Mengapa Bunuh Diri?

0
186 views

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Angka bunuh diri belakangan ini meningkat. Media massa beberapa kali menayangkan—dengan dingin, tanpa perasaan—peristiwa kematian yang diduga terjadi atas keinginan korbannya sendiri. Parahnya, bunuh diri itu seperti penyakit, bisa menular. Bukan hanya bunuh dirinya itu yang menular tapi juga caranya. Fenomena akhir-akhir ini menunjukkan bahwa mall atau pusat perbelanjaan menjadi tempat favorit para pencabut nyawa sendiri.

Hidup ini memang aneh. Ada yang begitu memuja hidup hingga tidak ingin dan tidak punya bayangan seandainya hidup ini pergi berganti kematian. Ada pula yang saking bencinya kepada hidup, ingin mencabut hidup itu, walau mungkin kematian juga bukan pilihan utamanya.

Kedua jenis orang ini memang kelihatannya berbeda, tetapi sebenarnya mereka sama. Sama dalam hal cara pandang terhadap dunia; sama-sama menganggap kehidupan adalah segalanya. Untuk orang jenis pertama, tentu mudah memahami bagaimana mereka menuhankan kehidupan dan lupa kematian. Tetapi orang jenis yang kedua bagaimana? Bukankah mereka melakukan bunuh diri karena benci kehidupan? Tidak. Justeru ada kemungkinan karena terlalu cinta kehidupan maka mereka bunuh diri.

Yang sering dianggap ada hubungannya dengan bunuh diri adalah depresi. Tulisan ini tentu bukan rujukan yang baik dalam hal membahas masalah depresi, tetapi mungkin boleh dikatakan bahwa depresi berawal dari kenyataan hidup yang tidak diharapkan atau mengecewakan. Kekecewaan yang terjadi sedemikian beratnya hingga kehidupan tempat kekecewaan itu terjadi hendak ditinggalkan. Apakah dengan demikian pelaku bunuh diri membenci kehidupan? Gambaran di atas menegaskan sebaliknya. Bagi pelaku bunuh diri, kehidupan adalah hal yang sangat dan paling penting sehingga jika kehidupan itu berlangsung cacat dan di luar harapan, maka harus diakhiri. Jika kemudian hilangnya hidup berdampak kematian, maka itu sekadar kosekuensi. Kematian bukanlah pilihan utama bagi pelaku bunuh diri.

Wilayah kematian adalah wilayah antah berantah. Yang menyediakan peta tentang dunia kematian bagi manusia hanya agama dan kepercayaan, sedangkan tidak satupun agama menghalalkan bunuh diri. Bagi agama, kehidupan bukanlah segalanya karena realitas mengandung kehidupan sekaligus kematian, bukan salah satunya saja. Seandainya para pelaku bunuh diri memberikan sedikit ruang bagi agama untuk memberi pandangan tentang kehidupannya, maka ada kemungkinan tragedi bunuh diri tidak terjadi. Berarti pelaku bunuh diri adalah pencinta kehidupan yang buta tentang kematian. Karena itu, sebenarnya mereka butuh teman. Derita mereka butuh didengarkan. Jika tidak, mengapa harus melakukannya di mall atau di tempat umum?

Ada juga kelompok orang yang merasa dunia kematian justeru adalah wilayah yang terang-benderang berdasarkan pengetahuan yang mereka temukan dari agama. Kelompok ini bahkan tidak sabar mendatangi dunia kematian dengan jalan bom bunuh diri karena sebuah ideologi. Mungkin kematian bukanlah masalah bagi orang-orang jenis ini. Kehidupan lah yang tidak jelas petanya di mata mereka. Mereka lupa, agama bukan hanya tentang kematian, tetapi juga tentang kehidupan.[]