Mengusir Ramadhan

0
106 views

Oleh Abd. Muid N.

Masih teringat jelas betapa Ramadhan disambut dengan meriah. Iklan-iklan di media massa bertaburan. Spanduk-spanduk berjejeran. Doa-doa dipanjatkan agar Ramadhan yang satu ini  lebih baik dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Di malam pertama Ramadhan, masjid, mushalla, dan langgar tidak cukup luas untuk menampung jamaah yang membludak.

Tidak harus menunggu separuh jalan bulan Ramadhan. Meski iklan masih bertaburan. Spanduk belum diturunkan. Jamaah sudah mundur teratur. Antusiasme menyambut Ramadhan pupus di tengah jalan. Ya, ada geliat di sepuluh hari terakhir Ramadhan, namun nuansa formalismenya lebih kental daripada ruhnya.

Sepuluh hari terkahir Ramadhan tidak hanya diwarnai dengan i’tikaf tetapi juga didominasi oleh kegembiraan baru, yaitu kegembiraan datangnya Hari Lebaran. Di sana ironi sedang berkecamuk. Sah-sah saja ada kegembiraan menyambut Idul Fitri. Tapi bagaimana jika kegembiraan itu terkesan lebih mirip kegembiraan atas akan perginya bulan Ramadhan? Itu sama saja dengan “mengusir Ramadhan”. Tanda-tandanya sangat kasat mata.

Jika kedatangan Ramadhan diibaratkan kedatangan seorang tamu agung, maka Hari Raya Idul Fitri juga adalah tamu yang tidak kalah agungnya. Umat Islam, sebagai tuan rumah, kini seperti sedang larut dalam kegembiraan atas datangnya tamu yang kedua hingga lupa bahwa tamu yang pertama masih ada di rumah dan juga sangat sayang jika diabaikan.

Tidak banyak yang menyadari bahwa kedatangan tamu yang kedua sangat bergatung pada betahnya tamu yang lebih dahulu datang dan bermalam. Jika ternyata tamu yang pertama, yaitu Ramadhan, itu tidak betah, maka bisa dipastikan tamu yang kedua, yaitu Idul Fitri, tidak akan datang bertamu.

Bagi yang tidak menyadari pentingnya melayani bulan Ramadhan dengan baik, tidak perlu berharap Idul Fitri akan datang kepadanya. Bagi yang pernah “mengusir Ramadhan” kala bulan itu masih ada, apakah Idul Fitri akan menjelang baginya?[]