Menjual Dengan Kredit

0
9 views

ramboeistblast.wordpress.comSaya ingin menjual barang dengan cara kedit, karena itu saya perlu tahu hukumnya, hal ini karena ketika saya tanya, jawaban yang saya peroleh berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Yang pertama mengatakan boleh, karena bentuknya barang bukan uang, dan inipun sifatnya tidak menekan. Sedang pendapat yang kedua tidak boleh karena hal itu bisa memberatkan orang yang membeli, sementara baginya yang penting barang itu dapat, tak perduli harganya yang tinggi. Lalu bagaimana menurut pengasuh?

Demikian hal ini saya tanyakan, atas jawaban pengasuh saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Dinet

Kab. Mandoga P. Siantar

Jawaban Pengasuh

Allah swt di dalam Al-Qur’an menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, riba itu adalah berlebih, misalnya seseorang meminjam uang Rp. 100,- oleh yang meminjamkan dia mesti membayar Rp. 125,-. Akhirnya orang yang miskin dan perlu bantuan terpaksa harus berhadapan dengan pihak rentenir, karena membayar hutang yang Rp. 100,- saja sudah susah apalagi harus lebih dari itu. Maka kelebihan Rp 25 itu namanya riba.

Akan halnya jual beli dengan kredit, baiknya sih harganya sama antara tunai dengan kredit, tapi itu kan tidak mungkin, karena jual beli dengan tunai uang bisa cepat diputar lagi untuk memajukan usaha, sedang bila dengan kredit, tidak hanya barang habis uang lambat kembali, tapi juga jual beli dengan tunai seringkali perlu ada petugas penagihan bila kreditnya macet atau memang ada perjanjian ditagih, disamping itu jual beli dengan kredit juga memerlukan administrasi yang lebih banyak sehingga menambah pekerjaan di pihak penjual.

Oleh karena itu, hemat pengasuh adalah bahwa, jual beli dengan angsuran itu boleh-boleh saja asal tidak terlalu memberatkan, misalnya menetapkan harga yang jual lebih mahal seratus persen dari harga tunai apalagi lebih dari itu, sehingga harga tunainya Rp. 50.000,- misalnya, tapi menjadi Rp. 100.000 bahkan lebih dari itu. Itulah yang tidak baik. Tentu saja syarat lain yang harus dipenuhi adalah suka sama suka secara sungguh-sungguh, bukan suka-sama suka tapi masih terasa berat dihati, tapi karena dia sangat butuh dengan barang itu, akhirnya terpaksa dia mau juga. Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (QS An Nisa [4]:29).

Prinsipnya jual beli tidak tunai merupakan sesuatu yang dibolehkan sebagaimana firman Allah swt: Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskan dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari hutang (QS Al Baqarah [2]:282).

Dengan demikian seorang pedagang memang harus menjadi pedagang yang jujur agar keuntungan yang diperolehnya termasuk kedalam rizki yang halal karena tidak ada penipuan didalamnya.

Demikian jawaban singkat pengasuh, atas partisipasi anda kami ucapkan terima kasih dan semoga bermanfaat jawaban yang kami sampaikan.