Mengapa Syariah

0
63 views

Secara sederhana, syariah dapat difahami sebagai seperangkat aturan-aturan yang diadopsi secara langsung dari makna teks al-Qur’an dan Hadis Nabi, atau merupakan penjabaran dan analogi dari pemahaman makna teks tersebut. Dengan demikian, setiap kali sesuatu disebutkan sebagai hukum atau aturan syariah, tentu dapat dirunut sumber pijakan (dalil)nya dari al-Qur’an maupun hadis Nabi.

Perbedaan kemudian terjadi, ketika makna-makna yang timbul dari teks-teks suci tersebut difahami secara berbeda. Ada pihak yang cenderung tekstual yakni berpegang secara dominan kepada makna terbatas teks, adapula yang cenderung kontekstual, yakni melihat kondisi sosial di mana teks itu muncul. Pebedaan ini kemudian mewarnai kancah syariah di Indonesia.

media-2.web.britannica.comDisadari atau tidak, semangat untuk bersyariah di Indonesia, hampir-hampir tidak pernah padam. Bermula sejak diperjuangkannya Piagam Jakarta –cikal bakal Pancasila-, disahkannya Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, sampai dengan disahkannya Undang-undang Pornografi. Masih dalam bentuk rancangan, didapati naskah Rancangan Undang-undang Hukum Pidana yang juga banyak mengadopsi hukum Islam atau syariah.

Beberapa kalangan yang berfikir dan bersikap moderat menilai bahwa semangat syariah yang tercermin dalam perundang-undangan Indonesia, sudah cukup memadai. Menurut mereka. Pengesahan hukum pedata yang berbasis syari’ah dalam bentuk Kompilasi Hukum Islam sudah mencerminkan warna syari’ah dalam hukukm Indonesia. Sementara, secara bertahap, dengan perjuangan yang sistemik, formil dan legal, akan diusahakan hukum-hukum syari’ah juga masuk dalam hukum pidana.

Di pihak lain, tidak sedikit umat Islam yang berfikir dan bersikap sedikit keras, menganggap bahwa hukum yang berlaku di negeri ini masih jauh dari wanra syari’ah. Mernurut mereka, dengan tidak masuknya syari’ah dalam hukum pidana, menjadi tanda jauhnya jarak antara hukum Islam dengan hukum nasional. Hal ini semakin nyata jika dikaitkan dengan bentuk pemerintahan dan sistem politik yang belum atau tidak menggunakan sistem khilafah. Mereka juga menginginkan agar simbol-simbol syaria’h dimunculkan ke permukaan, sehingga memberi warna nyata bahwa negara ini adalah betul sebagain negara Islam.

Tidak ada yang salah dalam kedua pemikiran ini. Yang dapat disalahkan adalah saat mendiskusikan dan memperjuangkan pendapat masing-masing justru mengabaikan prinsip-prinsip umum dari syariah itu sendiri. Sebagai contoh prinsip msyarawarah dan ukhuwwah terkadang justru terhilang oleh arogansi masing-masing yang merasa dan memaksakan pendapatnya sebagai kebenaran. Yang memungkinkan untuk disalahkan adalah mereka yang dengan mudah mengklaim pihak lain sebagai kafir dan murtad.

Sudah sewajarnya, muncul pihak-pihak yang berusaha mencari jalan tengah, cara damai dalam usaha memperjuangkan syariah Islam. Pihak ini bertugas mengkaji secara ilmiah, netral, proporsional, dan mendalam, atas syari’ah itu sendiri, hasilnya semoga menjadi pendapat alternatif (second opinion) yang mungkin dapat diterima oleh dua pihak yang sulit untuk berdamai. Bukan berarti pula harus mencari pendapat yang berbeda. Mungkin di suatu masalah, sependapat dengan pihak yang satu, sedangkan dalam masalah lainnya sepakat dengan pihak yang lain. 

Amat disadari bahwa, dalam lubuk hati terdalam seorang muslim, terdapat keinginan untuk melihat Islam dan syari’ah Islam berjaya di pelosok dunia ini. Namun ibarat menara gading, belum saatnya umat Islam –dengan kondisi seperti sekarang ini di mana dunia ada dalam dominasi Barat non muslim, memimpikan itu menjadi kenyataan dalam waktu yang singkat. Sikap terbaik saat ini adalah realistis. Menyadari dan mengakui kenyataan yang ada sekarang. Bahwa Umat Islam masih jauh tertinggal. Bahwa untuk mengejar ketertinggalan itu, dibutuhkan kajian terpadu, displin, berkesinambungan terhadap teks-teks suci sebagai hudan linnas ini.