Merambat

0
429 views
pxleyes.com

Dr. Abd. Muid N., MA.

Mengutip Gilbert Ryle, Yasraf Amir Piliang—dalam bukunya Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi (Bandung: Mizan, 2011)—mendefinisikan imajinasi sebagai struktur mental menyangkut bagaimana seseorang membuat potret dunia (world picture), yaitu konsepsi, logika, dan keyakinan tertentu. Dengan itu, manusia membentuk imajinasi mereka tentang segala hal, termasuk tentang waktu, tentang tahun baru, tahun lama, dan pergantian tahun.

Di kala tahun merambat memasuki penghujung dan menjelang pembuka, banyak yang merayakan, mungkin dengan maksud mensyukuri, mungkin tidak, mungkin hanya gagah-gagahan. Semua itu berawal dari bagaimana orang-orang berimajinasi tentang waktu itu sendiri. Barangkali tidak ada perdebatan tentang betapa pentingnya waktu karena berdasarkan waktu, manusia menyusun rencana-rencana. Masa lalu dijadikan pelajaran untuk masa depan. Masa kini adalah momentum tindakan untuk masa depan dengan berbekal masa lalu.

Lalu, di mana perdebatan itu terjadi? Pada pentingnya waktu? Tentu, tidak. Tidak ada yang menyangkal pentingnya waktu dan otomatis juga pergantiannya karena sudah menjadi mutlak bagi waktu untuk selalu berganti dan tidak pernah jeda. Pada perayaannya? Barangkali tidak. Jika waktu memang penting, maka sangat wajar jika ada perayaan pada waktu tertentu, termasuk pada pergantian waktu. Kita tahu bahwa ada dua hal yang mutlak dalam realitas yaitu ruang dan waktu. Keterikatan pada ruang tertentu—seperti tanah tumpah darah—tidak akan pernah lekang. Karena itu, pergantian atau perpindahan tempat pastilah sebuah peristiwa yang sangat menguras rasa. Demikian pula waktu.

Lalu mungkin perdebatan yang tersisa—atau sengaja disisakan—hanyalah pada bagaimana merayakannya; dan itu—sekali lagi—tergantung pada bagaimana kelompok tertentu mengimajinasikan waktu.

Islam termasuk agama yang tidak menyangkal pentingnya waktu dan karena itu, ada perayaan tertentu dalam Islam yang sangat berkaitan dengan waktu serta pergantiannya. Kita pasti tahu bahwa masa pergantian antara malam dan siang diisi dengan shalat Subuh; masa pergantian antara siang dan malam diisi dengan shalat Magrib; dan begitulah ritual dalam Islam yang tidak jarang berkaitan dengan waktu.

Imajinasi Islami tentang waktu sering berkaitan dengan ungkapan rasa syukur atas waktu yang berlalu dengan segala nostalgianya dan juga syukur atas waktu yang akan datang sebagai kesempatan lain yang diberikan oleh Allah SWT berupa lembaran baru kehidupan. Jika lembaran lama kehidupan berisi penuh kekurangan yang berdampak rasa khawatir (al-khawuf), maka ada harapan (al-rajâ’) dan juga doa kepada Allah SWT agar lembaran baru kehidupan di masa datang bisa jauh lebih baik.

Rasa khawatir (al-khawuf) juga menjalari rasa tentang masa depan yang tidak pasti dan mungkin tidak cerah. Tapi bukankah kita punya Allah SWT yang selalu menawarkan harapan (al-rajâ’)? Dan jika itu berarti ada silaturahmi sederhana, mengapa tidak? Dan jika itu berarti ada perayaan yang berisi tawa bersama keluarga dan sahabat, mengapa tidak? Dan jika di sana ada doa, itulah yang paling penting.

Bahan Bacaan

Yasraf Amir Piliang, Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi (Bandung: Mizan, 2011)