Mendidik Anak Ala “Muslimah Karir”

0
55 views

alrai.comMuslimah  adalah cikal bakal pembentuk sebuah kehidupan yang Islami. Masyarakat yang Islami tak akan terbentuk tanpa adanya keluarga yang Islami. Begitu pula keluarga, tak mungkin terbentuk dengan baik tanpa adanya muslimah yang baik. Muslimah adalah pemegang tugas mulia yang akan melahirkan generasi perubahan yang didambakan melalui madrasah keluarga. Seorang penyair pernah berkata:

“Ibu adalah madrasah pertama. Bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan bangsa yang mulia.”

Namun, bagaimana jika sang muslimah tersebut aktif bekerja di luar rumah alias wanita karir? Belum lagi dengan peranannya sebagai istri yang juga harus mengurus suaminya.  Bahkan jika ia ingin “eksis” di lingkungan tempat tinggalnya, ia juga harus menyempatkan diri dan meluangkan waktu untuk bersosialisasi dengan tetangganya.  Dengan segudang kesibukannya itu, masih  bisakah ia “mengurus” buah hatinya dengan baik? Bagaimana pula ia bisa menanamkan nilai-nilai agama yang benar kepada sang anak dengan baik?

Banyak “muslimah karir” berpendapat bahwa kuantitas pertemuan mereka dengan si anak tidaklah menentukan baik tidaknya hubungan mereka, akan tetapi lebih kepada kualitasnya. Karena ibu bekerja tidak memungkinkan untuk selalu mendampingi anaknya setiap saat, maka waktu yang ada sering dimanfaatkan untuk menciptakan hubungan dengan anak yang berkualitas. Sebaliknya, banyak ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang di rumah, lebih banyak menghabiskan waktunya di depan televisi atau bahkan asyik mengobrol dengan tetangga mereka.

Kemudian, sebagai solusi dari ibu bekerja yang memiliki kekurangan waktu untuk mengurus anak mereka, biasanya mereka menggunakan jasa orang lain –pembantu rumah tangga, babysitter, saudara, atau orang tuanya, untuk membantunya mengurus anak. Tak heran jika sekarang banyak muncul istilah “anak nenek”, “anak bibi”, “anak mbak”, dan sebagainya.  Namun akibatnya, seringkali terjadi  perbedaan antara cara didik orang tua dengan pengasuh sang anak yang membuat si anak bingung.

Bagaimanapun juga ibu tetap memiliki tanggung jawab utama dalam hal mendidik anak. Tanggung jawab ini tak bisa digantikan oleh orang lain termasuk oleh pembantu rumah tangga. Pembantu rumah tangga hanyalah kepanjangan tangannya; artinya mereka hanyalah membantu dan bukan memegang peranan utama. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah komunikasi yang baik antara orang tua dengan sang pengasuh anaknya dalam hal mendidik anak.

Selanjutnya, mereka seringkali memiliki perasaan bersalah karena sering meninggalkan anaknya. Dan, perasaan bersalah ini seringkali ditutupi dengan cara memanjakan anak. Apapun keinginan anak selalu dituruti untuk menebus rasa bersalah itu. Padahal, cara seperti ini tidak dibenarkan karena di kemudian hari justru akan membentuk anak  menjadi pribadi yang lemah dan manja dan merasa apa-apa harus dituruti.

Dengan demikian, seorang “muslimah karir” harus memiliki trik dan tips khusus bagaimana mendidik anak dengan baik tanpa meninggalkan kebutuhannya bekerja yang juga dilakoninya demi membantu ekonomi keluarga. Komunikasi lewat telepon secara intens dengan anak yang bisa dilakukannya dari tempat kerja, misalnya. Atau  sekadar meninggalkan memo kecil kepada pengasuh yang berisi catatan kegiatan harian yang harus anak lakukan.

Yang penting, mereka harus banyak bertanya dan belajar dari pengalaman-pengalaman wanita lain yang juga sibuk beraktivitas di luar rumah namun berhasil mendidik anak mereka dengan baik. Mereka juga harus pintar mempertimbangkan apakah dengan bekerja di luar lebih mendatangkan maslahat  dibanding mudharatnya. Jangan sampai anak yang merupakan amanah dari Allah terlantarkan karena ketiadaan sang ibu di sisinya yang seharusnya mendidik dan membimbingnya pada masa perkembangannya.


BAGI
Artikel SebelumnyaKunci Ampunan Dosa
Artikel BerikutnyaMaulid