Menjadi Yang Maha Mati

0
27 views

by Abd. Muid N.

Haji Andi Muhammad Umar, ayahanda Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., meninggal dan beliau bukan satu-satunya ayah yang meninggal di muka bumi. Dan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. bukan satu-satunya anak yang ditinggalkan ayahnya. Ditinggalkan dan meninggalkan sudah menjadi hal jamak dalam kehidupan. Namun setiap kali itu terjadi, selalu saja ada yang terasa baru di sana. Meski kita semua tahu itu bukan tangis yang pertama dan bukan tangis yang terakhir untuk peristiwa-peristiwa serupa.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal. Peristiwa yang sama berulang kembali, seperti sebelum-sebelumnya dan persis dengan sesudah-sesudahnya. Perulangan yang sudah berkali-kali itu membuat sebagian orang memadangnya sebagai parodi. Manusia hidup hanya untuk mati. Setiap upaya untuk menyiasati kehidupan tidak lebih daripada upaya bersahaja tak berarti untuk menunda kematian.

Dahulu, jauh sebelum tahun Masehi, seorang bernama Demokritos memaparkan pemahamannya tentang alam raya dengan pertanyaan awal, apakah materi dasar alam raya? Menurut pikirnya, di alam raya ini, sesungguhnya hanya ada atom dan ruang. Di dalam ruang itulah atom-atom bergerak membentuk materi maupun mensirnakan materi.

Lama setelah Demokritos datang seorang bernama Epikuros yang mempertajam pemikiran Demokritos dan menyebutkan bahwa kehidupan dan kematian tidak lebih daripada bersatu dan berpisahnya atom-atom dalam ruang. Di sana tidak ada rancana, tidak ada tujuan. Terjadi begitu saja secara mekanis, sekaligus sangat materialis.

Lalu Epikuros menawarkan pemikiran tentang kematian, yaitu: Kita tidak perlu takut kepada kematian karena tidak seorang pun yang pernah dan akan mengalaminya. Bukankah jika kita hidup kematian itu tidak ada? Dan bukankah jika kematian itu ada, maka kita sudah tiada?

Epikoros memang menarik, namun terlalu materialistis, tidak religius, dan terkesan ngeles. Tidak menganggap ada kehidupan setelah kematian adalah persoalan berat karena bahkan peradaban-peradaban besar yang pernah ada di muka bumi ini curiga kehidupan setelah kematian itu ada.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal dan kita kembali digedor kesadaran betapa kehidupan dan kematian berkawan sangat dekat. Kedua kawan ini terpisah jarak waktu tertentu sejak kita dilahirkan ke muka bumi. Untuk jarak waktu tertentu kematian mengalah kepada kehidupan.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal dan jarak waktu kematian mengalah kepada kehidupan baginya adalah 80 tahun. Kurang lebih. Selama itu kematian bersembunyi dan membiarkan kehidupan merajalela dan merasa mempunyai segalanya. Meski demikian, dalam relung hatinya, kehidupan pun memendam kerinduan yang sama. Ingin berjumpa suatu saat. Dengan kematian.

Kita tentu ingat renungan Jalaluddin Rumi tentang seruling bambu. Rumi bertanya, mengapa seruling bambu berbunyi menyayat hati seperti tangis? Rumi menemukan jawabannya. Suara menyayat hati yang keluar dari sebuah seruling bambu adalah ungkapan rindu. Dulunya, sebuah seruling hidup dalam serumpun bambu. Kala itu, dia adalah bambu. Dia bahagia sampai suatu ketika seseorang menebasnya, menariknya keluar dari rumpunnya, dan menjadikannya seruling. Sejak saat itulah sang seruling tidak bosan menyanyikan sendu keriduannya untuk kembali. Tidak ada siksaan yang lebih menyakitkan dibanding deraan keriduan.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal dan kedua kawan lama kehidupan dan kematian pun kembali bersua. Tangis bergemuruh. Haji Andi Muhammad Umar menahan senyum. Haji Andi Muhammad Umar pun mungkin tidak tega membiarkan kedua kawan lama terlalu lama memendam rindu.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal. Di dalam dimensi berbeda, Haji Andi Muhammad Umar pun mungkin memendam rindu yang tidak terkira. Di saat kematian dan kehidupan melepas rindu, Haji Andi Muhammad Umar pun melepas kerinduan serupa.

Sering disebutkan bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Hidup. Lalu siapakah yang sebaliknya? Siapakah “Yang Maha Mati”? Tentu saja “Yang Maha Mati” adalah seluruh makhluk, tidak terkecuali manusia. Jika kehidupan dan kematian adalah kawan lama yang saling merindu, maka Yang Maha Hidup dan “Yang Maha Mati” pun sesungguhnya adalah kawan lama yang tidak kalah saling merindunya.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal dan beliau adalah seumpama perwakilan “Yang Maha Mati” yang merindukan Dzat Yang Maha Hidup. Semua makhluk merindukan keabadian, baik keabadian di dunia maupun kehidupan di alam sana. Itu adalah hasrat terpendam manusia, sebagaimana pernah digambarkan dalam kisah ketika Nabi Adam as dengan sangat terpaksa menggigit buah khuldi karena begitu inginnya dia mengekalkan hidup dan khuldi berarti keabadian. Sedangkan keabadian berarti kehidupan, bukan kematian.

Haji Andi Muhammad Umar meninggal. Dan perwakilan “Yang Maha Mati” itu pun berjumpa dengan Yang Maha Hidup. Tidak terkira bahagianya beliau menemukan hidup yang sesungguhnya dan meninggalkan hidup yang semu di dunia, serupa dengan kebahagiaan kematian berjumpa kehidupan, kawannya yang telah lama terpisah jarak waktu.