Mengenal Lebih Dekat: Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal

0
35 views


Oleh: Mas’ud Halimin

Malam  itu, Kamis 21 Januari 2016, seperti biasa diadakan pengajian rutin Khataman al-Qur’an di rumah Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Pengajian yang dilaksanakan setiap malam Jum’at ini sudah berlangsung sejak Prof. Nasar masih menjabat sebagai PR IV UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selepas mengaji, dalam satu kesempatan, saya dan beberapa teman sempat berbincang-bincang ringan dengan Ustadz (begitu saya biasa memanggilnya).

Banyak hal yang kami bicarakan, sampai kemudian beliau memberitahu, sambil bertanya, “Kira-kira menurut kamu bagaimana, saya diminta menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal?”.Keesokan harinya, saya ditelepon bahwa siang itu, Jumat 22 Januari beliau akan dilantik sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.
Pertanyaan ini sebenarnya sudah tidak asing bagi saya, sebab beliau sudah pernah menyampaiakan bahwa beliau diminta untuk menjadi Imam Besar Istiqlal. Tapi sampai malam itu, beliau bahkan belum mengiyakan atau menolak permintaan tersebut. Dalam beberpoa kali perbincangan dengan Ustadz, beliau selalu menyampaikan bahwa Menjadi Imam Besar Istiqlal bukan hal ringan. Ada amanah yang besar di sana, sekaligus tanggung jawab yang besar untuk menjadikan Istiqlal sebagai Pusat Peradaban Islam Damai di Indonesia. Karena itulah, beliau sering mengatakan bahwa tugas Imam Besar Istiqlal itu sebaiknya diserahkan kepada tokoh yang mempunyai pengaruh yang besar pula agar bisa mengangkat posisi sentral Istiqlal sebagai pusat poerdaban Islam damai itu.

Sejujurnya, dengan kapasitas intelektual dan keulamaan yang melekat pada diri beliau, saya tidak meragukan sedikit pun kemampuan beliau untuk emnjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Pengalaman beliau menggerakkan Masjid At-Tin sehingga menjadi salah satu masjid yang besar di Jakarta adalah bukti nyata kemampuan beliau.

Menilik latar belakang dan pengalaman beliau selama berkarir, baik di lingkungan akademik, keorganisasian, maupun pemerintahan, rasanya beliau adalah figur yang tepat untuk memimpin Istiqlal. Meski banyak tuduhan-tuduhan miring tentang beliau yang menyebutnya sebagai liberal, pendukung syiah, dan sebagainya; tetapi sejauh pengenalan saya terhadap beliau, ia adalah sosok yang lembut, low profile, dan sangat tawadhu’. Bahkan mungkin lebih tepat jika dikatakan ia adalah seorang sufi.

Menampik Tuduhan

Saya tidak heran kalau ada segelintir orang atau kelompok yang menuduhnya sebagai liberal – meskipun sebenarnya yang lebih tepat adalah seorang moderat – sebab pemikiran beliau memang sangat terbuka. Sikap terbuka itu lahir dari pemahamannya yang luas terhadap ajaran agama, dan karakter pribadinya yang selalu bisa menerima dan diterima oleh sekian banyak kelompok dan aliran. Ia bukan saja disegani oleh tokoh-tokoh agama Islam, Prof. Nasar juga sangat dihormati oleh tokoh-tokoh agama lain. Semua itu menunjukkan keluwesan beliau dalam bersikap dan berpikir. Tentu saja tuduhan-tuduhan miring itu merupakan pemahaman yang sepihak dan sempit dari orang-orang yang melihat beliau secara parsial.

Disertasinya yang kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Argumentasi Kesetaraan Jender adalah alasan lain yang sering dimajukan untuk menuduh beliau sebagai tokoh liberal. Kalau saja, disertasi ini dibaca dengan jujur tanpa pretensi, maka orang akan menemukan bagaimana beliau dengan sangat argumentatif berusaha menjelaskan posisi perempuan pada posisi yang sangat terhormat, setelah sekian banyak pandangan negatif karena alasan-alasan mitos yang dialamatkan kepada kaum perempuan. Uraian-uraiannya yang lugas tapi luwes tidak saja menegaskan posisinya sebagai tokoh NU yang berpikiran moderat, tapi sekaligus memperlihatkan kedalaman pemahaman tafsir al-Qur’an yang melekat pada diri beliau.

Mengajarkan Tasawuf

Ada suasana batin yang lain yang ditampilkan oleh beliau, terutama dalam pengajian-pengajian yang diasuhnya. Sejak di Masjid Agung At-Tin, beliau mulai banyak mengajarkan tema-tema tasawuf di beberapa pengajian. Kesan itu semakin menguat manakala beliau mulai mengisi pengajian rutin di Masjid Agung Sunda Kelapa. Ihya Ulumuddin, Al-Hikam, Ibnu Arabi, adalah sebagian di antara materi-materi yang beliau sampaikan di Pengajian Sunda Kelapa yang sudah berlangsung tidak kurang dari sepuluh tahun itu. Bisa dibayangkan, bagaimana beliau mendalami tasawuf beriringan dengan penyampaian-penyampian beliau di pengajian yang selalu ramai diikuti oleh jamaah di Sunda Kelapa itu. Hal ini kemudian melekat kepada beliau sebagai pengajar tasawuf, yang pemikiran dan cara penyampaiannya banyak disukai oleh jamaah.

Dalam beberapa pertemuan, beliau sering mengungkapkan alasan mengapa beliau kemudian bertekun diri dalam mengajarkan tasawuf. Setidaknya saya menangkap dua alasan pokok. Pertama, ada satu ungkapan dari Imam Malik yang sering dikutip oleh beliau, “barangsiapa berfikih tanpa bertasawuf, maka ia fasiq, dan barangsiapa yang bertasawuf tanpa berfikih, maka ia zindiq; dan barang siapa yang melakukan keduanya, maka dialah yang benar”. Karena itu, menurut beliau tasawuf itu menjadi penting untuk dipelajari dan diamalkan. Kedua, Belajar tasawuf adalah belajar tentang hakikat ketuhanan, dan seringkali jika mempelajarinya tanpa kehati-hatian dan tanpa mursyid/pembimbing maka bisa salah dalam melangkah. Padahal pemahaman tentang Tuhan – atau dalam bahasa tasawuf sebagai ma’rifatullah – penting dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendekat kepada-Nya. Karena dua alasan itulah – setidaknya menurut pemahaman saya – yang mendorong beliau bertekun diri untuk mengajarkan tasawuf.

Harapan bagi Istiqlal

Selepas dilantik sebagai Imam Besar Istiqlal, Prof. Nasar mengemukakan empat misi yang akan dikedepankan dalam memimpin Masjid Istiqlal. Pertama, Istiqlal harus tampil sebagai simbol negara yang mencirikan ajaran Islam rahmatan lil alamin. Kedua, Istiqlal juga harus menjadi simbol persatuan dan kesatuan umat dari berbagai mazhab. Ketiga, Istiqlal juga harus tampil sebagai simbol toleransi antar umat beragama, apalagi Istiqlal berdampingan langsung dengan rumah ibadah umat yang lain. Keempat, Istiqlal perlu menjadi paru-paru spiritual Indonesia.

Empat misi yang disampaikan oleh Imam Besar Istiqlal yang baru menghadirkan harapan baru pula bahwa Wajah Islam Indonesia ke depan akan tampil sebagai agama yang damai dan toleran. Dalam sejarah peradaban Islam, masjid selalu memegang peranan yang besar dalam perkembangan umat Islam. Maka menarik ditunggu bagaimana kiprah Imam Besar Istiqlal yang baru mampu menjadikan Masjid terbesar di Indonesia ini sebagai mercu suar perdamaian di Indonesia. []

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGI
Artikel SebelumnyaCahaya
Artikel BerikutnyaPeran dan Fungsi Imam