Mengharmonikan antara Khauf dan Raja’

0
44 views

Ma`asyiral Mukminin Rahimakumullah..

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah… 

”Seorang hamba dalam perjalanannya menuju Allah swt, bagaikan seekor burung yang terbang dengan kedua sayapnya. Jika kedua sayapnya menggerpak  seimbang maka burung itu dapat terbang dengan sempurna, namun jika salah satunya tidak berfungsi, maka tentunya burung itu tidak akan bisa terbang, kalaupun dia memaksa terbang maka akan terjatuh, dan sangat mungkin dia akan binasa”. Demikianlah intisari penggambaran seorang ulama salaf. Jama’ah sekalian, kedua sayap itu adalah rasa khauf dan Raja’. 

 Raja’ secara bahasa berarti perasaan gembira menanti atau mengharap apa yang disuka. Dalam istilah syariat, Raja’ adalah perasaan gembira akan karunia Allah swt dan berharap mendapatkan peberian-Nya, disertai dengan sikap percaya akan kebaikan Allah swt. Dengan sikap raja’ ini hati kan terbimbing melangkah sampai negeri yang diidam-idamkan yaitu syurga Allah swt. 

Sedangkan khauf secara bahasa berarti takut dan khawatir. Kata ini digunakan baik dalam hal yang bersifat duniawi ataupun ukhrawi, khauf berarti kekhawatiran akan datangnya suatu hal yang tidak disenangi, seperti kekhawatiran akan hilangnya sesuatu yang disenangi dan kecemasan akan tertimpa sesuatu yang dibenci.

Dalam hal ini Ibnu Qudamah menyatakan, ”Ketahuilah sesungguhnya ’Khouf’ adalah ungkapan kecemasan atau kekhawatiran jiwa karena mengetahui akan terjadinya sesuatu yang tidak disenangi dimasa yang akan datang.” Maka seseorang yang sedang berharap meraih pahala dan syurga Allah swt berarti rasa ’Raja’ dalam dirinya sedang berperan, dan ketika seseorang khawatir kesalahan dan dosanya tidak terampuni dan dimasukkan kedalam neraka, saat itulah rasa ’Khauf’ dalam dirinya sedang berperan. Memang kedua rasa ini harus senantiasa ada dalam jiwa seorang hamba, rasa harap dan cemas. 

Hadirin Rahimakumullah…

Kedua rasa ini adalah obat bagi jiwa manusia, obat yang bisa membugarkan dirinya dalam melakukan perjalanan menuju harapannya, harapan yang digantungkan kepada Allah swt, Penciptanya yang menjanjikan syurga dan memberi ancaman neraka.  Orang yang didominasi oleh rasa putus asa dan kehilangan semangat, sehingga ia meninggalkan ibadah dan menganggap dirinya tidak berguna, sebagaimana kadang kita mendengar ungkapan, ”Ah.. sudah kepalang basah, nyebur saja sekalian”, atau ungkapan lain,”Aku ini terlalu kotor, tak layak bersama mereka orang-orang shalih itu”, atau ”Aku sudah terlalu banyak berdosa, barangkali Tuhan pun takkan berkenan mengampuni dosa-dosaku yang terlalu banyak ini”, orang seperti ini memerlukan terapi ’Raja”. 

Memang syetan akan terus berupaya membuat seseorang yang pernah bersalah untuk terkungkung dalam kesalahannya dan tidak keluar dari kubangan dosa, baik dengan membuat pelakunya semakin menikmati dosa tersebut atau membuatnya jadi merasa tidak pantas dan tidak layak menjadi baik.  Kepada mereka orang-orang yang berputus asa dari harapan ini Allah swt berfirman;

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS. Az-Zumar/39 : 53) 

Sedangkan orang yang didominasi perasaan terlalu percaya diri bahwa dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya Allah swt pasti akan mengampuni dirinya dan dengan amalan yang selama ini dilakukanya pasti ia meraih syurga. Orang yang berperasaan seperti ini akan mudah melakukan dosa karena dia merasa pasti diampuni, mudah melakukan dosa kecil dan mengulangnya karena dia menyepelekannya, pribadi seperti ini terancam meninggal dalam su’ul khatimah-na`udzaubillahi min dzalik- maka yang seperti ini membutuhkan terapi ‘Khauf.  

Dalam hal ini Ibnu Qudamah berkata,”Ketauhilah ‘Khauf’ itu adalah cemeti Allah swt yang digunakan untuk membimbing hamba-hamba-Nya agar mereka senantiasa mencari ilmu dan beramal. Karena dengan ilmu dan amal, setiap hamba dapat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Dan rasa ’Khauf’ adalah pelita yang digunakan untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.” 

Memang dalam banyak kasus, perasaan takut kepada Allah swt mampu membuat para tawanan hawa nafsu  yang memudarkan semangat beribadah itu terbebas dari perbudakannya, membangunkan orang lalai yang berselimutkan  nafsu, menyadarkan pendurhaka orang tua dari kemaksiantanya, menggugah orang yang tertipu dari tidur panjangnya, mencucurkan air mata hamba karena takut akan siksa-Nya, demikian betapa agung dan pentingnya peran rasa ’Khauf’ bagi seorang hamba.Dalam salah satu do’a yang dicontohkan Rasulullah saw dan sering kita melantu

nkanya atau minimal meng’aminkanya adalah sebagi berikut ;

 اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَصِيكَ

“Ya Allah, berikanlah kepadaku rasa takut kepada-Mu yang akan mebatasi diriku dari bermaksiyat kepada-Mu”(HR. Tirmidzi) 

”Ya Allah, sesunguhnya hamba meminta-Mu agar selalu takut kepada-Mu dikala sendiri maupun tidak.” 

Hadirin Yang Dirahmati Allah…

Kapankah seseorang benar dikatakan memiliki sifat ‘Raja’ ?Sesungguhnya berharap dengan ‘Raja’ bukanlah angan-angan kosong belaka, ‘Raja’ itu dikatakan benar selama seorang hamba menanti dan mengharapkan apa yang diinginkan disertai dengan melakukan ikhtiar. Oleh karena itu, manusia dianjurkan mengerahkan segala daya dan upayanya untuk menjalankan perintah agama, kemudian berharap karunia Allah agar senantiasa teguh dan tidak tersesat hingga tiba waktunya berjumpa dengan Sang Pencipta dengan penuh keridhaan.

Allah swt menggambarkan perkataan orang kafir yang berharap namun tidak dengan upaya;

  وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي َلأَََجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا

“Dan jika sekiranya Aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti Aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. (QS. Al-Kahfi/18 : 36) 

Ahmad bin `Ashim ketika ditanya tentang ciri orang yang memiliki Raja’, beliau menjawab,”Yaitu orang yang ketika diliputi kebaikan, ia terilhami untuk bersyukur sambil berharab kenikmatan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akherat, serta terpenuhinya pengampunan di akherat kelak”.  

Demikianlah, seeorang yang benar Raja'(berharap) syurga, maka ia akan berusaha keras melakukan aktifitas yang dapat menghantarkan dirinya menuju yang syurga Allah ta`ala. Adapun orang yang benar memiliki rasa Khauf, maka ia akan senantiasa takut kepada Allah swt, rasa takut seperti ini adalah ibadah hati yang juga senantiasa bersemayam dalam jiwa Rasulullah saw. , sehingga jiwa beliau menjauh dari perkara-perkara yang diharamkan dan dibenci Allah swt

 قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ  مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ 

“Katakanlah: “Sesungguhnya Aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika Aku mendurhakai Tuhanku.” Barang siapa yang dijauhkan azab dari padanya pada hari itu, Maka sungguh Allah Telah memberikan rahmat kepadanya. dan Itulah keberuntungan yang nyata.” (QS. Al-An`am : 15-16) 

Demikianlah, Rasulullah saja masih diminta Allah swt untuk memiliki rasa ‘Khauf yang tinggi, maka kita sesungguhnya jauh lebih membutuhkan untuk memiliki rasa tersebut. 

Hadirin sekalian, Jama`ah shalat jum`ah yang dirahmati Allah..

Tidak ada cara lain agar kita bisa mengarungi perjalanan menuju Allah swt, agar selamat di perjalanan, agar apa yang kita pinta dikabulkan –fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah– mesti kita harmonikan antara rasa ‘Khauf dan Raja’. Maka ketika kita sedang menunaikah kewajiban, satu sisi kita Raja’, berharap amalan kita diterima namun kita juga khauf, jangan-jangan Allah swt tidak menerima amalan kita, mungkin karena kurang ikhlas atau mungkin tidak maksimal kita malakukannya.

Begitupula ketika kita sedang terjebak rayuan syetan sehingga melakukan keburukan, maka perasaan khauf harus hadir dalam hati kita, khawatir akan siksa-Nya yang pedih, takut kalau dosa itu tidak diampuni, oleh karenanya kita akan serius melakukan pertaubatan, namun disaat yang sama kita tetap berharap rahmat Allah swt yang sangat mungkin mengampuni kesalahan kita. 

Marilah kita renungkan kalimat Ali r.a , “Sesungguhnya orang yang ‘alim adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa akan rahmat Allah dan tidak membuat mereka merasa aman dari siksaan Allah”.

Dan Yahya bin Muadz berkata, “Diantara ketertipuan yang paling besar adalah terus menerus berbuat dosa sambil berharap ampunan tapi tanpa penyesalan, mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya, menanam benih neraka tapi mengharap panen syurga, ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat kebaikan”.

Semoga bermanfaat untuk kita semua,  Wallahu a`lam…..