Mengusap Sepatu dalam Berwudhu

0
31 views

Sebuah kendala yang mungkin dihadapi seorang muslim dalam beribadah adalah persyaratan kesucian. Dalam Islam, faktor suci merupakan hal yang prinsip. Seseorang misalnya tidak dinyatakan sah shalatnya jika tidak berwudhu terlebih dahulu. Shalatnya juga terancam batal apabila di tubuh, pakaian, atau tempat sahalatnya menempel najis. Selain itu, ibadah nafilah (yang disunnahkan) seperti tadarus al-Qur’an, membaca wirid, atau zikir, menjadikan wudhu sebagai faktor afdhaliyyah, yakni lebih baik jika dilakukan dalam keadaan suci.  Bahkan, sebagian ulama sangat menganjurkan agar seseorang itu tidak pernah lepas dari kondisi suci. Jadi setiap batal wudhu, dengan segera berwudhu kembali.

sphotos.ak.fbcdn.netDalam situasi di mana terdapat banyak kendala untuk mengakses sarana untuk bersuci, baik karena faktor sumbernya (toilet dan kamar mandi) yang kurang, atau faktor waktu (misalnya seorang karyawan tidak banyak waktu luang untuk bolak-balik berwudhu), maka Islam “menawarkan” sebuah “rukhshah” atau kemudahan. Kemudahan tersebut berupa kebolehan tidak membuka sepatu atau kaos kaki ketika berwudhu, dengan syarat ketika memakai sepatu atau kaos kaki tersebut dalam keadaan suci.

Inilah salah satu syariat yang masih kurang popular di kalangan ummat Islam, yakni apa yang disebut dengan “mashul khuffain” atau mengusap kedua khuff  sebagai suatu kemudahan dalam berwudhu. Khuff adalah sejenis sepatu kulit yang menutupi kaki sampai matakaki. Khuff biasa dipakai masyarakat Arab di zaman Rasulullah saw.. Beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab tidak populernya ajaran ini adalah faktor adat istiadat serta kondisi lingkungan. Dalam lingkungan padang pasir yang sulit dengan cuaca yang ekstrim; sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari, serta tidak gampang menemukan air, maka masyarakat membutuhkan penutup kaki yang rapat terutama untuk menahan dingin. Di sinalah maka muncul ajaran mash al-khuffain. Berbeda dengan kebanyakan negara di Asia yang relatif memiliki cuaca tropis yang stabil. Sumber air pun mudah didapat.

Sebuah dalil yang secara tegas menyebutkan syariat ini adalah hadis dari Mughirah bin Sya’bah, dia berkata: “Saya pernah bersama Nabi saw., beliau berwudhu maka saya hendak membantu melepaskan kedua khuff nya, lalu beliau bersabda: “Biarkan saja, karena saya memasukkan kedua kaki saya ke dalamnya dalam keadaan bersih. Kemudian beliau mengusap keduanya”. (Muttafaq ‘alaih)

Hadis lainnya diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibn Huzaimah dari Shafwan bin Assal yang berkata: “kami diperintahkan oleh Nabi saw., untuk mengusap khuff, jika kami memakainya dalam keadaan suci (thaharah), 3 hari jika bepergian, dan sehari semalam jika mukim. Dan kami tidak melepaskannya ketika buang air kecil dan besar, dan tidak melepaskannya kecuali saat junub (mandi junub).

Wahbah Zuhaili menyebutkan komentar Imam Nawawi dalam Syarah Muslim bahwa syariat ini diriwayatkan oleh para sahabat yang tidak terhitung jumlahnya. Ada yang mengatakan lebih dari 80 sahabat termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga meriwayatkan hadis tentangnya,. Sekelompok ulaama hadis memasukkan hadis tentang mash al-khuffain ke dalam kelompok mutawatir, yakni yang terjamin kebenarannya karena diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang dijamin tidak berdusta.

Dengan demikian maka tidak ada keraguan atas penetapan dan pelaksanaan mash al-khuffain, dalam sebagai suatu fasilitas dan kemudahan dalam berwudhu. Memang terdapat segolongan Syi’ah yang menganggap bahwa pensyariatan mengusap khuff sudah dihapuskan hukumnya oleh ayat tentang wudhu yang turun belakangan. Namun pendapat ini tidak begitu populer karena banyaknya hadis yang menunjukkan sebaliknya. Selain itu, penggunaan huruf athaf (yang berarti dan) setelah perintah mengusap kepala langsung kepada arjulakum yakni kaki mengindikasikan kebolehan mengusak kaki.

Jika kasus ini ditarik pada masa sekarang, terutama bagi beberapa kalangan yang sepanjang hari harus memakai sepatu yang rapih dan rapat menutupi kaki, ditambah lagi dengan fasilitas ibadah; wudhu dan shalat, yang terkadang “ala kadarnya atau apa adanya”, maka sangat layak jika hukum mengusap khuff ini dijadikan analogi kepada hukum mengusap sepatu. Sebab “illat” atau faktor penyebab dari hukum mengusap kedua khuff sangat serupa dengan penggunaan sepatu.

Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menunda shalat karena antri “sandal atau bakiak” di mushala atau ruang shalat kantor. Wallahu a’lam.

Oleh Dr. Saifuddin Zuhri, MA.

BAGI
Artikel SebelumnyaMemilih Taqwa Ketimbang Harta
Artikel BerikutnyaFitrah