Menghiasi Diri dengan Kedermawanan

0
44 views

kisah teladanAbbas bin Abdul Muthalib memiliki tiga orang anak, al-Fadlal, Ubaidillah dan Abdullah. Rasulullah saw amat bangga dengan ketiga anak itu sehingga Rasul sering mengajak mereka bermain, apalagi kepada Ubaidilllah.

Kekaguman Rasul dan para sahabatnya kepada Ubaidillah bin Abbas bukan hanya karena wajahnya yang tampan, tapi karena ilmunya yang luas, ibadatnya yang rajin dan kedermawanannya yang tiada terkira. Bila malam telah larut, salah satu kebiasaan Ubaidillah adalah keluar dari rumahnya sambil membawa beberapa karung tepung dengan diam-diam untuk dibagikan kepada fakir dan miskin.

Kedermawanan memang telah menghiasi diri Ubaidillah sehingga dia menjadi orang yang begitu mudah dalam membantu orang lain. Bahkan bila ada orang yang berbuat baik kepadanya, maka kebaikan itu dibalasnya dengan berlipat ganda, bahkan jauh lebih besar dari kebaikan orang yang diberikan kepadanya.

Suatu ketika, Ubaidillah melakukan perjalanan jauh bersama seorang pembantunya. Di tengah perjalanan, dia melewati gubuk milik seorang Badui. Melihat orang yang selama ini begitu dihormati melewati rumahnya, orang Badui itu juga sangat memberikan penghormatan, apalagi Ubaidillah bersedia mampir di rumahnya yang sangat sederhana itu.

Kedatangan tamu terhormat, membuat orang Badui itu merasa harus membalas penghormatan itu dengan suguhan yang baik. Kepada isterinya, orang Badui itu bertanya: “Adakah sesuatu yang bisa kita hidangkan untuk tamu kita yang terhormat ini?”. “Kita tidak memiliki apa-apa kecuali seekor kambing kecil yang susunya untuk kebutuhan makan anak kita”, jawab sang isteri. “Kita harus menyembelihnya untuk hidangan tamu kita itu”, tegas sang suami. “Adakah kamu akan membunuh anakmu?”, tanya sang isteri.

Tanpa menjawab pertanyaan sang isteri, orang Badui itu menyembelih satu-satunya kambing yang dimilikinya, setelah itu dia berkata kepada isterinya: “Jangan kamu bangunkan anak kita, kalau bangun dia akan tangisi perlakuan ayahnya”.

Kambing itu selanjutnya dimasak lalu dihidangkan pada tamunya. Ternyata, apa yang dibicarakan oleh suami isteri itu didengar pula oleh Ubaidillah.

Setelah hidangan itu dia nikmati dengan lezatnya, Ubaidillah bertanya kepada pembantunya: “Berapa jumlah uang yang kamu bawa?” “Ada 500 dinar untuk persediaan makanmu dalam perjalanan”, jawab pembantunya. “Berikan uang itu kepadanya”, pinta Ubaidillah. “Apakah kamu akan memberikan uang 500 dinar hanya karena dia menyembelih seekor kambing yang harganya 5 dinar?” tanya pembantunya. “Demi Allah, dia ternyata lebih murah hati dan dermawan dari pada kita, karena kita hanya memberi sebagian dari apa yang kita miliki sementara dia memberi semua yang dimilikinya”, bahkan dia lebih mengutamakan diri kita dari pada anaknya”, jawab Ubaidillah.

Begitulah salah satu contoh kedermawanan Ubaidillah yang menghiasi dirinya sehingga di akhir hayatnya dia menghadap Allah swt dengan hati yang tenang dan wajah yang memancarkan keikhlasan.

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita ambil adalah:

1.  Setiap orang harus berusaha membentuk karakter anggota keluarga dengan kepribadian yang mulia seperti kedermawanan.

2.   Tamu harus dihormati dan salah satu menghormatinya adalah memberikan hidangan yang nikmat.