Mengenang Ramadhan

0
28 views

Jika seorang datang bertamu di kediaman kita sebelum zuhur lalu pulang setelah zuhur, barangkali tidak ada yang membekas di ingatan akan kahadirannya karena pendeknya waktu atau karena tidak adanya peristiwa yang cukup kuat untuk membekaskan kenangan. Agak berbeda jika tamu tersebut sempat bermalam satu atau dua malam. Bisa saja ada kisah yang terekam di kepala lalu teringat di waktu lain. Bayangkan jika tamu tersebut sempat tinggal selama sebulan penuh di kediaman kita. Bisa dipastikan akan banyak cerita, cengkrama, dan senda gurau. Apalagi jika sang tamu ternyata adalah orang yang berkepribadian menarik dan bahkan membawa segudang oleh-oleh. Setumpuk kenangan pun akan membekas lama.

Jika bulan Ramadhan diandaikan sebagai tamu yang datang dan tinggal sebulan penuh di rumah kita, kemungkinan besar ada setumpuk kenangan yang dijejakkannya di dinding ingatan. Kenangan dalam hal ini bisa berupa perjuangan menammatkan bacaan Al-Quran, Shalat Tarawih, sedekah, zakat, puasa, atau apapun itu.

Namun hingar bingar hari lebaran dan segala tetek bengeknya sering terlalu kuat dan bising hingga tidak ada lagi kenangan yang tersisa dari bulan Ramadhan selain ingatan tentang kolak, es campur, es kelapa, semur jengkol, hingga pasar kagetnya. Itupun masih harus tergerus oleh ingatan akan mudik dan segala romantikanya. Lalu kenangan apa yang masih tersisa dari Ramadhan?

Selalu penting untuk tetap mengenang Ramadhan, terutama tentang spirit ibadahnya yang sangat kuat. Kita tidak akan pernah menemukan bulan lain di mana umat Muslim begitu massif dan konsisten beribadah selain di bulan Ramadhan. Luar biasanya lagi, kondisi tersebut terjadi selama sebulan penuh. Ingatan seperti itu bisa menjadi bahan bakar untuk melawan hawa nafsu di luar bulan Ramadhan.

Pertanyaannya, adakah bulan Ramadhan yang baru berlalu cukup membekaskan kenangan di hati dan memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari? Bisa juga pertanyaannya dibalik, apakah bulan Ramadhan memang menginginkan dirinya untuk dikenang? Barangkali jawabannya, iya.

Kita tahu Ramadhan—jika diumpamakan tamu—datang dan bermalam di rumah kita selama sebulan dengan membawa oleh-oleh yang sangat banyak; pahala yang berlipat ganda, rahmat, ampunan, dan janji kebebasan dari api neraka. Dengan oleh-oleh sebanyak itu, seorang tamu cukup mempunyai modal untuk dikenang, bahkan untuk bertahun-tahun.

Lalu tanggal 1 Syawal datang dengan membawa kegembiraan puncak sebagai perayaan kemenangan dan kesempatan menyempurnakan hubungan baik dengan sesama manusia setelah sebulan penuh di bulan Ramadhan berkhusyuk-khusyuk hubungan dengan Tuhan. Di sini lebaran harus dipandang sebagai kelanjutan niscaya dari bulan Ramadhan karena jika tidak, lebaran adalah perayaan kemanangan dari apa? Perjuangan yang mana?

Tidak hanya sampai di situ, setelah Hari Raya usai, Ramadhan masih menyisakan ritual yang akan terus menghidupkan kenangan terhadapnya lewat puasa 6 hari di bulan Syawal. Mau tidak mau, sahur dan berbuka pada puasa bulan Syawal akan mengingatkan saat-saat puasa di bulan Ramadhan dan juga semangat yang dikandungnya.

Karena itu, sangat penting untuk terus mengenang Ramadhan, apalagi ternyata Ramadhan juga meminta untuk dikenang.[]

Oleh Abdul Muid Nawawi