Mengkhianati Diri Sendiri

0
47 views

Oleh Drs. Ahmad Yani

Setelah kita membahas empat contoh bentuk pengkhianatan kepada doa sendiri, akan kita bahas poin lain agar kita mau berusaha sesudah kita berdoa untuk meraih apa yang kita minta.

1.  Minta Anak Shaleh Tapi Tidak Mau Mendidik.

Anak merupakan anugerah atau pemberian dari Allah swt. Lahir dan terciptanya seorang anak bukanlah karya bapak dan ibunya, karena bapak dan ibunya hanyalah sebab, karenanya sebagai penyebab tidak bisa memastikan sebagaimana anak yang didambakan. Ada kalanya seorang bapak ingin punya anak laki-laki, tapi yang lahir malah perempuan atau sebaliknya. Karena anugerah, maka setiap kelahiran seorang anak haruslah kita syukuri.

Disamping anugerah, anak juga amanah atau titipan dari Allah swt yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya sehingga pada saatnya ia kembali dalam kematiannya, ia mati dalam keadaan suci sebagaimana dilahirkan, disinilah letak tanggung jawab orang tua untuk selalu menjaga kesucian pribadi sang anak, Rasulullah saw bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang bertanggung jawab apakah anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau menjadi majusi.

Dalam kaitan inilah, orang tua yang mendambakan anaknya menjadi shaleh tidak cukup hanya berdoa, tapi harus berusaha mendidiknya yang memang menjadi tanggungjawabnya dan karena itu, sebagaimana orang tua kita harus terlebih dahulu bisa menjadi orang yang shaleh. Bagaimana mungkin kita bisa mendidik anak menjadi shaleh bila kita sendiri tidak shaleh. Karena itu, Rasulullah saw bersabda:

اِلْزَمُوْا أَوْلاَدَكُمْ وَأَحْسِنُوْا أَدَبَهُمْ.

Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah kepada akhlak yang mulia (HR. Muslim).

            Dengan demikian, orang tua tidak boleh hanya mengandalkan orang lain untuk mendidik anaknya, sekolah, guru ngaji dan sebagainya sifatnya membantu dalam proses pendidikan anak.

2.  Minta Menang Tapi Tidak Membangun Kekuatan.

Dalam perjuangan, yang sering kita minta adalah memperoleh kemenangan atau kesuksesan, termasuk dalam dakwah dengan semakin banyak orang yang masuk Islam, taat dalam menjalankan ajaran Islam hingga tegak nilai-nilai Islam. Salah satu kunci penting untuk meraih kemenangan adalah kekuatan, karenanya amat disayangkan bila umat Islam tidak membangun kekuatan, bahkan yang lebih tragis adalah justeru merusak dan menghancurkan kekuatan yang sudah ada dengan perpecahan atau tidak mau bersatu sehingga mementingkan kelompok dan merendahkan kelompok lain.

Untuk meraih kemenangan dan kesuksesan, Sayyid Sabiq menyebutkan ada enam kekuatan yang harus dibangun dan dipertahakan, bahkan terus diperkuat, yakni Pertama, kekuatan aqidah sehingga umat Islam memiliki komitmen yang kuat kepada Allah swt dengan segala ketentuan-Nya. Kedua, kekuatan akhlak sehingga umat ini betul-betul menjadi umat yang mulia dan banyak orang yang tertarik dengan kemuliaannya. Ketiga, kekuatan ilmu, sehingga terangkat derajatnya dan mudah dalam menjalani hidup. Keempat, kekuatan harta, sehingga umat ini dapat memenuhi kebutuhannya dan mengembangkan kekuatan dengan fasilitas yang memadai. Kelima, kekuatan persaudaraan sehingga persatuan menjadi sangat kokoh dan sebesar apapun kekuatan musuh siap dihadapi oleh umat yang bersatu. Keenam, kekuatan jihad sehingga selalu dalam semangat perjuangan menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Sejak awal perjuangan, Rasulullah saw membangun enam kekuatan ini sehingga beliau dan para sahabatnya mencapai keberhasilan dalam perjuangan, baik dalam konteks dakwah maupun peperangan, bahkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

3.  Minta Ketenangan Tapi Berbuat Dosa.

Ketenangan jiwa merupakan sesuatu yang amat diperlukan dalam hidup ini. Dengan ketenangan itu, hidup akan dijalani dengan baik sehingga memberi ketenangan bagi orang lain. Karena itu, ketenangan dan kedamaian dalam hidup sering kita minta dalam doa sehari-hari. Namun, yang amat disayangkan adalah adanya orang yang berdoa seperti itu tapi dikhianati sendiri doanya dengan melakukan perbuatan yang bernilai dosa.

Dosa merupakan penialaian terhadap perbuatan yang melanggar aqidah, syariat dan akhlak Islam, baik dalam kaitan dengan hubungan kepada Allah swt maupun kepada sesama makhluk-Nya, yakni manusia, binatang dan lingkungan hidup.

Diantara akibat yang diperoleh manusia dari dosa yang dilakukannya adalah kegelisahan jiwa, apalagi bila ia sangat khawatir bila dosa itu diketahui orang lain yang membuatnya semakin tersudut dan amat memalukan, bahkan hal ini bisa membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang mendatangkan dosa berikutnya, bahkan dengan tingkatan dosa yang lebih besar seperti membunuh orang yang mengetahui dosa kita, hal itu dilakukan agar ia tidak memberitahu orang lain atas dosa yang kita lakukan Rasulullah saw bersabda:

الاِثْمُ مَاحَاكَ فىِ نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ اَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسِ.

Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan dalam hati seseorang, sedangkan ia tidak setuju kalau hal itu diketahui oleh orang lain (HR. Ahmad).

Sebagai manusia biasa yang mungkin saja melakukan perbuatan yang bernilai dosa, maka agar kegelisahan tidak menyelimuti jiwa akibat dosa yang kita lakukan, jalan terbaik adalah segera bertaubat kepada Allah swt, memohon maaf kepada manusia yang terkait dengan dosa dan siap menjalani hukuman bila kesalahan itu memang ada jenis hukumannya, inilah yang disebut dengan taubat nasuha sebagaimana firman Allah swt: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS At Tahrim [66]:8).   

4.  Minta Selamat Tapi Tidak Hati-Hati.

Ketika seseorang mau bepergian, harapannya adalah memperoleh keselamatan sampai tujuan dan bisa kembali lagi. Bahkan tidak hanya dia sendiri yang berdoa, iapun minta didoakan oleh orang lain. Namun yang amat disayangkan adalah doa minta selamat tidak diiringi dengan sikap dan tindakan kehatia-hatian yang mencerminkan kedisiplinan. Akibatnya terjadi kecelakaan berlalu lintas, kecelakaan yang tidak hanya melukai dan merusak kendaraan, tapi juga menyebabkan kematian diri dan keluarganya serta orang lain. 

Disamping itu, keselamatan yang terpenting adalah dalam hidup dunia dengan selalu menjalani hidup sebagaimana yang dikehendaki Allah swt dan Rasul-Nya sehingga dapat mencapai keselamatan di akhirat dengan masuk ke dalam surga. Namun yang amat disayangkan adalah banyak orang yang menginginkan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, tapi penyimpangan dari aqidah dan syariat yang dilakukannya. Karena itu, Allah swt amat menekankan kepada kita untuk selalu berada pada jalan Allah swt sebagaimana firman-Nya: Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (QS Al An’am [6]:153).

Untuk selalu berada pada syariat yang telah digariskan, setiap kita harus komitmen untuk mengikutinya dan tidak terpengaruh sedikitpun oleh hawa nafsu manusia, apalagi mereka tidak memahami syariat Islam, Allah swt berfirman:  Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS Al Jatsiyah [45]:18).

Dari uraian di atas, menjadi semakin jelas bagi kita bahwa sesudah kita berdo’a, maka kita harus berusaha untuk meraih apa yang kita minta, bukan malah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan permintaan kitra sendiri.

Drs. H. Ahmad Yani

HP/WhatsApp 08129021953

Pin 275d0bb3