Menguak Akar Perbedaan Pendapat dalam Fiqih

0
56 views

Satu pertanyaan yang hampir selalu menggelayuti benak sebagian besar umat Islam adalah mengapa terjadi banyak perbedaan dalam Islam? Mengapa misalnya, harus ada Syi’ah dan Sunni? Mengapa ada yang qunut dan ada yang tidak? Mengapa harus ada mazhab? Atau mengapa ada yang meyakini ada nabi baru setelah Muhammad? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan, baik di kalangan awwaam (golongan kebanyakan) ataupun khawwaas (kelompok elit/ulama/intelektual). Berbagai respon pun bermunculan atas perbedaan ini. Ada yang menganggapnya sebagai hal yang tidak bisa dihindari terjadi karena dinamika pemikiran manusia yang memiliki cakupan (scope) yang berbeda. Ada juga yang menjadikannya sebagai kegelisahan dan berharap suatu saat tidak ada lagi perbedaan, apalagi jika perbedaan tersebut merapuhkan kekuatan dan kekompakan umat Islam.[1]

theinsanityofthesane.files.wordpress.comPertanyaan tersebut biasanya diikuti lagi dengan pernyataan, bukankah Al-Qur’an yang menjadi pedoman bersama, itu-itu juga? Bukankah Rasulullah yang menjadi penafsir pertama dan utama dari Al-Qur’an adalah itu-itu juga? Lalu, mengapa harus ada perbedaan di hilir padahal di hulunya sama? Apakah ada yang salah di sini? Bukankah umat Islam merupakan umat terpilih dan sebaik-baik umat sebagaimana dalam QS Ali Imran/3:110? (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik)

Bukankah Allah menjadikan umat Islam sebagai umat yang bersatu dan bersaudara, seperti disebut dalam QS Al-Anbiyaa/21:92? (Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku) Dan bahwa umat Islam diperintahkan untuk sama-sama berpegang teguh kepada Al-Qur’an yang dijamin bebas dari kebatilan dan kesalahan, seperti ditegaskan dalam QS Ali Imran/3:103? (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk)

Kemudian salahkah jika ada seseorang yang mendambakan di dalam umat ini tidak lagi ada mazhab, aliran, sekte, atau apapum yang berbeda? Dan bahwa semua umat Islam berada dalam keseragaman dalam setiap aspek keagamaan baik pemahaman maupun pelaksanaannya?

Namun jika diperhatikan dan ditelaah secara mendalam dari berbagai kitab yang menjadi referensi baik dari sisi pemahaman Al-Qur’an (tafsir) maupun dalam pengamalan agama (fiqih) didapati adanya berbagai argumentasi atau hujjah yang berbeda di antara para tokoh tafsir maupun fiqh, terhadap suatu persoalan. Dalam memaknai kata aw laamastumun nisaa (QS An-Nisa/4:43), sebagai contoh, terdapat perbedaan dalam memahami arti dari kata “menyentuh”. Ada yang mengartikan menyentuh secara harfiyah sebagaimana pengikut Syafi’iyah, yakni bersentuhan antara laki-laki perempuan yang bukan mahram, ada yang mengartikan menyentuh sebagai makna sindiran untuk “jima/persetubuhan” sebagaimana faham pengikut Hanafiyah. Di tengah-tengahnya ada pengikut Malikiyah yang mengartikannya sebagai sentuhan yang mengandung syahwat. Ini baru satu kata dari satu ayat dalam Al-Qur’an.  Bagaimana dengan ribuan ayat lainnya? Belum lagi dengan hadis-hadis Nabi, baik yang qauliy (ucapan) maupun fi’liy (perbuatan), atau bahkan taqriiry (pengakuan). Sebagai contoh adanya hadis-hadis tentang bacaan basmalah yang dijaharkan, dengan hadis-hadis lainnya yang menyatakan bacaan basmalah yang di-sirr-kan.

Perbedaan lain yang bisa diangkat menjadi contoh misalnya perbedaan jumlah rakaat dalam shalat tarwih. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah ra., disebutkan bahwa Rasulullah shalat tarwih hanya 8 rakaat dan tidak lebih dari itu. Sementara pengamalan yang diriwayatkan dari Umar ra., dan menjadi amaliyah ahlu Makkah (penduduk Mekah) adalah 20 rakaat. Yang mengikuti pendapat 8 rakaat merasa benar sebab jumlah itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Sedangkan yang menyetujui paham 20 rakaat juga merasa benar karena Umar ra., adalah sahabat yang paling luas ilmu agamanya dan selalu dipuji Nabi saw., karena pendapatnya seringkali dibenarkan oleh wahyu, misalnya dalam kasus tawanan perang Badr.

Perbedaan lainnya adalah penentuan awal dan akhir Ramadhan, di mana ada yang berpendapat harus berdasarkan ru’yah (penglihatan mata kepala), sedangkan yang lain menggunakan perhintungan ilmu perbintangan (astronomi). Bagi yang berpandangan bahwa awal dan akhir Ramadhan harus dengan ru’yah berdasar pada hadis Nabi saw., “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah dengan melihat hilal”. Sementara yang berpendapat bahwa penentuan itu lebih tepat menggunakan ilmu astronomi, karena pandangan bisa saja terhalang oleh awan, sedangkan perhitungan hisab tidak terkendala oleh awan.

Jadi, tidak bisa dipungkiri bahwa begitu banyak aspek dalam Islam yang dapat menjadi obyek perbedaan pendapat, pandangan, dan pemahaman. Namun demikian, terlepas dari jenis perbedaan tersebut apakah prinsip substansial ataukah teknis operasional, Nabi menegaskan bahwa perbedaan umatku adalah rahmat. Bahkan al-Qur’an pun menegaskan bahwa “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yunus:/10:99). Ayat ini bisa dimaknai sebagai “restu Allah” atas perbedaan yang ada pada hamba-Nya, bahkan pun yang paling ekstrim, yakni antara beriman dengan tidak beriman.

Ayat lain menyebutkan bahwa “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan,” (QS Al-Maidah/5:48). Ayat ini pun secara terang menkonfirmasi perbedaan yang ada di antara manusia.

Dengan demikian, maka perbedaan persepsi, pendapat, dan pemahaman akan suatu aspek tertentu dari agama adalah hal yang wajar, bahkan secara ekstrim, adalah suatu keharusan. Karena baik argumen aqliyah (akal/logika manusia) ataupun naqliyah (dalil-dalil dari kitab suci) menegaskan probabilitas (kemungkinan) perbedaan itu. Hal ini kemudian melahirkan sebuah kesimpulan atau hikmah bahwa perbedaan tidak akan pernah pupus, dan penyamaan (upaya menyamakan atau pemaksaan untuk sama) tidak akan pernah terwujud. Dan bahkan jika ada pihak yang hendak memaksakan kesamaan pendapat dan menghilangkan perbedaan, jika menggunakan kekuatan, maka pasti akan berjatuhan korban-korban yang sia-sia.

Nah, dengan posisi fiqih sebagai bentuk praktis dari amaliyah keagamaan, maka dialah yang paling vulgar menampakkan perbedaan sekaligus menjadi sorotan utama dari pembahasan khilafiyah atau ikhtilafiyah. Berbeda misalnya dengan aspek aqidah, yang meski terdapat perbedaan, tetapi karena tempatnya di dalam hati, maka perbedaanya tidak menjadi sevulgar fiqih tadi. Demikian pula dengan akhlak, yang lebih berfokus kepada aspek tahsiniyah (perbaikan) dan takmiliyah (penyempurnaan) dari ajaran agama. Perbantahan dan perdebatan sengit pun sangat sering terjadi pada bidang fiqih ini. Sehingga, kalau tidak hati-hati, para intelektual (ulama) dan guru atau muballig dapat terjebak dalam perdebatan ini, yang pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada hasil karena sekalipun ada yang menang dalam perdebatan itu, tidak serta merta menjadikan lawan debatnya berpindah pemahaman kepadanya.

Di sinilah diperlukan kearifan sebagaimana dimintakan oleh al-Qur’an ‘fa’tabiruu yaa ulil abshaar” (maka hendaklah kalian mengambil pelajaran dari setiap fenomena ini, wahai orang-orang yang memiliki pandangan luas). Kearifan yang dimaksud adalah wawasan dan pemahaman atas berbagai perbedaan pendapat dan pemahaman, serta asal-muasal perbedaan tersebut. Termasuk dalam hal ini adalah memahami dalil dan argumen masing-masing pendapat yang berbeda tersebut. Maka di sini tugas para muballig dan ulama, adalah menyampaikan secara proporsional perbedaan-perbedaan tersebut disertai dalil dan argumen masing-masing, dan jangan sampai terjebak untuk berpihak secara tidak adil kepada salah satu pendapat. Maksud dari berpihak secara tidak adil di sini adalah menyembunyikan atau menyamarkan argumen dari pandangan lain demi untuk membenarkan pendapatnya sendiri. Ini mungkin sesuatu yang agak sulit, terlebih jika kondisi guru atau dai tersebut yang juga terbatas wawasannya terhadap perbedaan pendapat dan pandangan dalam agama ini. Meski demikian, layak untuk disupport usaha-usaha peningkatan wawasan para guru dan dai terutama terkait dengan kearifan tadi, yakni pemahaman yang proporsional atas perbedaan, dan tidak menjadi motivator apalagi provokator yang memperuncing perbedaan.

Terdapat beberapa cabang ilmu yang wajib dikuasai untuk mencapai kearifan terhadap perbedaan pandangan fiqihyah ini. Ilmu-ilmu tersebut antara lain adalah Ushul Fiqh, Ushul Hadis, dan Ushul Tafsir. Sangat disayangkan bahwa saat ini ilmu-ilmu ushul tersebut terkalahkan oleh cabang-cabangnya yaitu ilmu fiqh, ilmu hadis, dan ilmu tafsir. Akibatnya adalah masih maraknya perdebatan dan diskusi ‘tak berujung’ di kalangan para pengajar agama. Berbeda jika mereka telah menguasai ilmu ushul, dipastikan bahwa perdebatan dan diskusi tersebut meski ada namun akan cenderung lebih konstruktif dan nihil penghujatan apalagi kekerasan fisik.

Persamaan pendapat yang benar-benar sama bukan tujuan. Penghapusan perbedaan yang benar-benar hilang pun bukan harapan. Yang ingin dicapai dan dituju adalah suasana saling memahami perbedaan sehingga bersama-sama dapat menjalankan pemahaman dan keyakinan agama yang mungkin berbeda tersebut. Pada titik inilah, sebuah masyarakat berperadaban akan tumbuh pesat. Karena kearifan akan melahirkan tindakan yang positif. Dan tindakan positif akan membuahkan kebaikan di segala lini kehidupan. Wallahu a’lam bis shawab.[]

By Saifuddin Zuhri


[1] Tulisan ini merupakan pengantar dari serial tulisan dengan topik: Menguak Akar Perbedaan dalam Fiqih.