Menggapai Kesayangan Langit

0
9 views

Mukaddimah

Salah satu kebutuhan asasi manusia adalah kebutuhan untuk dihargai dan disayangi. Orang yang kering dari kasih sayang maka kemungkinan besar hidupnya akan kering pula dari kebahagiaan. Mengapa demikian? Sebab manusia lahir ke dunia ini karena kasih sayang. Alam pertama yang dihuni oleh seorang manusia adalah rahim ibunya. Penggunaan kata rahim, yang seakar dengan kata ‘rahmah’ tentu bukan sesuatu yang kebetulan. Terdapat jalinan kasih sayang yang kuat antara seorang Ibu dengan anak yang dikandungnya. Karena itu, seorang ibu akan lebih sayang kepada anaknya daripada suaminya. Demikian pula seorang anak akan lebih sayang kepada ibunya daripada bapaknya. Hal demikian pula ditunjukkan dalam perilaku hewan misalnya, yang mati-matian melindungi anaknya dari setiap gangguan.

Satu Banding Sembilan Puluh Sembilan

myblog.themarkusap.comDi luar itu semua, apa yang dianggap sebagai kasih sayang di dunia ini, sejatinya hanyalah 1 % dari kasih sayang yang disiapkan Allah di luar dunia ini. Nabi bersabda:

إِنَّ الله خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً

Sesungguhnya Allah ketika menciptakan kasih sayang, Dia menciptakannya 100 bagian. Disimpan-Nya 99 bagian di sisi-Nya, dan Dia memberikan untuk untuk seluruh makhluk-Nya satu bagian. (HR. Thabrani)

Sulit membayangkan betapa sepeser (satu persen) kasih sayang yang beredar di dunia ini; yang dibagi oleh sekian ibu yang menyayangi anaknya, kakek nenek yang menyayangi cucunya, kasih sayang antara suami isteri, bahkan kesayangan ibu seekor semut kepada anaknya dan miliaran jenis makhluk hidup lainnya. Sulit pula bahkan mustahil diolah logika betapa besar ukuran dari 99 persen kasih sayang yang disimpan Allah untuk hamba-Nya di akhirat nanti.

Jika demikian, maka berharap untuk mendapatkan atau merasakan kasih sayang di akhirat sewajarnya menjadi target dan cita-cita dari seorang hamba. Bukan hanya karena besarnya wujud kasih sayang tersebut, tetapi juga karena kasih sayang yang dapat dirasakan di dunia ini begitu terbatas. Boleh saja pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang jalan dan kasih anak sepenggalan, namun belumlah tentu setiap anak akan merasakan kenikmatan kasih ibu tersebut. Bukankah tidak sedikit anak yang ditinggal mati atau ditinggal hidup oleh ibunya sendiri sejak kecil? Bukankah pula kasih sayang yang beredar di lingkungan kehidupan manusia tidak jarang disusupi oleh ketidakjujuran dan pengkhianatan? Jangan lagi kasih sayang yang diberikan oleh kolega-kolega politik di mana kasih sayang berimbang dengan kepentingan. Manakala kepentingan bertabrakan, sirna pulalah kasih sayangnya.

Menyayang di Bumi, Disayang di Langit

Dengan demikian, maka tumpuan harapan dari kehausan akan kasih sayang manusia hanya akan terpuaskan manakala dia mendapatkan lagi kasih sayang yang hakiki di akhirat kelak. Persoalannya adalah bagaiamana cara mendapatakan kasih sayang yang hakiki tersebut. Di sini patut direnungkan sebuah hadis Nabi saw., yang berbunyi:

“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ” ، وَوَقَعَ عِنْدَ الطَّبَرَانِيِّ : “مَنْ لَا يَرْحَمُ مَنْ فِي الْأَرْضِ لَا يَرْحَمُهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Siapa gerangan yang tidak menyayang maka dia tidak akan disayang.(HR. Bukhari). Siapa yang tidak menyayang apa yang ada di bumi maka dia tidak akan disayang oleh Siapa yang ada di langit (HR. Thabrani).

Jadi, cara dan upaya yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kasih sayang yang hakiki adalah dengan mengeluarkan modal berupa menyayangi siapa pun yang ada di bumi ketika hidup. Hadis di atas memposisikan diri sebagai hukum sebab akibat. Artinya, ketika seseorang tidak memiliki dan tidak mengusahakan menyayang ketika di bumi, maka jangan berharap dirinya akan mendapatkan kasih sayang di kehidupan berikutnya. Sebaliknya, siapapun yang telah mengusahakan dan menabur benih kasih sayang ketika hdupnya di dunia, maka patut dia berharap mendapatkan kasih sayang yang sejati di akhirat kelak.

Siapa yang Harus Disayang?

Lalu, siapakah yang harus disayangi di bumi ini? Apakah sebagian saja atau seluruhnya? Atau bolehkah seseorang menyayangi musuhnya? Bagaimana dengan adanya perintah Allah misalnya untuk memerangi orang-orang kafir? Argumen yang dapat dikemukakan adalah, benar bahwa seorang muslim diperintahkan memerangi orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin, akan tetapi dalam peperangan itu pun sesungguhnya ada rambu-rambu kasih yang tidak boleh dilanggar. Bukankah terdapat larangan untuk membunuh anak-anak dan wanita dalam perang tersebut. Bukankah pula tidak boleh merusak jenazah atau mencabik-cabiknya? Di luar itu, sesungguhnya perang dan pertempuran hanyalah sesuatu yang sangat darurat sekali untuk dilakukan. Dan pada masa sekarang ini, hampir-hampir tidak ada lagi alasan untuk berperang untuk atas nama agama. Yang ada hanyalah perang karena politik, balas dendam, permusuhan  yang tidak perlu, provokasi yang menyesatkan, dan lain-lain, yang tidak mendapatkan pembenaran dari sisi agama.

Salah satu penjelasan dari hadis tentang menyayangi apa yang di ada di bumi adalah keterangan dari Ibn Baththal yang mengatakan bahwa kasih sayang tersebut meliputi seluruh makhluk, baik mukmin, kafir, hewan dengan cara memberi makan, memberi minum, meringankan beban dan tidak menganiaya atau memusuhinya.

Bagaimana Cara Menyayangi?

Salah satu ciri pengamalan kasih sayang diperagakan oleh Nabi saw., Dalam sebuah hadis, Aisyah ra., bercerita sebagai berikut:

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ تُقَبِّلُوْنَ الصِّبْيَانَ ؟ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم ( أَو أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ )

“Seorang (Arab Badui) datang kepada Nabi dan berkata: Engkau menciumi anak kecil? Kami tidak mencium anak-anak! Maka Nabi saw., bersabda: Aku tidak bisa membuat kasih sayang dalam hatimu, jika Allah telah mencabutnya.” (HR. Muslim).

Hadis ini memberi gambaran bahwa kasih sayang diberikan kepada siapapun, termasuk anak-anak meski itu bukan anak sendiri. Tradisi yang menganggap remeh dan rendah orang-orang besar yang menunjukkan kasih sayang secara fisik (memeluk, menggendong, mencium) kepada anak kecil bukanlah tradisi yang harus dipetahankan. Bahkan hal tersebut bisa jadi adalah cerminan bahwa kasih sayang dalam hati telah dicabut oleh Allah, karena enggan menyayangi anak kecil.

Khatimah

Hendaknya seorang muslim, memelihara dan menumbuhkembangkan sikap dan sifat kasih sayang dalam dirinya, baik kepada dirinya sendiri, keluarga, orang lain, maupun kepada makhluk selain manusia. Kasih sayang yang menjadi bagian dari perilaku seseorang akan menghantarkannya untuk menggapai kasih sayang Allah yang Maha Kasih dan Maha Sayang.

Oleh Dr. Saifuddin Zuhri, M.Ag.