Menjelang Hijrahnya Rasulullah saw

0
28 views

Hampir seluruh kaum Muhajirin telah hijrah ke Madinah, kecuali sahabat yang ditahan atau orang yang disiksa, dan Ali bin Abu Thalib serta Abu Bakar bin Abu Quhafah. Abu Bakar sudah beberapa kali memohon kepada Rasulullah saw agar bisa hijrah ke Madinah, namun beliau selalu bersabda kepadanya: “Jangan terburu-buru, semoga Allah swt memberimu teman untuk hijrah.”

Abu Bakar merasa tersanjung bila ia bisa menemani Rasulullah saw berhijrah. Tatkala orang-orang Quraisy menyadari bahwa pengikut dan sahabat-sahabat Rasulullah semakin bertambah banyak di negeri lain selain negeri mereka dan hijrahnya kaum Muhajirin ke Madinah secara bergelombang, mereka pun mulai mengambil ancang-ancang menyusun strategi baru agar bisa menghalangi hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah. Mereka juga menyadari bahwa kaum Muslimin telah bersepakat untuk memerangi mereka. Karena itulah, mereka segera menyelenggarakan rapat di Daar An-Nadwah membahas Rasulullah saw.

Semula Daar An-Nadwah adalah rumah milik Qushay bin Kilab. Orang-orang Quraisy selalu memutuskan setiap perkara, melainkan mereka bermusyawarah di rumah ini. Di Daar An-Nadwah ini pula, mereka menggelar rapat membahas Rasulullah saw tatkala mereka khawatir kepada beliau.

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Orang-orang Quraisy akhirnya menyelenggarakan rapat di Daar An-Nadwah guna membahas Rasulullah saw, pada hari Yawmu Az-Zahmah. Pada hari itu, mereka dicegat iblis yang menjelma menyerupai seorang tua yang berwibawa yang memakai mantel kemudian ia berdiri di depan pintu Daar An-Nadwah.

Ketika orang Quraisy melihatnya, mereka bertanya kepadanya: “Siapa Anda?” Iblis menjawab: “Aku penduduk Najed. Aku dengar kalian akan mengadakan rapat membahas Muhammad. Aku ingin menyertai rapat kalian agar kalian bisa mendengarkan pendapat dan nasihat dariku.” Orang-orang Quraisy berkata: “Baik, silahkan masuk!” Iblis pun masuk bersama mereka.

Pemuka-pemuka Quraisy dari Bani Syams yang ikut hadir di Daar An-Nadwah adalah Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Abu Sufyan bin Harb. Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf adalah sebagai berikut: Thu’aimah bin Adi, Jubayr bin Muth’im, Al-Harits bin Amir bin Naufal. Dari Bani Abduddar bin Qushay hanya satu orang, yaitu An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah. Dari Bani Asad bin Abdul Uzza adalah sebagai berikut: Abu Al-Bakhtari bin Hisyam, Zam’ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib, Hakim bin Hizam.

Dari Bani Makhzum hanya satu orang, yaitu Abu Jahal bin Hisyam. Dari Bani Sahm adalah sebagai berikut: Nubaih bin Al-Hajjaj, Munabbih bin Al-Hajjaj. Dari Bani Jumah ialah Umayyah bin Khalaf, orang-orang yang ikut bersama mereka dan orang-orang lain yang bukan dari orang-orang Quraisy. Sebagian dari mereka membuka pembicaraan kepada sebagian yang lain: “Sesungguhnya orang ini semakin berbahaya saja. Demi Allah, kita tidak merasa aman jika sewaktu-waktu para pengikutnya yang berasal dari selain kita menyerang kita. Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan pada orang ini. Salah seorang dari mereka berkata: “Bagaimana kalau dia kita penjara saja sebagaimana menimpa para penyair sebelumnya, seperti Zuhair dan An-Nabighah dan orang-orang yang mati sebelumnya hingga ia mengalami seperti apa yang mereka alarm.” Iblis berkata: “Demi Allah, ini bukanlah sebuah pandangan yang paling tepat untuk kalian. Sebab, jika kalian memenjarakannya tetap saja ia bisa berkomunikasi dan memberi perintah kepada para sahabatnya, kemudian mereka menyerang kalian dan membebaskannya. Ini bukan pandangan yang tepat. Carilah pandangan yang lain!” Salah seorang dari mereka berkata: “Bagaimana kalau kita usir saja dia dari negeri kita lalu kita asingkan ke negeri lain. Bukankah jika dia telah diusir dari negeri kita, maka kita tidak terlalu resah dia akan pergi ke mana dan akan singgah di mana. Dengan begitu, kita tidak terganggu olehnya, kemudian kita bersatu seperti semula.” Iblis berkata: “Demi Allah, ini juga bukan pandangan yang paling tepat buat kalian. Tidakkah kalian perhatikan retorika yang indah, manis dan apalagi ia memiliki daya pikat yang mana apabila orangArab di negeri lain mendengarnya, maka mereka akan mengikutinya, kemudian dia bersama mereka berangkat ke tempat kalian, lalu mereka menginjak negeri kalian dan merampas kepemimpinan dari tangan kalian. Carilah pandangan yang lain!” Abu Jahal berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku mempunyai ide yang lebih brilian dari kalian.” Mereka berkata: “Apa itu, wahai Abu Al-Hakam.” Abu Jahal berkata: “Bagaimana kalau kita kerahkan para pemuda yang tangguh dalam bertarung untuk membunuhnya sehingga kita bisa tenang setelah kematiannya. Jika para pemuda tersebut berhasil melakukannya, maka banyak kabilah yang akan mendukung mereka dan Bani Abdu Manaf tidak akan kuasa membalas dendam. Jika mereka meminta uang ganti rugi, kita berikan saja.” Iblis berkata: “Inilah pandangan yang paling tepat.” Setelah itu orang-orang Quraisy berpencar dan melaksanakan usulan Abu Jahal.

Abdullah bin Abbas berkata: Malaikat Jibril menemui Rasulullah saw dan berkata: “Malam ini kau tidak boleh tidur di kasurmu.” Saat tengah malam tiba, para pemuda Quraisy bergerak menuju rumah Rasulullah saw untuk menghabisi beliau. Ketika, Rasulullah saw mengetahui kedatangan mereka, beliau berkata kepada Ali bin Abu Thalib: “Tidurlah di ranjangku dan selimuti seluruh badanmu dengan selimut yang berwarna hijau ini.” Biasanya Rasulullah saw memakai selimut tersebut untuk tidur. Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad ber¬kata kepadaku dari Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi ia berkata: “Para pemuda Quraisy akhirnya sampai di depan pintu rumah Rasulullah saw, dengan ditemani Abu Jahal. Abu Jahal berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Muhammad menduga bahwa jika kalian mengikutinya, agar kalian menjadi pemimpin bagi orang-orang Arab dan orang-orang non-Arab, setelah kalian mati maka kalian dibangkitkan dan kalian dianugerahi surga laksana taman-taman Yordania. Namun, jika tidak mengikutinya, maka kalian akan dibunuh, lalu setelah mati kalian akan dibangkitkan lalu diazab di neraka.”

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah saw keluar menemui mereka sambil menggenggam tanah, lalu bersabda: “Memang benar, aku pernah mengatakan seperti itu dan engkau(wahai Abu Jahal) termasuk salah seorang penghuni neraka.” Allah swt lalu membutakan penglihatan mereka hingga tidak bisa melihat beliau. Rasulullah saw lalu menaburkan tanah ke atas kepala mereka sambil membaca ayat-ayat berikut:

يس ، وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ ، إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ ، عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ ، تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ ، لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ ، لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ، إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ ، وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

Yaa Siin. Demi Al Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula),dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (QS. Yaasiin:1-9).

Setelah itu, Rasulullah saw pergi meninggalkan mereka ke tempat yang beliau kehendaki. Tidak lama kemudian, iblis yang menyamar menjadi orang tua dari Nejed itu dating menemui mereka dan berkata: “Apa yang sedang kalian tunggu?” Mereka menjawab: “Kami sedang menunggu Muhammad.” Iblis berkata: “Allah telah menggagalkan rencana kalian. Demi Allah, Muhammad telah keluar dari rumahnya saat kalian masih di sini, ia menaburkan tanah ke atas kepala kalian semua, lalu pergi. Apa kalian tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi?” Mereka masingmasing meletakkan tangannya ke atas kepala mereka dan mendapatkan tanah di atas kepala. Namun mereka tetap tidak percaya, mereka mengintip lewat celah rumah yang berlubang dan ternyata ada seseorang tertidur di ranjang berselimutkan.

Mereka berkata: “Demi Allah, pasti dia Muhammad sedang tidur mengenakan selimut.” Mereka tidak meninggalkan rumah Rasulullah saw hingga pagi hari. Ali bin Abu Thalib bangun dari ranjang saw. Para pemuda Quraisy berkata: “Demi Allah, orang yang tadi malam berkata benar!”

Ibnu lshaq berkata: Di antara ayat-ayat: yang mengisahkan peristiwa di atas dan kesepakatan pemuda –pemuda Quraisy adalah sebagai berikut:

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan day a upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (QS. al-Anfal:30).

Dan firman Allah Ta’ala:

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ ، قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ

Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.” Katakanlah: “Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu ° (QS. ath-Thuur: 30-31).

Ibnu Hisyam berkata: Almanuun artinya: kematian, dan raybal manun artinya yang disangsikan. Saat itulah, Allah Ta’ala mulai mengizinkan Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berhijrah.

Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar adalah konglomerat kaya raya. Pada saat ia meminta izin kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam untuk berhijrah, beliau bersabda: “Janganlah terburu-buru. Semoga Allah memberimu teman.” Abu Bakar sangat meng- harapkan orang yang dimaksud Rasulullah saw adalah dirinya sendiri. Lalu dia membeli dua unta, dia simpan keduanya di rumahnya dan memberinya makan dan minum agar kuat berjalan hingga menuju Madinah.

Referensi: Siroh Ibnu Hisyam h. 291-294