Menyikapi Musibah

0
164 views

Sejak awal tahun 2007 nyaris berbagai ujian dan cobaan melanda negeri Indonesia. Mulai dari hilangnya pesawat Adam Air beserta seluruh penumpang dan awaknya, yang membuat kecut hati banyak orang untuk bepergian dengan pesawat. Belum kering air mata keluarga korban Adam Air sudah disusul dengan musibah tenggelamnya KM Senopati dan Levina I, belum lagi longsor di Manggarai Nusa Tenggara Timur, gempa bumi di Sumatera Barat dan Yogyakarta, terbakarnya pesawat Garuda jurusan Jakarta-Yogyakarta di bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Kemudian belum hilang dari ingatan kita tragedi jebolnya situ gintung di Ciputat, dan baru-baru ini tersiar berita jatuhnya pesawat Hercules milik TNI AU di wilayah Magetan, Jawa Timur yang seolah melengkapi nestapa bangsa ini.

 

 

Peristiwa tersebut menggugah hati kita semua sehingga banyak orang bertanya, mengapa ini semua terjadi. Pertanda apa ini? adzabkah? Atau hanya cobaan dan ujian dari Tuhan untuk mengingatkan umat-Nya?

Dalam al-Qur’an, ada tiga terminologi yang menunjuk makna musibah: musibah, bala’ dan `adzab. Adzab lebih banyak digunakan untuk menyatakan siksaan dan hukuman Tuhan terhadap para pendosa dan orang-orang yang melampaui batas. Adzab hanya ditujukan kepada para pendosa, sedangkan orang yang baik-baik luput dari adzab itu. Sedangkan musibah dan bala lebih banyak digunakan untuk menyatakan ujian dan penderitaan kepada orang-orang, baik kepada para pendosa maupun kepada orang yang baik-baik.

Jadi, semua yang menimpa orang kafir itu adzab. Seperti banjir Nabi Nuh. Yang selamat hanya orang beriman yang mengikuti ajaran Nabi Nuh. Kaum Nabi Luth hancur tapi orang yang shaleh selamat. Nabi Shaleh yang ditimpa wabah penyakit yang mengerikan aneh sekali yang beriman walaupun rumahnya bersebelahan tidak terkena penyakit sedangkan yang kafir dimusnahkan oleh penyakit yang mengerikan.

Pasukan Abrahah hancur lebur karena diadzab Allah dengan batu yang dilontarkan oleh burung Ababil tetapi di tempat di sekitarnya tidak apa-apa. Adalagi wabah semua yang memakan daging unta Nabi Shaleh dan Nabi Syuaib semuanya kena virus, tapi yang tidak makan tidak kena virus. Jadi, memang adzab itu ditujukan kepada orang-orang yang memang durhaka.

Perbedaan antara musibah dan bala hanya terletak pada skalanya. Musibah skalanya lebih besar dan lebih luas, sedangkan bala skalanya lebih terbatas dan umumnya bersifat personal. Sebab musabab musibah terkadang sulit dijelaskan karena lebih banyak bersifat makro dan akumulatif, sedangkan bala lebih banyak bersifat mikro dan kasuistik, misalnya kecerobohan seseorang berpotensi mendatangkan bala.

Kalau musibah, itu lebih bersifat ujian untuk menguji ketebalan iman kita. Tapi itu tingkatnya lebih massif (tidak memilih agama, warna kulit, jenis kelamin apapun). Sedangkan bala’ itu lebih bersifat individual dan mekanikal sifatnya. Karena itu yang ditimpa bukan hanya yang beriman saja. Di situ ada yang durhaka, pendosa dan juga menimpa kepada mereka yang beriman. Kalau musibah itu unsur-unsur dimensinya lebih bersifat positif sedangkan adzab agak negatif.

Dari penjelasan di atas, kita bisa tahu bahwa yang terjadi pada bangsa ini bukan adzab, kutukan atau laknat. Akan tetapi musibah biasa, peristiwa alamiah biasa dan itu mungkin akibat kecerobohan manusia. Hal ini karena ada hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi yang menjelaskan bahwa ada tiga permohonan Nabi saw yang dua diantaranya diterima. Satu diantara yang diterima itu ialah “‘Ya Allah, janganlah Engkau menimpakan adzab kepada umatku sebagaimana adzab yang Engkau timpakan kepada umat-umat terdahulu.”

Ada juga hadis Nabi Saw yang menjelaskan, ”Tidak ditimpakan suatu musibah baik penyakit atau gempa bumi melainkan itu nanti akan berfungsi sebagai penghapus dosa.” Hadis lain, ”Apabila Allah berkehendak positif terhadap hamba-Nya maka dia mendatangkan yaitu siksaan-Nya di dunia. Tapi apabila Allah berkehendak negatif terhadap hamba-Nya maka dia menunda siksaannya nanti di akhirat yaitu di neraka Jahanam yang amat dahsyat.”

Akhirnya sebagai orang beriman kita harus menyadari bahwa musibah adalah segala yang menimpa pada diri kita baik berupa kesenangan maupun kesusahan. Ia datang kapan dan di mana saja. Tidak ada manusia yang bebas dari musibah, karena semua berjalan sesuai dengan ketentuan Allah.

Dengan musibah, Allah swt hendak menguji siapa yang paling baik amalnya. Musibah bukan sekedar peristiwa alamiah biasa tetapi juga merupakan peringatan untuk kita kembali kepada Allah. Jadi, musibah harus dimaknai: pertama, pembersih dosa masa lampau. Kedua, pembelajaran buat kita supaya langkah-langkah kita ke depan jangan mengulangi yang salah sehingga jatuh di lubang yang sama. Ketiga, penghayatan, pendalaman, pemahaman, terhadap musibah sangat penting agar kita bisa menghadapi dengan lega dan tidak putus asa. Wallahu A’lam.

BAGI
Artikel SebelumnyaMitra Perjuangan
Artikel BerikutnyaCadangan