Menerima Kritik Anak

0
49 views

Khalifah Umar bin Abdul Aziz merupakan salah seorang khalifah yang sangat berhasil dalam memimpin meskipun masa kepemimpinannya berlangsung sangat singkat, yakni tidak sampai tiga tahun. Salah satu keberhasilannya adalah karena dorongan dari anggota keluarga, khususnya dari salah satu dari lima belas anaknya yang bernama Abdul Malik.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah menerima jabatan sebagai khalifah, dia merasa perlu beristirahat karena kondisi badannya yang sudah amat lelah dan mata yang sudah amat ngantuk, apalagi ia baru saja mengurus keluarganya yang meninggal. Baru saja dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan meletakkan kepalanya di atas bantal, tiba-tiba datang Abdul Malik lalu berkata: “Ayah, apa yang akan ayah lakukan sekarang?”.

“Aku ingin istirahat sejenak anakku”, jawab Umar.

“Apakah ayah akan beristirahat, padahal ayah belum mengembalikan harta rakyat yang dirampas secara zalim kepada yang berhak?”.

“Aku akan lakukan semua itu nanti setelah zuhur, semalam aku tidak bisa tidur karena mengurus pamanmu”, jawab Umar.

“Ayah, siapa yang bisa memberi jaminan bahwa ayah akan tetap hidup sampai zuhur nanti?”. Tanya Abdul Malik lagi menghentak.

Mendengar pertanyaan anaknya itu, terbakar rasanya semangat Umar sehingga seperti hilang rasa ngantuk dan lelah yang dialaminya, lalu Umar berkata: “Nak…mendekatlah kepadaku”.

Setelah Abdul Malik mendekat, Umar mencium keningnya lalu berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku anak keturunan yang membantuku dalam agamaku”.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera bangkit dari tempat tidurnya dan iapun mengumumkan: “Barangsiapa yang hartanya telah diambil secara zalim, maka hendaklah ia mengangkat permasalahannya”.

Suatu ketika, Umar mengumpulkan para ulama untuk dimintai pendapat mereka tentang harta rakyat yang diambil secara zalim oleh penguasa terdahulu. Namun para ulama mengatakan bahwa hal itu bukanlah dosa Umar karena terjadi bukan pada masa pemerintahannya. Tentu saja Umar tidak puas dengan pendapat ulama itu, iapun merasa perlu bertanya kepada anaknya, Abdul Malik memberikan pendapat yang cemerlang kepadanya. “Saya berpendapat bahwa engkau harus mengembalikan harta itu kepada pemilikinya selama engkau mengetahui permasalahannya. Kalau engkau tidak melakukannya, berarti engkau terlibat bersama mereka yang telah mengambil harta itu secara zalim”.

Mendengar jawaban anaknya, Umar menjadi lega dan senang hatinya. Teguran, nasihat dan masukan yang baik dari siapapun dan dengan cara apapun disampaikannya merupakan hal yang amat penting untuk didengar oleh seorang pemimpin, bukan ia marah karena cara mengutarakan atau bahasa yang tidak sopan. Seorang pemimpin lebih mengutamakan isi pembicaraan daripada siapa yang bicara atau bagaimana cara ia berbicara.

 

            Dari kisah di atas, pelajaran yang kita peroleh adalah:

 

1.      Dalam melaksanakan tugas, anggota keluarga sangat penting untuk mendorong dan mengontrol agar tugas dikerjakan dengan baik. Karenanya ketika isteri dan anak mengktritisi, hal itu harus diterima dengan senang hati.

2.      Sebagai orang tua, bapak sangat penting untuk melibatkan anaknya dalam suatu urusan yang baik, tidak hanya agar anak itu mau berpendapat, tapi juga memahami persaoalan yang menjadi tanggungjawab orang tuanya.