Merasa Tuhan

0
23 views

Oleh Abd. Muid N.

Seorang guru berkisah. Seusai kiamat dan seluruh manusia telah dibangkitkan, tidak seorang pun bangkit dengan wajah cerah. Semua tertunduk, murung. Tidak percaya diri. Dosa yang mereka perbuat di dunia membuat bayang-bayang ancaman siksa neraka menggenang di mana-mana.

Di tengah keterdesakan sedemikain, secara instingtif, manusia pada waktu itu mencari orang yang mereka anggap mampu menjadi pembela, lalu mereka mengingat para nabi. Bukankah nabi adalah orang suci dan punya relasi istimewa dengan Sang Penguasa Hari Pembalasan? Besar kemungkinan mereka mampu dan bersedia menjadi pembela.

Lalu manusia mendatangi Nabi Adam as, kakek moyang manusia. Ke mana lagi anak cuuc Adam meminta bantuan jika bukan kepada orang tuanya? Namun manusia kecewa. Nabi Adam as tidak kalah murungnya dengan seluruh manusia. Itu terjadi karena jangankan membela manusia lain, membela diri sendiri saja Nabi Adam as ragu. Beliau selalu terngiang dosa menyantap buah khuldi. Ampunan yang dulu telah Allah swt berikan tidak cukup untuk menghilangkan rasa berdosa beliau.

Tentu saja manusia tidak putus asa. Masih banyak nabi selain Nabi Adam as yang bisa mereka datangi dan gantungi harapan. Konon jumlah nabi dan rasul mencapai 124.000. Namun cerita dipersingkat. Ketidaksediaan banyak nabi untuk menjadi penjamin keselamatan manusia membawa manusia kepada dua harapan terakhir, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw. Cerita ini mudah tebak endingnya. Tentu saja happy ending. Nabi Muhammad saw lah yang bersedia menjadi penjamin, namun yang menarik adalah ketidaksediaan Nabi Isa as.

Nabi Isa as tidak bersedia menjadi pelindung karena beliau merasa berdosa akibat banyak manusia yang menganggapnya Tuhan. Inilah yang mencengangkan. Jika Nabi Adam as murung karena dosa yang diperbuatnya, Nabi Isa as malah tidak percaya diri akibat perbuatan yang tidak diperbuatnya. Nabi Isa as tidak pernah mendaku menjadi Tuhan dan Allah swt pun tahu itu. Ada kemungkinan persoalan yang mengganggu pikiran Nabi Isa as memang bukan persoalan sepele karena menyangkut pengakuan menjadi Tuhan.

Jika memakan buah khuldi adalah dosa dan menjadi Tuhan juga adalah dosa, maka mudah dinilai dosa merasa menjadi Tuhan adalah dosa yang benar-benar serius. Jauh lebih serius daripada memakan buah khuldi sekeranjang. Itulah mungkin yang menjadi penyebab Nabi Isa as tidak percaya diri meski itu perbuatan yang tidak dilakukannya.

Agama lebih cenderung menganggap manusia secara alami memang pasti mempunyai ide tentang Tuhan, sebuah zat yang serba maha. Itulah bukti bahwa beragama dan bertuhan adalah sesuatu yang alami, bawaan lahir. Yang menjadi masalah adalah jika ide tentang adanya Tuhan itu membawa manusia memahami bahwa dirinya sendiri lah Tuhan itu sendiri.

Jika itu masalahnya dan itu pula uniknya, persoalan yang menghinggapi Nabi Isa as memang benar-benar serius. Namun yang unik adalah mengaku menjadi Tuhan itu berada dalam jalur yang sama dengan mengakui bahwa Tuhan itu ada. Dan itu sama sekali berbeda jalur dengan mereka yang memang tidak mengakui adanya Tuhan.

Lalu mengapa Nabi Isa as begitu merasa berdosa pada hal yang tidak diperbuatnya? Ada kemungkinan karena merasa menjadi Tuhan itu adalah hal yang mendasari banyak macam dosa, meski barangkali tidak semua. Misalnya sombong. Rasa sombong hanya mungkin ada jika ada rasa menjadi Tuhan di dalam hati, meski setitik. Betapa orang sombong tidak disebut merasa menjadi Tuhan jika kesombongan mereka sebenarnya berasal dari perasaan bahwa sesuatu yang dimilikinya adalah miliknya sejati, bukan pemberian dari Tuhan. Perasaan sebagai pemilik sejati sejatinya hanya hak Allah swt. Jika ada yang merasa seperti itu, maka dia telah merasa menjadi Tuhan.

Contoh lain adalah kikir. Kikir hanya terjadi jika seseorang mempunyai rasa pemilikan penuh terhadap harta benda yang dipunyainya. Dan rasa pemilikan penuh hanya layak di sisi Allah swt, tidak di sisi manusia. Merasakannya sama dengan merasa menjadi Tuhan. Dan wajar kiranya Nabi Isa as tetap murung atas dosa yang bahkan tidak diperbuatnya.[]