Mendidik Anak dengan Hadiah, Perlukah?

0
89 views

Dalam mendidik anak, orang tua sering mencari cara yang tepat agar anak berkembang dan berprestasi sesuai harapan mereka. Apalagi di tengah banyaknya pandangan bahwa prestasi anak adalah suksesnya orang tua mendidik anak mereka.

Banyak cara yang dilakukan orang tua untuk memotivasi anak agar meraih prestasi. Salah satu cara yang banyak dipilih orang tua adalah memberikan anak hadiah yang anak sukai. Mereka meganggap mengiming-imingi anak dengan hadiah akan membuat anak menjadi lebih bersemangat dalam mencapai prestasi tertentu.

Dalam Al-Qur’an pun  disebutkan bahwa Allah menjanjikan bagi siapa yang melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh memperjuangkannya maka ganjaran atau “hadiahnya” adalah pahala dan surga.  Ganjaran inilah yang mendorong orang mukmin siap berkorban dengan segala yang dimiliki. Dahulu, sahabat Anshar siap berbaiat dengan Rasulullah, bersedia membelanya dengan harta dan nyawa hanya karena Rasulullah menjamin mereka dengan ganjaran surga. Begitu juga orang tua, prinsip ini bisa juga diterapkan untuk mendorong anak-anak mereka melakukan kebaikan.

Sebenarnya, hadiah yang dapat diberikan kepada anak tidak harus berupa benda, tapi bisa berupa sikap dan ucapan/pujian. Memuji anak karena telah mendapatkan prestasi dalam kesehariannya atau melakukan hal yang positif mampu mendorongnya melakukan hal tersebut terus menerus. Seperti mengatakan bahwa sang ibu bangga dengan prestasi anak di sekolah yang akan memudahkannya menggapai cita-citanya. Atau memujinya karena ia rajin merapikan mainannya, seperti: “Ade hebat loh sudah bisa merapikan mainannya sendiri.” Apalagi pujian tersebut diucapkan di depan orang lain seperti kakek, nenek, atau teman-temannya. Sang anak akan berusaha terus menjadi anak yang rajin agar sesuai dengan apa yang telah orang tuanya katakan.

Ciuman kepada sang anak pun bisa menjadi hadiah yang sangat disenangi. Ciuman merupakan perwujudan rasa cinta dan penghargaan dari orang tua. Anak akan merasa dicintai dan dihargai karena kebaikan dan prestasi yang dia capai.

Jika memang orang tua ingin memberikan hadiah berupa barang, yang harus diperhatikan adalah tujuan memberikan hadiah  dan dampak setelah sang anak mendapat hadiah tersebut. Oleh karena itu, perlu dilihat juga kapan saat yang tepat untuk memberikan hadiah.

– Usia Bayi

Pada masa usia bayi, sang anak belum mengerti makna dan tujuan orang tua memberikan hadiah. Yang ia tahu adalah ia mendapat mainan  dan itu menyenangkan baginya. Oleh karena itu, tidak begitu penting ia dibelikan banyak mainan. Berikanlah sekadarnya saja sesuai kebutuhan pada tahap perkembangannya. Pilihlah yang mampu membuat sang anak bereksplorasi sehingga dapat mencerdaskannya.

Hadiah dalam bentuk pujian pun sebenarnya belum dipahaminya benar apa maknanya. Sang bayi belum mengerti kenapa ia disebut hebat, pintar , bagus, dan kata-kata pujian lainnya. Namun kata-kata ini penting pula dikenalkan sebagai kosa kata positif kepadanya.

– Usia Batita
Pada usia ini pemahaman batita terhadap hadiah masih minim sekali. Hadiah yang diberikan kepadanya cenderung harus yang betul-betul sesuai keinginannya dan yang menyenangkan hatinya. Tak heran jika sang anak kadang tak suka dengan hadiah dari orang tuanya jika tak sesuai bentuk ataupun warna kesukaannya. Hadiah dalam bentuk kata-kata pun tak perlu sering diucapkan berlebihan, karena bisa membuat si anak “gila” pujian dan tinggi hati. Anak akan marah jika tidak dipuji padahal sebelumnya ia mendapat pujian saat melakukan hal yang sama.

Oleh karena itu, jangan biasakan memberi hadiah tanpa ada maksud dan alasan yang jelas. Hadiah tak perlu mahal, yang penting dapat membantu meningkatkan kemampuan anak. Batasi pujian agar anak tidak tinggi hati, dan tegurlah bila berprilaku negatif. Porsi teguran dan pujian harus seimbang agar anak tahu mana perilaku yang sebaiknya diulangi dan mana yang tidak.

– Usia Balita & Pra-sekolah
Pada usia sekitar 4-6 tahun, kebanyakan pujian membuat anak tinggi hati. Ia menganggap dirinya yang terbaik, sementara anak lain tak ada apa-apanya. Saat masuk ke sebuah kelompok dengan kompetisi ketat, ia akan mudah frustasi karena label terbaik yang dimilikinya tak sesuai dengan kenyataan. Sedangkan pemberian hadiah yang kerap membuat anak tak tertantang untuk meningkatkan kemampuannya. Ia pun kurang bisa merawat/menjaga hadiah yang diberikan, apalagi jika dianggapnya kurang berharga.
Saat memberi hadiah, jelaskan kenapa hadiah itu diberikan. Minta ia menjaga dan merawatnya. Fokuslah terhadap pujian yang diucapkan. Contohnya saat menyebutnya sebagai anak pintar, harus jelas apakah ia pintar karena sudah bisa mengenal huruf, memainkan komputer, atau merangkai huruf. Beri juga motivasi agar anak meningkatkan kemampuan.

– Usia > 6 Tahun
Saat usia ini, anak mulai merasa terbebani oleh aneka pujian dan label positif yang sering diberikan. Sikap sok tahu dan menggurui juga kerap melekat padanya. Sementara hadiah yang berlebihan membuatnya gampang menyerah dan menghindari kerja keras. Ia akan kesulitan saat menemui hambatan-hambatan sekolah. Nantinya, bukan tak mungkin ia menganggap materi adalah segala-galanya. Ia senang kalau ada teman sering mentraktirnya. Segala sesuatu yang diberikan pun harus mendapat imbalan. Jika tidak, ia takkan memberi jasa. Jangan heran kalau ia tak mau disuruh membeli sesuatu di warung tanpa “ongkos kirim”.

Oleh karena itu, ada baiknya jika orang tua juga mengajarkan ganjaran/hadiah yang berhubungan dengan yang gaib, seperti ganjaran pahala dengan mengatakan: “Jika kamu berbuat baik, menjadi anak rajin, suka membantu orang yang memerlukan, maka Allah akan ridha padamu dan akan membalasmu dengan pahala yang besar.” Selain itu, orang tua pun bisa juga menjelaskan bahwa  apresiasi dari lingkungan sekitarnya  lebih besar dampaknya buat dirinya. Seperti jika ia berprestasi, ia akan lebih dihormati dan disegani oleh teman dan gurunya. Dengan demikian, orang tua  tidak melulu menghargai prestasi dan kebaikan yang ia lakukan lewat barang/benda. (Dari berbagai sumber)