Menolak Obama?

0
223 views

Obama datang di saat yang tepat. Tepat ketika ada bencana. Tepat ketika semua perhatian masyarakat Indonesia sedang tersedot ke pusaran bencana, juga ke segala nuansa mitisnya. Coba bayangkan jika ratusan atau ribuan orang tetap menggelar demo besar-besaran menolak kedatangan Obama, maka sudah pasti para pendemo tersebut akan dikenai tuduhan: tidak peka terhadap perasaan korban bencana. Bahkan ada yang mengaitkan kedatangan Obama dengan hadirnya bencana. Bagi mereka, mengundang Obama, sama dengan mengundang bencana. Bencana itu buktinya. Benarkah? Mungkin saja. Walau tidak masuk akal. Bukankah yang benar itu tidak mesti masuk akal?

Terus terang sempat terselip di hati ini rasa harap pada seorang bernama Barack Obama, yang kini adalah Presiden Amerika Serikat. Jika ditelusuri, mungkin rasa harap itu berasal dari kenyataan bahwa Obama mewakili sebuah etnis tertindas di Amerika, etnis kulit hitam. Jika ditelusuri lagi, maka mungkin rasa harap ini berasal dari adanya kesamaan rasa yaitu perasaan tertindas. Kulit hitam di Amerika ditindas oleh Amerika kulit putih dan saya di sini (merasa) tertindas oleh kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika. Sama-sama ditindas oleh Amerika. Dan bagi saya, yang tidak begitu paham politik internasional, dari semua yang dilakukan oleh Amerika, yang paling membuat hati ini seperti tersayat-sayat sembilu adalah dukungan Amerika yang sangat kasat mata kepada Israel yang sedang menindas rakyat Palestina, tindakan Amerika terhadap Irak, dan sikap Amerika yang memusuhi Iran, sebuah negara Islam.

Mungkin dari situ rasa harap ini terlahir. Tapi mungkin juga rasa harap itu dipupuk oleh kabar bahwa ternyata Obama pernah merasakan sekolah di salah satu SDN di Menteng, Jakarta Pusat dan kenyataan bahwa ayah tiri Obama adalah orang Indonesia. Rasa kesamaan begitu gampang membangun kedekatan, dan rasa perbedaan begitu mudah menggali jurang permusuhan.

Ketika Obama masih menjadi calon presiden, rasa harap itu mengambil wujud harapan dan doa agar yang kelak terpilih menjadi presiden Amerika Serikat adalah Obama dan ternyata harapan berubah bentuk menjadi kenyataan yang menggembirakan. Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Ada perasaan aneh yang menjalar. Saya benci Amerika tetapi saya menyimpan rasa harap kepada presidennya. Rasa itu mirip dengan rasa benci kepada Amerika tetapi gemar film-film Hollywood dengan kecanggihan efek spesialnya.

Namun rasa gembira hanya sampai di situ. Dunia kembali seperti sedia kala. Israel masih di Palestina, bahkan semakin angkuh. Dominasi Amerika Serikat yang menjengkelkan terhadap dunia pun masih terus berlangsung. Bulan madu rasa harap kepada Obama pun meredup. Rasa harap itu kini berada di wilayah antara ada dan tiada. Belum benar-benar tiada.

Kedatangan Obama ke Indonesia tak pelak menimbulkan kontroversi. Ada yang menolak kedatangannya dan ada pula yang menerima. Saya termasuk yang tidak tahu harus bagaimana. Toh, kalaupun saya tolak, dia tetap datang. Kalaupun saya terima, tidak mungkin itu berarti dia mampir ke rumahku dan makan Soto Betawi bikinan mertuaku (karena dia lebih suka nasi goreng dan bakso).

Apapun itu, saya tetap benci Amerika karena sikapnya yang sok ngatur, sering ngawur dan keterlaluan. Walau sering juga saya bertanya dalam hati: Amerika yang mana yang saya benci? Apanya Amerika yang saya benci? Penduduknya? Presidennya? Benderanya? Atau apanya? Tingkah laku selebritasnya yang sangat permissif? Jika yang saya maksud “Amerika” adalah penduduknya, maka bagaimana dengan jutaan penduduk Muslim di sana? Apakah mereka termasuk? Menurut Ziauddin Sardar dalam bukunya Why do People Hate America?, ‘Amerika’ yang dibenci adalah sebuah entitas politik yang berdasar pada kekerasan otoriter, standar ganda, terobsesi kepentingan pribadi, dan berlaku sebagai penguasa dunia.

Jika demikian, jawabannya jadi agak sulit karena kata ‘Amerika’ mirip sebuah simplipikasi dari realitas sesungguhnya yang mungkin sangat berwarna-warni dan bermacam-macam, seperti ungkapan: “Indonesia” kembali gagal meraih Piala Thomas dan Uber. “Indonesia” yang mana? Anda tidak (harus) merasa gagal (meraih piala Thomas) walau Anda orang Indonesia, kan?.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi

Bacaan

Ziauddin Sardar dan Merryl Wyn Davies, Why do People Hate America?, London: Icon Books, 2003.