit qalbi `ala diinik..

Wahai dzat yang menguasai berbolak-baliknya hati, teguhkanlah hatiku dalam (jalan) agama-MU”

Demikian khutbah singkat ini, semoga bekal iman dan islam yang telah kita miliki akan membawa kita semua menjauhi perkara yang diharamkan dan menjadikan diri kita mudah melakukan amalan-amalan kebaikan sehingga kita menjadi pribadi mukmin yang paling menghamba kepada Allah subhanahu wa ta`ala.