Mengutamakan yang Shaleh

0
10 views

muchroji.multiply.comDi masa Rasul ada seorang sahabat yang setia, tubuhnya pendek, kulitnya hitam dan ekonominya miskin. Nama sahabat itu adalah Jabir yang berasal dari Yamamah. Dia sengaja datang ke Madinah untuk masuk Islam dan tinggal di sana, walaupun rumah dan kenalan atau saudara tidak dimilikinya. Oleh Rasul dia ditempatkan di Shuffah, tempat penampungan orang-orang miskin yang tidak memiliki rumah.

Suatu ketika, Rasul saw datang menemuinya, setelah memberi salam Rasul bertanya: “apa yang kau lakukan?”. “Aku sedang memperkilat pedang ya Rasul”, jawab Jabir. “wahai Jabir, aku tahu engkau sendirian”, ungkap Rasul. “Ah tidak ya Rasul, Allah selalu bersama kita”, jawab Jabir. “Tentu wahai Jabir. Tapi yang kumaksud adalah apakah engkau tidak ingin memiliki seorang isteri yang akan menemanimu?”, jawab Rasul.

Mendengar hal itu sepertinya Jabir setengah percaya dengan apa yang dimaksud Rasul, lalu dia bertanya lagi: “Ya Rasul, di kota ini mana ada wanita dan orang tua yang mau menikahkan puterinya dengan aku yang jelek, miskin bahkan tak punya rumah”.

“Wahai Jabir, Allah bersama kita, engkau orang yang bertaqwa dan derajat manusia sangat ditentukan oleh ketaqwaannya, bukan karena tampan dan kaya, karena itu sekarang berangkatlah engkau ke rumah Ziad bin Labid untuk melamar anaknya yang bernama Zulfah”, tegas Rasul.

Dengan perasaan yang berat, Jabir berangkat juga ke rumah tokoh yang paling masyhur di sukunya, bahkan anaknya merupakan wanita yang paling cantik di Madinah. Maka wajar saja kalau banyak pemuda yang tertarik kepada Zulfah.

Sesampai di rumah Ziad, Jabir langsung berkata kepadanya: “Atas nama Rasul saw aku datang ke sini, ada pesan beliau yang harus kusampaikan, bolehkan aku menyampaikannya di sini atau aku harus pergi ke tempat lain?”, tanya Jabir kepada Ziad.

“Adalah satu penghormatan bila Rasul menyampaikan pesannya kepada kami”, jawab Ziad. “Karena itu sampaikanlah pesan itu, apapun isinya”, lanjut Ziad. “Rasul memerintahkanku datang ke sini guna melamar puterimu yang bernama Zulfah”, kata Jabir.

Mendengar hal itu Ziad amat terkejut, dia memang tidak menduga sama sekali kalau Rasul hendak menjodohkan Jabir dengan Zulfah, ada perasaan berat di hati Ziad sehingga dia berkata kepadanya: “Apa Rasul sendiri yang menyatakan hal itu kepadamu”. “Semua orang tahu siapa aku, aku adalah seorang muslim yang tidak pernah berdusta”, jawab Jabir.

Ziad berpikir bahwa apa yang diinginkan Rasul itu sangat aneh, karena biasanya di kalangan keluarga dan suku Ziad, perjodohan itu dilakukan terhadap laki-laki dan wanita yang sederajat, dan Rasul tahu itu, kepada Jabir, Ziad berkata: “Sekarang silahkan engkau pergi, aku akan temui sendiri Rasul saw”.

Jabir tentu saja sangat kecewa dengan sikap Ziad, kepada dirinya sendiri dia berkata: “Ya Allah, saksikanlah bahwa apa yang diajarkan al-Qur’an dan diperintahkan Rasul amat beda dengan perkataan Ziad”.

Mendengar ucapan ayahnya yang kasar, Zulfah sebagai anak yang shalehah tidak menyukainya, kepada ayahnya dia berkata: “ayah, barangkali dia berkata benar, jika demikian penolakan ayah berarti penolakan terhadap perintah Rasul, susullah dia sebelum jauh dan segeralah ayah menemui Rasul saw”, pinta Zulfah.

Sesampai di rumah Rasul, Ziad berkata: “Tadi Jabir ke rumah dan atas nama engkau meminang puteriku, bukankah menurut tradisi kami kita hanya mengawinkan dengan yang sederajat?”, tanya Ziad.

“Jabir adalah orang yang bertaqwa, tentang derajat yang engkau maksud ada hubungannya, laki-laki dan wanita yang bertaqwa adalah sama derajatnya”, jawab Rasul.

Mendengar hal itu, Zulfah mendesak ayahnya agar menerima lamaran Jabir, maka Ziad pun menikahkan anaknya dengan Jabir yang jelek dan miskin, sementara anaknya keturunan orang kaya dan cantik.

Zulfah amat senang karena Rasul meridhai perkawinan mereka. Tak lama sesudah perkawinan itu berlangsung, Jabir ikut ke medan tempur dalam perang melawan orang kafir, setelah itu Jabir tak lagi menemui isterinya karena dia mati syahid dalam perang itu, Zulfah merasa sangat kehilangan orang yang dicintainya, tapi dia bersyukur karena suaminya mati dalam keadaan mulia.

      

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita ambil adalah:

  1. Menikah merupakan sesuatu yang amat penting, karenanya Rasul carikan jodoh untuk sahabatnya.
  1. Faktor paling penting untuk mendapatkan isteri atau suami dan menantu adalah kesahalehan atau ketaqwaan kepada Allah swt.