Meneladani Sifat-sifat Tuhan

0
174 views

Bentar lagi kita puasa. Semua (? Atau orang mukmin) bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, karena itu berarti, kita dikarunia oleh Tuhan lagi panjang umur memasuki bulan yang penuh kesucian; dan yang paling penting, kita bisa bisa sampai di “jalan tol” yang membawa kita menuju ampunan dan derajat mulia di sisi Tuhan, menjadi orang muttaqin.

Puasa memang pada awalnya adalah tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan suami-istri di siang hari. Tetapi, sebenarnya ato pada hakekatnya, bukan itu pesan utama yang ingin disampaikan oleh ketentuan ibadah puasa ini. Yang terpenting dari ibadah ini adalah meneladani sifat-sifat Tuhan sehingga terpantul dari kepribadian kita.

Soalnya nih ya… tidak sedikit yang salah kaprah memahami puasa. Makan tidak, minum tidak, dan berhubungan seksual juga tidak di siang hari, tetapi, kata Nabi saw “dia tidak dapat apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga“. Aaah… yang seperti ini karena dia belum memahami hakekat ibadah puasa itu, yakni meneladani sifat-sifat Tuhan.

Dengan tidak makan dan tidak minum, orang yang berpuasa meneladani Tuhan yang tidak makan dan tidak minum, bahkan kalo mau lebih sempurna sekalian memberi makan, karena al-Qur’an memperkenalkan Allah seperti itu. Dia adalah: “Pencipta langit dan bumi, memberi makan dan tidak diberi makan” (Q.S. al-An’âm/6: 14). Dengan tidak melakukan hubungan seks, seorang yang sedang berpuasa meneladani Allah yang ditegaskan oleh al-Qur’an sebagai: “Tidak memiliki anak. Bagaimana Dia memiliki anak padahal Dia tidak memiliki teman (pasangan)” (Q.S. al-An’âm/6: 101).

Meneladani Allah yang Al-Rahmân (pelimpah kasih tanpa pilih kasih), orang yang berpuasa melatih diri memberi kasih kepada semua makhluk tanpa pilih kasih. Makanya, orang yang berpuasa itu dilarang berantem, bukan karena itu membatalkan puasanya, tetapi menghilangkan nilai puasanya. Nabi mengingatkan supaya kalau kita lagi puasa dan ada yang ngajakin berantem, katakan pada dia “sorry man, gue lagi puasa!”

Kalo kita meneladani sifat Allah al-‘afuww (Maha Pemaaf) maka seharusnya kita selalu bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka di dalam hati. Jangan sampai, lidah berkata, “Ok, lu gua maafin”, tetapi hati terbakar sambil berkata, “Awas lu! suatu saat gue balas sakit hati gue”. Kata maaf tidak sebatas terucap di lidah, tetapi ketulusan yang lahir dari dalam hati, itu yang penting.

Dengan meneladani sifat al-Karîm (Yang Maha Pemurah) seseorang akan menjadi sangat dermawan. Dengan meneladani sifat Tuhan yang Maha Adil, yang pertama kali dituntut dari orang yang berpuasa adalah menegakkan keadilan terhadap dirinya sendiri, dengan jalan meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama, bukan sebaliknya.

Demikian seterusnya, seorang yang berpuasa dan meneladani sifat-sifat Tuhan akan terpancar dari dirinya kebaikan-kebaikan sebagaimana kebaikan yang diberikan Tuhan kepadanya dalam batas-batas kemampuannya sebagai makhluk. Ketakwaan akan terpancar dari dirinya. Ia tidak hanya mampu membangun hubungan baik antara dirinya dan Tuhan yang ditunjukkan dengan ketaatan yang bertambah, tetapi juga dengan sesama makhluk Tuhan yang ditunjukkan dengan kebaikan dan kedermawanan. Bahkan kebaikan dan rasa adil terhadap dirinya dengan kemampuannya meletakkan syahwat dan amarahnya di bawah kendali akal dan agama.

Prof. Quraish Shihab mengutip Al-Hasan al-Bashri, menggambarkan keadaan orang yang meneladani Tuhan sehingga mencapai tingkat takwa yang sebenarnya dengan ungkapan:

“Anda akan menjumpai orang tersebut: teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampak wibawanya di depan umum, jelas syukurnya di kala beruntung, menonjol qana’ah (kepuasan)-nya dalam pembagian rezeki, senantiasa berhias walau pun miskin, selalu cermat, tidak boros walau kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina, tidak mengejek, tidak menghabiskan waktu dalam permainan, dan tidak berjalan membawa fitnah, disiplin dalam tugasnya, tinggi dedikasinya, serta terpelihara identitasnya, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain. Kalau ditegur ia menyesal, kalau bersalah ia istighfar, bila dimaki ia tersenyum sambil berkata, ‘jika makian Anda benar maka aku bermohon semoga Tuhan mengampuniku. Dan jika makian Anda keliru, maka aku bermohon semoga Tuhan mengampunimu'”.

Rasulullah saw, atas nama Tuhan, menggambarkan bahwa: “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada-Ku (Tuhan), hingga Aku mencintainya, dan bila Aku (Tuhan) mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, penglihatan-Ku yang digunakan untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan“. (Hadis Qudsi).

Hamba yang digambarkan dalam hadis di atas, memperoleh hal tersebut karena ia berusaha dan berhasil meneladani Tuhan di dalam sifat-sifat-Nya yang akhirnya terpantul indah dalam setiap gerak dan perilakunya. Wallâhu a’lam