Menonton The Raid yang Islami

0
57 views

Setelah ditonton, sebuah film sebaiknya direview. Dengan itu, sebuah pelajaran bisa diambil. Namun penulis tulisan ini tidak mempunyai cukup ilmu untuk mereview film. Dia hanya penonton biasa yang suka mengomentari film seenaknya. Seperti penonton sepak bola yang sering perotes jika pemain tidak mampu menciptakan gol, padahal dia sendiri belum tentu mampu menendang bola. Karena itulah tulisan ini diberi judul “menonton”.

Karena itu, kini penulis ingin berbicara seenaknya. Meski tidak mempunyai cukup ilmu, tetapi penulis sudah mempunyai modal penting untuk berbicara tentang film The Raid, yiatu: dia sudah menontonnya di sebuah penayangan perdana yang hanya ditonton oleh para undangan, alias free. Sekaligus dapat makan dan bingkisan dari sponsor.

The Raid adalah film kedua keluaran Merantau Films setelah Merantau dengan sutradara yang sama, Gareth Evans. Jika dalam Merantau terasa nuansa Indonesia sangat kuat karena bercerita tentang seorang perantau Minang yang pandai bermain silat, maka The Raid tidak. The Raid boleh dikata bercita rasa Hollywood, kecuali para pemainnya yang memang semua orang Indonesia, berbahasa Indonesia lu-gue, dan sebuah adegan yang sangat khas Indonesia (Jakarta), yaitu ketika bus dan dua supirnya yang ditumpangi para jagoan diberondong laras panjang oleh para bandit dengan latar belakang kemacetan khas Jakarta. Selain semua itu, film ini sangat Hollywood.

Melihat poster film dan trailernya dengan gambaran gedung bertingkat yang harus ditapaki setingkat demi setingkat, sebelum nonton The Raid, ingatan saya sempat melayang ke film Game of Death-nya Bruce Lee. Tetapi The Raid adalah sesuatu yang berbeda. Meski memang harus diakui bayangan film-film Mandarin dengan adu tembak dan martial artnya sering muncul membayangi setiap adegan The Raid, namun itu lebih karena film-film Mandarin lebih dulu bercokol dalam genre ini daripada karena The Raid menjiplak mereka.

Apresiasi tinggi memang harus diberikan kepada The Raid. Sebagai sebuah film laga Indonesia, The Raid mempunyai kelas tersendiri dibanding dengan film-film Indonesia lainnya. Sangat tampak film ini digarap dengan serius oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Memang dialog-dialog dalam film ini tidak sefilosofis dan sedalam Collateral (2004) yang dibintangi Tom Cruise dan Jamie Foxx. Namun di sela-sela ketegangan yang ditayangkan alur film, dialog-dialog dalam The Raid berhasil menyelipkan kelucuan-kelucuan yang tidak klise.

Meski dalam sambutannya pada pemutaran perdana The Raid di Epicentrum XXI, sang sutradara, Gareth Evans berkata, “Lupakan pesan moral, nikmati filmnya!” The Raid sebenarnya berhasil menyisipkan peran moral yang sangat kuat. Salah satu adegan yang menarik adalah adegan pembuka yang menampilkan Rama (Iko Uwais) yang sedang shalat malam (mungkin tahajjud) di samping isterinya yang hamil 7 bulan dan sedang tidur. Opening seperti ini sempat menyelipkan tanya, ini film aksi atau film dakwah?

Apa pun itu, film ini memberi contoh bahwa sebuah film bisa membuat pesan ajaran Islam menjadi lebih sederhana dan mengena serta tidak sedangkal film-film yang mengeksploitasi isu poligami atau simbol-simbol keislaman seperti kerudung, jilbab, hijab, jenggot, dan sebagainya yang membuat penonton lebih seperti sedang mengikuti pengajian atau menonton sinetron religi daripada menonton film. Karena itu, selain sangat Hollywood, The Raid juga sangat Islami. Karena itu pula, selamat menonton!

Abdul Muid Nawawi