Menyebut

0
42 views

by Abd. Muid N.

Bahwa Tuhan adalah hal yang paradoks telah sering disebut sedemikian oleh banyak orang. Tapi mungkin juga perlu dipertanyakan apakah Tuhan yang paradoks atau persoalannya adalah manusia yang terbatas berhadapan dengan Yang Tidak Terbatas. Dengan kata lain, Tuhan tidak paradoks. Manusia lah yang sesungguhnya, dengan segala keterbatasannya, tidak akan pernah mampu mencerap Yang Tak Terbatas. Yang lahir kemudian adalah upaya-upaya manusia untuk mendeskripsikan Yang Tak Terbatas dan senanatiasa jatuh dalam kegagalan. Salah satu bentuk kegagalan itu adalah ungkapan: Tuhan adalah hal yang paradoks.

Mari kita simak dengan seksama. Dalam agama, ada perintah untuk senantiasa membangun hubungan harmonis dengan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan berdzikir. Sederhananya, berdzikir adalah “menyebut” Tuhan. Tentu saja ini adalah upaya yang aneh. Setiap upaya manusia untuk “menyebut” Tuhan pasti senantiasa menjumpai kegagalan. Dengan cara apa yang paling pas Tuhan bisa disebut? Ungkapan seperti apa? Bahasa seperti apa? Keterbatasan kosa kata milik manusia hanya akan selalu membuktikan kemiskinannya untuk merangkum Tuhan dalam bentuk sebutan-sebutan. Tidak heran jika banyak juga kalangan yang merasa lebih pas menyebut Tuhannya dalam diam. Menyebut Tuhan adalah dengan cara dengan tidak mengatakan apa-apa.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah gambaran betapa hubungan antara manusia dengan Tuhannya sesungguhnya adalah hubungan yang rumit. Sering disebutkan bahwa setiap ritual yang dilaksanakan manusia dilakukan dalam kerangka pendekatan kepada Tuhan. Hal yang mengganggu adalah apakah ada kemungkinan manusia untuk menjauh dari Tuhan? Kitab Suci sering menyebutkan bahwa Tuhan itu meliputi segala sesuatu. Lalu menjauh dari Tuhan itu dalam bentuk apa? Dan mendekat dengan cara apa?

Serumit apapun hubungan antara manusia dengan Tuhan, satu hal yang perlu disadari oleh manusia adalah bahwa sesungguhnya manusia mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan dengan Tuhan. Tidak sesaat pun manusia luput dari Tuhan dalam bantuk apapun. Lalu di mana urgensi “menyebut”?

“Menyebut” atau dzikr adalah ritual satu-satunya yang bisa dilakukan oleh manusia sebagai upaya penegasan adanya hubungan antara manusia dengan Tuhan. Ritual-ritual dalam Islam seperti shalat, puasa, membaca al-Quran, dan sebagainya adalah bagian dari dzikr itu sendiri atau bagian dari cara manusia “menyebut” Tuhan.

Sebagaimana pun gagalnya manusia dalam “menyebut” Tuhan, manusia harus tetap menyebut-Nya. Tidak hanya di lidah, tetapi bahkan lewat setiap desah nafasnya.[]