Menyoal Identitas

0
166 views

Teori Identitas diperkenalkan oleh Henri Tajfel, seorang keturunan Yahudi Polandia,yang lahir di Wloclawek 22 Juni 1919. Menurut Tajfel, Social Identity (identitas sosial) adalah bagian dari konsep diri seseorang yang berasal dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial bersamaan dengan signifikansi nilai dan emosional dari keanggotaan tersebut. Social identity berkaitan dengan keterlibatan, rasa peduli dan juga rasa bangga dari keanggotaan dalam suatu kelompok tertentu.[i]

Dalam dunia seperti yang digambarkan oleh McLuhan sebagai Global village, diskursus identitas merupakan sebuah proses yang menarik dalam kerangka memaknai sebuah realitas. Keberagaman (plurality) identitas adalah sebuah trend yang pada saat sekarang ini berhadapan dengan kesadaran untuk mempertahankan keunikan dari setiap identitas.. Ada ketegangan antara “menjadi dan ada” dalam lokalitas dengan kekhasannya dan “menjadi dan ada” dalam sebuah desa global yang sama.[ii] Jika realitas dipahami sebagai teks yang membutuhkan interpretasi, maka Derrida, seorang filosof Perancis keturunan Al-Jazair,  menawarkan sebuah cara pandang berbeda dalam memahami dan memaknai keberagaman. Bagi Derrida, ia memberikan kebebasan untuk mengekplorasi sebuah teks, termasuk identitas, yang akan membawa pada keberagaman makna. Akibatnya, makna tidak menjadi tunggal, yaitu bahwa dalam realitas ada berbagai makna yang dapat dihasilkan oleh pembacaan yang berbeda.[iii]

Dunia yang terintegrasi dalam jejaring media menjadikan keunikan identitas semakin buram. Yasraf Amir Piliang menyebutnya sebagai Pos-Realitas, atau Hiperealitas dalam bahasa  Baudrillard dan Umberto Eco, dimana dunia artifisial mengambil alih dunia nyata. Dunia artifisial itu kemudian merenggut apa yang sebelumnya disebut sebagai realitas alamiah, seperti kedekatan manusia dengan alam, keaslian, eksotisme alam, warisan luhur kebudayaan, serta kekuatan spiritual yang selama ini merupakan magnit dunia kehidupan.[iv]

Identitas dalam Dunia Posrealitas

Dalam pergumulan global village yang ditandai dengan hadirnya posrealitas atau hiperealitas, maka antara satu identitas dengan identitas yang lain saling mengkopi sehingga terjadi imitasi dan dimungkinkan untuk menyalin suatu realitas kedalam realitas lain yang lebih sempurna (perfect simulacrum).[v] Di sinilah seringkali terjadi pengaburan identitas. Terkadang Barat tampil dengan citra asia, asia lebih berwarna Arab, dan Arab seperti Barat atau percampuran antara masing-masing yang semakin absurd. Dalam bahasa Huntington, percampuran budaya itu memang lebih longgar dibanding percampuran agama. Tetapi, identitas budaya yang beragam itu justru pada saatnya akan melahirkan benturan-benturan ketika masing-masing kembali ingin menghadirkan identitas otentiknya masing-masing.

Sebagaimana watak asli dari posrealitas yang tidak lagi melulu menapakkan kaki di atas realitas faktual, maka identitas seakan berjalan dalam rentang ruang dan waktu yang tak berbatas. Kemudian mengalami kamuflase atau imitasi dari satu identitas kepada identitas yang lain. Dalam dunia posrealitas, hampir tidak jelas batas dan perbedaan antara kaya dan miskin, dunia Barat dan Timur, kulit hitam dan putih atau warna apapun. Setiap entitas sosial tersebut dapat mengikatkan dirinya ke dalam suatu identitas budaya tertentu, atau dalam bahasa Yasraf Piliang, ke dalam segmentasi sosial tertentu, tanpa terbatasi oleh identitas pribadinya. Hasrat ini mengalir secara global dan menciptakan deteritorialisasi serta duplikasi ruang yang tiada henti.[vi]

Dalam konteks relasi identitas Islam dan Barat, menjadi sulit menarik garis demarkasi tegas  mana yang (murni) Islam dan mana yang (murni) Barat. Semuanya berbaur dalam suatu ruang yang sama, saling mempengaruhi; pada saat yang sama, berusaha mengambil kuasa atas satu sama lain. Yang timbul kemudian adalah hegemoni dimana hiperealitas yang dikendalikan oleh media meruncing pada dua kepentingan besar, yaitu ekonomi dan politik, yang di dalamnya  objektivitas, kebenaran, keadilan, dan makna sebagai kepentingan publik seringkali terkalahkan oleh subjektivitas, kesemuan, dan permainan bahasa (language game). Media tidak lagi berpijak di atas dan untuk kepentingan identitas, malah sebaliknya terkadang menjadikan identitas sebagai bagian dari language game untuk mencapai kepentingan hegemoninya.

Pergumulan Identitas Islam dan Barat

Melihat hubungan Islam dan Barat saat ini, persoalan identitas budaya merupakan problematika yang rumit dan kusut. Berbagai konflik yang mewakili dan atas nama keduanya yang menjadi warna dalam percaturan politik global tidak lepas dari kehendak mempertahankan identitas masing-masing. Konflik Israel-Palestina tidak dapat dibaca sebatas konflik antar dua negara yang memperebutkan wilayah atau semata-mata sebagai pertarungan mempertahankan ideologi, tetapi di sana ada kehendak mempertegas identitas peradaban yang di dalamnya terangkum sejumlah entitas kebudayaan. Klaim atas Al-Aqsa adalah salah satu contoh perebutan identitas kebudayaan. Konflik Israel-Palestina menjadi semakin rumit jika kita melihat perselingkuhan Arab Saudi dan Israel, sebagaimana ditulis oleh Mulawarman,[vii] yang semakin menegaskan bahwa identitas Islam dan Barat dalam konflik global saat ini semakin memburam. Islam – yang diwakili oleh Arab Saudi – tidak lagi 100 persen anti Israel, atau sebaliknya Barat tidak juga 100 persen memusuhi Islam.

Pasang surut hubungan Islam dan Barat juga dapat dilihat dari kebijakan Amerika terhadap Islam pada masa pemeritahan Obama dan Trump. Obama lebih dapat bermesraan dengan Islam – mungkin juga dipengaruhi oleh latar belakang identitas pribadinya sebagai Afro-Amerika yang memiliki hubungan emosional dengan Islam – sementara Trump lebih menampilkan kesan “permusuhan”. Kebijakan kedua pemimpin Amerika ini berdampak pada sikap negara-negara Timur Tengah dalam melihat Barat atau sebaliknya.

Pada level sosial, kehadiran umat Islam di sejumlah negara-negara eropa dalam suatu proses migrasi yang berlangsung lama juga turut mempengaruhi relasi identitas budaya keduanya. Kehadiran umat muslim di Barat sering ditampilkan sebagai problem religius, nilai, dan budaya yang harus dialamatkan kepada argumen-argumen teologis, aturan legal, dan nilai yang tak terbantahkan.[viii] Padahal, kebudayaan Barat tidak bisa dilepaskan dari campur tangan kebudayaan Islam. Banyak tesis yang menyebutkan bahwa renaisans yang terjadi di Barat adalah kelanjutan dari era keemasan Islam di wilayah yang berbeda. Hal ini bisa dipahami sebab berkembangnya ilmu pengetahuan dan kesadaran diri untuk bebas dari hegemoni gereja dan kapitalisme di Barat tidak lepas dari pengaruh gerakan averoisme.[ix]

Suatu fenomena mutakhir yang cukup mencengangkan adalah bahwa Islam mengalami kebangkitan di dunia Barat. Fenomena ini semakin nyata pasca terjadinya penyerangan 11 September (9/11 attack) ke Gedung WTC di Washington DC. Serangan ini telah menyebabkan apa yang disebut sebagai unintensconsecuences (akibat tak sengaja) dengan semakin banyaknya orang Barat yang memeluk Islam.[x]  Yang menarik bahwa kebangkitan ini tidak hanya bersifat temporal atau sekedar mengikuti tren, tetapi bersifat substansial. Pertambahan kuantitas muslim di Barat tidak lagi sebatas karena adanya perpindahan (migrasi), tetapi juga antara lain oleh faktor kelahiran generasi-generasi muslim di Barat dan, yang terbaru, karena perpindahan agama secara sadar.

Di negara-negara Barat mulai menguat kelas menengah muslim yang memainkan peran sosial dan pilitik yang sentral. Hal ini berimplikasi pada perolehan hak-hak muslim sebagai warga negara yang diakui keberadaannya. Muslim tidak lagi sekedar menjadi the second class dalam pergaulan sosial masyarakat Barat, tetapi mengambil dan memainkan peran-peran sentral yang dapat memengaruhi kebijakan dan sudut pandang politik.

Sepertinya Islam dan Barat memang dua sejoli yang akan selalu beriringan sembari bercumbu satu sama lain, tetapi di lain waktu berjalan saling membelakangi sambil menebar kemarahan dan kebencian.

 

Endnotes

[i] Darman Syarif, “Teori Identitas Sosial”, dalam http://disertasiq.blogspot.co.id/2017/06/teori-identitas-sosial-social-identity.html, diakses pada tanggal 23 Januari 2018

[ii] Mudji Sutrisno & Hendar Putranto, Teori-teori Kebudayaan, cet. Ke-5, Yogyakarta: Kanisius, 2009, hal. 164

[iii] Mudji Sutrisno & Hendar Putranto, Teori-teori Kebudayaan, … hal. 173

[iv] Yasraf Amir Piliang, Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, Yogyakarta: Jalasutra, 2004, hal. 54

[v] Yasraf Amir Piliang, Posrealitas:… hal. 57

[vi] Yasraf Amir Piliang, Posrealitas:,… hal.132

[vii] Dr. Mulawarman Hannase, MA.Hum, “Sektarianisme dan Aliansi Baru Israel-Arab Saudi”, dalam http://teritorial.com/opini/sektarianisme-dan-aliansi-baru-israel-arab-saudi/ diakses pada 23 januari 2018

[viii] Abd. Muid N., The New We: Relasi Identitas dan Budaya dalam Pemikiran Tariq Ramadan, Jakarta: Nuqtah, 2012, hal. 72

[ix] Lih. “Averoisme dan Perkembangan Pemikiran Barat” dalam http://nuansaislam.com/averroisme-dan-perkembangan-pemikiran-barat/

[x] Syahrin Harahap, Islam dan Modernitas: Dari Teori Modernisasi Hingga Penegakan Kesalehan Modern, Jakarta: Penerbit Kencana, 2015, hal. 264