Menyikapi Pengemis

0
148 views

Menyikapi pengemis memang merupakan sebuah dilema moral yang tidak akan pernah berhenti. Di satu sisi, kita sebagai sesama umat manusia yang memiliki akhlak dan budi pekerti diwajibkan untuk membantu mereka yang berkekurangan. Tapi di sisi lain, ketika kita memberikan bantuan, yang sering kali berupa uang, semata-mata akan hanya menjadikan para pengemis itu semakin malas untuk bekerja dan justru tingkat pertambahan para gelandangan dan pengemis (gepeng) akan semakin meningkat. Dilema itu juga akan semakin besar ketika kita melihat pengemis yang sudah renta, anak-anak yang seharusnya bersekolah tapi berkeliaran di gerbong-gerbong kereta api, dan gepeng yang memiliki keterbatasan fisik.

 

Sudah menjadi pemandangan yang khas kalau kita menggunakan jasa angkutan kereta api ekonomi kita akan menjumpai banyak pengemis lalu lalang dengan berbagai macam kondisi dan seribu satu gaya. Kebanyakan mereka mengalami cacat fisik, ada beberapa juga yang sudah sangat renta ditemani dengan sebuah tongkat di tangannya, ada juga ibu-ibu yang menggendong balita dan anak-anak seusia SD di belakangnya, bahkan ada juga beberapa yang secara fisik masih kelihatan segar dan kuat bekerja.

Diantara penumpang kereta ada yang memberi sedekah dan ada yang tidak. Tidak bisa diketahui secara pasti alasan mereka yang tidak mau memberikan sedekah. Namun pernah terdengar beberapa kali ketika pengemis lewat, beberapa penumpang mengatakan bahwa mereka mempunyai bos yang menyuruhnya; atau ketika ada pengemis anak kecil yang yang menghiba minta sedekah dengan alasan untuk makan, ada yang mengatakan bahwa sebenarnya anak itu mempunyai orang tua. Para pengemis itu menjalankan operasi tersebut hampir setiap hari.

Terlepas dari benar tidaknya penilaian para penumpang kereta api tersebut, kemungkinan terkuat alasan beberapa pihak yang kadang tidak memberikan sedekah adalah karena tidak mau terlalu “memanjakan” para pengemis tersebut. Bagi mereka yang masih memiliki fisik yang baik seharusnya mereka lebih berusaha keras dalam mencari nafkah, meskipun hanya dengan modal kemampuan baca dan tulis serta memiliki sedikit keterampilan, atau minimal dengan bermodalkan tenaga. 

Ironisnya lagi, pemandangan tersebut bukan hanya kita temui di kereta api tetapi juga di perempatan jalan, lampu merah, stasiun, terminal, dan dalam bis kota banyak pengemis lain yang tetap konsisten dengan profesinya. Mereka terlena dengan kemalasannya dan puas dengan hasil yang didapat dengan cara mudah tanpa usaha maksimal. Mereka selalu berlindung di balik kalimat susah mencari pekerjaan untuk melegalkan pekerjaan mereka dan menutup mata terhadap orang lain yang mengais rezeki dengan susah payah dan tertatih-tatih. Dulu, orang mengemis karena lapar. Tapi kini, mengemis dijadikan profesi sebagai sumber penghasilan satu-satunya tanpa nelakukan atau berusaha mencari pekerjaan lain.

 

Salah satu contoh misalnya, ada sepasang kakek-nenek yang setiap hari berjualan kembang (tanaman hias) keliling. Mereka berdua dengan tubuh rentanya tergopoh-gopoh mendorong gerobaknya mengelilingi komplek perumahan pertanian Citayam. Sesekali mereka istirahat sejenak sekedar mengeringkan peluh yang bercucuran atau jika sudah ada rezeki mereka berlindung di bawah pohon sambil menikmati sepiring ketoprak. Sesudah itu mereka kembali berjualan meski matahari terus merambat naik, sungguh kegigihan yang patut dicontoh.

 

Dari uraian di atas, kita bisa menilai bahwa jika kita tidak bisa memberikan sedekah pada orang yang tepat maka secara tanpa sadar kita sebenarnya sudah memanjakan mereka. Mengasihani dengan cara yang kurang tepat sehingga para pengemis itu semakin asik dengan pekerjaannnya. Tentu kita pernah mendengar bahwa seorang pengemis dalam satu hari ada yang sanggup mengumpulkan uang hingga lima puluh ribu rupiah hanya dengan menadahkan tangan saja! Bandingkan dengan sepasang kakek-nenek tadi atau tukang becak yang belum tentu sanggup memperoleh setengahnya dalam satu hari.

 

Memberi pengemis memang tidak salah. Apalagi jika pengemis itu sudah sangat tua atau cacat. Tapi, kita harus lebih bijak memilih pengemis. Alangkah lebih baiknya jika uang itu disalurkan kepada orang yang tepat dengan cara yang santun. Misalnya dengan melebihkan upah tukang becak, atau tidak menawar dagangan yang kta beli pada pedagang kecil, atau sengaja memberi upah kepada penarik sampah, dan usaha lain yang serupa. Pemberian kita akan lebih bermakna, tidak hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita sendiri, karena biasanya mereka akan mendoakan lebih banyak daripada sekadar ucapan terima kasih.

 

Disebutkan juga bahwa suatu hari ada seorang pemuda datang ke Rasulullah saw., untuk meminta sedekah. Melihat pemuda tadi sehat jasmani dan berbadan kekar, Rasulullah lalu memberinya sebuah kapak. “Dengan kapak ini kamu bisa bekerja karena sebaik-baiknya rezeki adalah berasal dari usaha tangan sendiri.”

 

Maka sebelum kita merogoh uang sedekah untuk pengemis yang kelihatan masih muda, segar bugar, dan tanpa cacat, ingatlah seorang tukang becak yang sedang mengayuh pedal becak dengan peluh di sekujur tubuhnya, atau seorang kuli pasar yang terbungkuk-bungkuk dengan beban puluhan kilo di punggunggnya, atau para petani dan para kuli bangunan yang terpanggang matahari. Atau tukang sampah yang kepayahan menarik gerobak sampahnya, atau penjual celengan keramik yang kepayahan dengan beban dagangan di pundaknya, atau pemulung yang sedang menghitung tumpukan kardus dari karung besarnya, dan masih banyak contoh pekerkaan lain yang upah atau keuntungannya tidak sepadan dengan tenaga dan keringat yang dikorbankan.

BAGI
Artikel SebelumnyaSayang Anak
Artikel BerikutnyaApa Itu Dunia Muslim?