Menghidupkan dan Membugarkan Hati

0
57 views

Ma`asyiral Mukminin Rahimakumullah…

Manusia ketika hatinya baik maka perbuatan dan perilakunya pun akan baik, namun jika hati itu tidak baik maka akan tidak baik pula perangainya. Dan memang kualitas amalan di mata Allah swt sangat tergantung kondisi hati yang menyertai amalan tersebut

 

.أَلا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهِيَ الْقَلْبُ

 

 “Ingatlah, bahwa di dalam tubuh itu ada sebongkah daging jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh itu, jika dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ingatlah, dia itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dalam bahasa arab, hati disebut dengan “Qalb” karena sering berbolak-balik, silih berganti, hadir di dalamnya antara rasa senang dan sedih, harap dan cemas. Bermacam keyakinan dan niat yang ada dalam hati seseorang juga sering berubah-ubah, terkadang berganti antara pengaruh baik dan buruk, haq dan bathil, petunjuk dan kesesatan, iman dan kekufuran bahkan kemunafikan. Disinilah kita dapati Rasulullah saw sering mengulang do’a;

 

 

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat Yang Kuasa Membolak-balikkan hati, Teguhkanlah hatiku diatas (jalan) agama-MU”.  (HR. Ahmad dan Turmudzi)

 

Rasulullah saw ketika meyebut tema taqwa, beliau mengarahkan terunjuknya ke dada beliau yang mulia;

 

 التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Taqwa itu ada disini”-tiga kali beliau mengulang sabdanya dan menunjuk ke dadanya” (HR. Muslim)

Kalaulah memang kehidupan manusia itu sangat dipengaruhi oleh hatinya, maka manusia tidak akan hidup dengan baik kecuali dengan kondisi hatinya yang baik dan bugar. Bugarnya hati ada kaitannya dengan perilaku batin bahkan kebugarannya sangat memberi pengaruh, sehingga ada yang diistilahkan dengan penyakit-penyakit hati, yang menggambarkan betapa pengaruh kondisi hati yang berpenyakit kepada perilaku seseorang . Hati itu tempat bersemanyamnya iman dan ketakwaan, atau sebaliknya tempatnya kekufuran dan kemunafikan.

 

 Hadirin sekalian yang dirahmati Allah

Ibnu Rajab Al-Hambali ketika mengomentari hadits tentang keberadaan hati dan pengaruhya pada seseorang beliau menyatakan, “Sesungguhnya dalam hadits tersebut ada isyarat bahwa tampilan baik, prilaku dan gerak-gerik seorang hamba, jauhnya dia dari perkara-perkara yang diharamkan, keterjagaan dirinya dari perkara syubhat akan begitu seirama dengan gerak  hatinya, maka jika hatinya bersih tak ada didalamnya kecuali cinta kepada Allah, cinta kepada apa yang dicintai Allah dan rasa khasyyah(takut) kepada-Nya serta takut terjerembab pada apa yang dibenci-Nya, nicsaya seluruh gerak dhahirnya akan baik. Dan dari sanalah lahir kekuatan untuk menjahui segala yang dilarang, menjaga perkara yang syubhat demi terhindar dari perkara yag diharamkan.

Namun jika hati itu rusak dan telah dikuasai nafsu ia akan memburu apa yang dicintainya walau itu dibenci Allah, akan rusak pula seluruh gerak dan  prilakunya, mengarah kepada perbuatan kemaksiatan dan syubhat seirama dengan ketundukan hati terhadap hawa nafsu” 

 

Hasan Al-Bashri berkata, “Obatilah Hatimu, sesungguhnya hajat Allah pada hamba-hamba-Nya adalah pada kesehatan hati mereka”. Demikianlah tentang hal ini Rasulullah bersabda;

 

 إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلىَ أَجْسَامِكُمْ وَلاَ إِلىَ صُوَرِكُمْ وَإِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

 “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tampilan fisik kalian, tidak pula pada bentuk kalian, namuh sesungguhnya Allah melihat kepada hati  dan perbuatan kalian”. (HR. Muslim)

 

Yang dilihat Allah swt adalah hati hamba, jika baik hatinya baik pula amalnya dan ini akan diterima oleh-Nya. Namun jika hatinya kotor dan rusak sangat mungkin tubuhnya bersujud dan ruku’ bersama orang-orang sholih namun dia akan berada di kerak yang paling bawah didasar neraka.

 

Dikisahkan bahwa Hasan Al-Bashri –rahimahullah- duduk dalam majlis khos dirumahnya, tidak membicarakan kecuali tentang makna zuhud, kebeningan hati, kebugaran jiwa, kelembutan hati dan permaslahan-permasalahan yang berkaitan dengan aktifitas hati. Maka ketika ada yang mengajukan pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan hal tersebut beliau tampak enggan untuk menjawabnya, dan beliau berkata,”Duduknya kami disini bersama saudara-saudara kami tak lain untuk saling mengingatkan”

 

Ini menunjukkan bahwa tidak selayaknya kita lalai dari permasalah ini, bahkan para da’i pun membutuhkan suasana saling mengingatkan satu sama lain agar menjaga hati tetap bersih dan tidak terkena penyakit yang akan merusak kebugarannya.

 

Semoga kiranya Allah swt senantiasa memberikan kemudahan kepada kita untuk menjaga kebugaran hati, dan memberi taufik kepada hati kita semua untuk melakukan banyak kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.

 

Hadirin yang dirahmati Allah…

Ada beberapa hal yang dapat menghidupkan hati dan menjadikannya lebih bugar, yang utama adalah sebagai berikut;

 

Pertama : Mujahadah

Bermujahadah dalam arti berupaya keras untuk menjaga kebugaran hati agar tetap dalam jalur kebenaran, dan upaya ini mesti dilakukan terus-menerus. Sehingga Ibnu Al-Munkadir, salah seorang ulama di masa tabi`in mengatakan, “Aku telah berusaha keras untuk mendidik jiwaku, baru setelah 40 tahun aku merasa bisa beristiqamah“. Memang, sebagai hamba kita perlu melakukan upaya ini karena iman itu naik turun dan hati itu sering tidak stabil.

 

Abu Hafsh An-Naisaburiy mengatakan, “Selama 20 tahun  aku berupaya menjaga hatiku kemudian hatiku menjaga diriu selama 20 tahun”. Jika hati ini telah mampu beristiqamah ia akan mudah melawan jebakan dan rayuan syetan, ringan baginya menghadapi godaan itu, namun jika hati belum beristiqamah perlawanan terhadap rayuan itu akan terasa berat. Jika hati itu sangat kuat, bahkan dialah yang akan menjaga pemiliknya dari prilaku buruk.

 

 Kedua : Banyak Melakukan Dzikrul Maut

Hal ini dapat dilakukan dengan ziarah qubur, menjengukorang yang sakit keras, menemani orang yang sedang sakaratul maut.

 

 أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْت

“Perbanyaklah mengingat sesuuatu yang akan menghancurkan kelezatan, yakni kematian” (HR. Tirmidzi)

ketika seorang hamba senantiasa menyadari bahwa dirinya akan mati, dan dia tahu bahwa kamatian adalah awal perjalanan menuju akherat, maka  hatinya akan selalu sadar bahwa selama masih dimuka bumi ia ibarat orang yang sedang menyeberang jalan atau orang asing yang akan melanjutkan perjalanan, jadi bukan dunia tujuan akhirnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw ;

 

 كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرِ سَبِيْلٍ

“Posisikan dirimu di dunia ini bagai orang asing atau seperti orang yang sedang melintasi jalan” (HR. bukhari)

 

Ketiga : Kebersamaan dengan orang-orang Shalih yang senantiasa berdzikir kepada Allah

Hal lain yang tak kalah pentingnya dalam upaya membugarkan hati adalah tingginya intensitas kebersamaan dengan orang-orang shalih. Karena sesungguhnya ada orang-orang yang jika kita melihat mereka akan mengingatkan kita kepada Allah swt, hati kita seakan lebih bahagia dan menjadi lebih bersemangat, orang-orang seperti ini seperti memancarkan pengaruh baiknya kepada kita, semua itu karena hatinya yang bening dan jiwanya yang sangat bugar. Karena wajah adalah cerminan kondisi hati.

 

Pernah ada seseorang datang, dan Utsman bin Affan ra. Berkata,”adakah diantara kalian yang bermaksiat kepada Allaj dan kemudia menemuiku?” maka kali-laki tadi berkata, “Apakah ini wahyu setelah Rasulullah?maksunya adalah”Dari mana Engkau mengetahui hal ini? Maka ustman menyampaikan bahwa itu adalah firasat. Demikianlah, wajah itu mencerminkan kondisi hati seseorang, wajah itu menjadi gelap karena kegelapan hati dan bersinar karena cahaya hatinya.

 

Keempat : Selalu Menautkan Hati Kepada Ilahi

 

Ketika hati ini terpaut dengan makhluk maka hati tersebut akan sering tersakiti karena makhluk tersebut, apapun itu; laki-laki, perempuan, mobil, harta dan lain sebagainya. Jika hatinya tepaut kepada benda maka ketika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan maka sedih hatinya, mobil misalnya, karena keterpautan hati seseorang dengan mobilnya ketika lecet mobil itu, lama ia meratapi mobil kesayangannya. Lain jika hatiya terpaut pada Allah swt, dia hanya akan menaruh dunia walau melimpah hanya di tangan saja tidak di hati, karena hatinya untuk Sang Pencipta yang menciptakan dirinya dan apa yang dimilikinya.

 

Oleh karena itu Ibnul Qayyim mengatakan,”sesungguhnya dalam hati itu ada kedukaan yang hanya akan lenyap dengan kedekatan kepada Allah, ada kegundahan yang hanya akan sirna dengan bahagia bermakrifah kepada Allah, ada model kefakiran yang akan hilang hanya dengan jujur kembali berlindung kepada Allah, andai disupali dengan dunia seisinya tidak akan hulang kefakiran itu”

 

Kelima : Senantiasa beramal shalih dan mengarahkan hati sesui tujuan penciptannya.

 

 

Ibnu Abas mengatakan,”Dalam kebaikan amal shalih itu ada cahaya yang menerangi hati dan membuat wajah bersinar, ada kekuatan yang mengokohkan raga, ada penambahan rizki, dan dicintai makhluk. Dan pada keburukan amal menyisakan hitam di wajah, kegelapan di hati, cinta dunia, berkurangnya rizki dan kebencian dari makhluk”.

 

Maka dari itu menjadi sangat penting membuat hati senantiasa melakukan aktifitas batiniyyah yang baik dan di ridhai Allah swt.

 

Dan diatas semua itu, berdzikir kepada Allah dan membaca serta mentadaburi al-qura’an, punya pengaruh yang sangat besar untuk meningkatkan kebugaran hati..Demikian khutbah ini, semoga bermanfaat dan menjadikan hati-hati kita senantiasa bugar dalam kebenaran. Amien

BAGI
Artikel SebelumnyaKebugaran Jiwa-6
Artikel BerikutnyaBekerja dan Bekerja