Mendua

0
21 views

by Abd. Muid N.

Benarkah mendua itu adalah sesuatu yang nista dan layak dikubur? Atau mendua tidak lebih dari perbuatan yang sering dilakukan dan dinikmati bersama-sama secara diam-diam, namun di saat bersamaan dianggap najis di ruang publik?

Di sebuah waktu, sebuah negara tiba-tiba memecat menterinya hanya dua puluh hari setelah menteri itu dilantik. Alasannya, saya tidak tahu pasti, namun mungkin kerena menteri tersebut memiliki dua identitas kewarganegaraan atau memiliki identitas kewarganegaraan lain selain sebagai warga negera Indonesia, dalam hal ini, Amerika Serikat.

Banyak pertanyaan menyeruak. Mengapa persoalan seperti itu membuat hak seseorang untuk menjadi pejabat negara tercabut? Bukankah itu terasa tidak adil? Mengapa tidak sejak jauh waktu sebelumnya hal sepele seperti itu diantispasi oleh sebuah lembaga selevel negara? Serapuh itukah negara? Namun, apapun hasilnya, ternyata mendua itu memang sering berakhir pahit. Tidak hanya dalam hal mendua warga negara. Lalu lahirlah sebuah gelar yang agak mengganggu: menteri tersingkat dalam sejarah negara. Padahal bisa saja itu lebih merupakan kegagalan negara daripada kegagalan sang menteri.

Ada dua hal menarik yang mencuat dari fenomena ini. Pertama, keaslian itu—ternyata—penting. Kedua, mendua itu tidak baik, termasuk mendua kewargaan. Kedua hal itu menyatu pada: ukuran utama sebuah keaslian adalah ketidakmenduaan dan kemenduaan sama dengan atau tanda ketidakaslian. Kemenduaanlah yang membuat sang menteri dianggap tidak asli, dan karena itu, tidak sah menjabat menteri di negeri yang menganut keaslian atas dasar ketidakmenduaan.

Ada kemungkinan, mereka yang mengandaikan kemenduaan sebagai tanda ketidakaslian menganggap bahwa kemenduaan adalah pilihan, bukan sesuatu yang dari sononya. Benarkah? Bagi mereka yang menganggap kemenduaan memang dari sononya, tentu saja memandang keaslian tidak akan terganggu oleh hanya kemenduaan. Jika keaslian terganggu oleh kemenduaan, sedangkan kemenduaan adalah sesuatu yang sudah dari sononya, maka berarti ketidakaslian juga adalah sesuatu yang sudah dari sononya. Dan karena itu, ketidakaslian adalah sesuatu yang layak dimaklumi, bukan disalahkan. Bahkan mungkin, kemenduaan harus dihormati.

Lalu mana yang sesungguhnya lebih asli, apakah kemenduaan atau ketidakmenduaan? Layakkah kemenduaan dianggap ukuran keaslian?

Mengandaikan ada sesuatu yang asli dalam arti tidak mendua adalah sesuatu yang bisa dipahami dan dimaklumi. Seorang hanya layak disebut fans berat klub sepak bola PSM Makasssar jika seorang tersebut tidak menduakan PSM Makassar dengan Persija Jakarta, misalnya, atau dengan Persipura Jayapura. Sangat mudah dipahami.

Hanya saja, ada kemungkinan sesuatu yang asli dan tidak mendua itu hanya ada di dalam dunia ideal, tidak ada di alam nyata. Banyak yang fans berat PSM Makassar yang di saat bersamaan juga adalah penggemar Manchester United atau Arsenal. Atau fans berat PSM Makassar yang mengidolai Lionel Messi dan Jose Mourinho. Bukankah hal sedemikian banyak terjadi? Dan bukankah itu semacam kemenduaan atau bahkan lebih? Katakanlah ketidakmenduaan itu ada, tapi berapa banyak? Jangan-jangan ketidakmenduaan hanya ada di dalam khayal atau hanya bisa dijumpai sekali dalam beberapa abad. Jangan-jangan kemenduaan itulah yang asli. Itulah yang normal.

Memang layak mempertanyakan keaslian dan ukurannya adalah ketidakmenduaan. Namun ada baiknya keaslian tidak memberikan ukuran hanya pada itu semata. Jangan-jangan, yang asli adalah kemenduaan. Sedangkan ketidakmenduaan adalah bentuk lain dari keaslian. Lalu siapa yang tidak mendua?.[]